Sekuntum Maaf

ajjashjahja
Karya ajjashjahja  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 Agustus 2016
Sekuntum Maaf

Seperti halnya mawar. Maaf pun indah. Ia tumbuh di atas lidah dan bibir yang subur. Terus tumbuh hingga rongga-rongga mulut terlalu semerbak untuk dicemari dengan umpatan. 

 

Ketika sekuntum maaf mekar. Maka, seorang wanita akan luluh karena seorang lelaki rela menyodorkan sekuntum maaf padanya tanpa basa-basi dan banyak alasan. lelaki itu membelinya dengan harga yang mahal di rumah tuhan. Meminta pengampunan, menghamburkan tetesan-tetesan hujan air mata agar dikuatkan memegang sekuntum maaf itu.

 

Bagi lelaki, meminta maaf duluan adalah kebanggan dan kelemahan. Bangga karena ia dengan dewasanya harus menjadikan dirinya yang paling bersalah di depan wanita yang dicintainya. Dan lemah karena sebagai lelaki, bermudah-mudahan meminta maaf adalah bentuk pelemahan sikapnya pada orang lain. Orang jadi mengiranya laki-laki yang tidak berani dan tegas.

 

Tapi, wanita terlalu egois untuk menerima sekuntum maaf itu dengan cuma-cuma. Sederet syarat ia cecarkan pada pria itu. Ia ingin dimanjakan dengan berbagai perihal yang membahagiakannya ; meminta makan malam bersama, ditraktir nonton bioskop, ditemani belanja ke mall, dan diantarkan ke salon.

 

Sekuntum maaf itu sejatinya sudah diterima dengan sebuncah rasa sayang yang perlahan hendak menjadi taman. Hanya saja, wanita itu selalu saja ingin menguji ketulusan lelaki itu. Itu saja.

 

"Yang, pokoknya nanti kalau liburan aku mau kita jalan-jalan ke pantai. Ke banyak pantai "

 

"Bukannya kamu lebih suka gunung-gunung yang menikam angkasa. Menembus awan, menjejerkannya setinggi matahari. Bukannya, begitu ? "

 

"Aku tahu, kamu suka pantai kan ?.... kalau aku hanya egois ingin dipahami, kenapa aku tidak perlahan memahamimu ?"

 

Begitulah. Sekuntum maaf tadi, sudah berpindah ke sepetak hati milik wanita itu. Tumbuh kuat dan semakin kuat. Kelak sekuntum maaf itu akan terus lahir dibawa anak-anak mereka.

  • view 334