Pria Tua dan Wanita Di Sana

ajjashjahja
Karya ajjashjahja  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Juli 2017
Pria Tua dan Wanita Di Sana

Ketika aku berada di sebuah beranda rumah yang menghadap ke laut yang tak terlihat batasnya, aku membayangkan ombak menghantam tubuhku dan menggulung-gulung diriku . Saat itu, aku tidak ingin mengingatmu lagi meskipun aku ingin.

Seorang pria bisa mencintai lebih dari satu wanita. Tapi, aku selalu ingin dimiliki satu orang saja. Dan aku memiliki hatinya begitu pula sebaliknya. Semesta menjadi sekecil bola mata. Dan aku berharap digulung-gulung di sana tanpa tahu caranya beralih ke mata lainnya.

Senja hari ini biasa saja. Seorang pria tua duduk  di depan rumahnya. Tapi ia tak ingin melihat lautan. Kata tetangga, ia dulu adalah nelayan yang handal sampai istrinya meninggal duluan. Saat itu, ia sedang mengarungi lautan dan mencari ikan-ikan. Tapi ketika sampai ke daratan dan mendengar kabar kepergian istrinya. Ia jadi menyalahkan lautan dan enggan menatapnya. Dan itu janjinya. Ia mengutuk lautan dan melarang siapapun anak dan cucunya untuk ke sana. Ia menderita. Kehilangan orang yang menggenapkan separuh hidupnya. Kehilangan orang yang menunjukkan hati wanita lebih susah ditaklukkan daripada gelombang lautan yang menggoyahkan perahunya. Ia telah lebih dalam daripada laut. Menenggelamkan dirinya ke dalam airmatanya yang sudah habis ditelan kebenciannya. Ia tak pernah menemukan permukaan kecuali kematian.

"Melaju angin, menghantam piring. Butir nasi terakhir lenyap, dan kau di kepalaku meluap ", pria itu terus mengucapkan sajak-sajak yang kacau dengan suaranya yang parau.

Aku melihatnya dari jauh. Aku takut. Takut sekali. Aku membayangkan diriku menjadi sisa makanan di piring yang berharap di makan seorang perempuan  berumur 23 tahun yang sering kutatap dari seberang jalan ketika ia sedang melamun sambil menunggu angkutan kota datang. Tapi, tak berguna. Aku basi sebelum ia menyadarinya.

Pria itu membuatku takut. Laut yang luas harusnya membuat hati menjadi bebas. Tapi kenapa pria itu membuatku ragu untuk menyelam ke dalam dirimu lebih dalam.

Aku ingat sajak yang akan ia baca sebelum matahari tenggelam. Ia katakan berulang-ulang.

"Pergilah menyeberang angan. Tapi, kenapa kau biarkan aku diam. Layar telah melebar. Tapi kenapa kau biarkan aku terdampar bersama pertanyaan-pertanyaan."

Beberapa hari kemudian, pria itu meninggal. Dan, aku tetap belum paham kenapa kau tak pernah menatapku meskipun kau tak sengaja melakukannya. Aku masih terdampar di  seberang jalan yang sama. Tempat kau menunggu angkutan kota.

  • view 93