JAWARA

Misbahul Anwar
Karya Misbahul Anwar Kategori Budaya
dipublikasikan 20 Desember 2016
JAWARA

Mungkin banyak yang masih berfikir jika menjadi jawara adalah  dengan menjadi yang nomer satu dan berada di posisi yang paling tinggi. Dan di lain sisi juga jawara seringkali diasumsikan dengan seseorang yang selalu memenangkan sebuah kompetisi di setiap kesempatan. Tetapi kenyataannya seorang jawara bukanlah orang yang seperti diasumsikan oleh kebanyakan orang. Tetapi filosofi kata jawara sendiri artinya adalah lurus hening dan kata kerennya adalah ikhlas dan jujur, tetapi juga jawara itu tawadhu, sopan santun pada diri sendiri, orang lain, tetangga, dan lingkungan. Meskipun demikian jawara tetap memiliki sifat ksatria. Inilah jati diri seorang jawara sebenarnya. Seorang jawara selalu mengedepankan kesejahteraan bersama untuk kemajuan yang komunal. Jawara bukan sinonim dari individualis yang hanya mementingkan dirinya sendiri. 

Jawara tidak harus orang yang dengan gagah beraninya mengalahkan orang lain tampa merangkulnya kembali. Seorang jawara bangga akan jati dirinya, dia tidak menghilangkan identitas diri yang diwariskan oleh leluhurnya. Jawara bukan institusi-institusi yang memenangkan gugatannya dan membabat habis pohon-pohon berhektar-hektar luasnya bahkan berpura-pura tidak tahu akan dampaknya. Jawara bukan seseorang yang memiliki seabrek status yang prestisius dan gelar s1, s2, dan seterusnya, tetapi tidak memiliki andil yang penting dalam merubah peradaban lingkungannya ke arah yang lebih baik. 

Indonesia yang sudah memiliki jati dirinya sendiri sekarang sudah tidak segarang seperti saat mengusir penjajah. Jati diri yang dimilikinya sekarang sudah lambat laun ditinggalkan oleh pemiliknya. Dengan gagahnya mereka memilih menjadi orang lain dan secara sengaja mengubur dalam-dalam jati diri keindonesiaannya. Kenyataannya jati diri yang seringkali dibuang inilah yang sebenarnya adalah solusi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada. Sifat jawara sudah ada dalam jati diri Indonesia ; Budaya,Sejarah,Kekayaan Alam, Sumberdaya Manusia dan Keberagamannya. Tapi miris sekali,  karena sedikit  yang menyadarinya, meskipun banyak sekalipun  sedikit yang tergerak hatinya.

Dalam filosofi Sangga Buana dikatakan "Alam ini bukan warisan tetapi titipan untuk anak cucu".

  • view 370