Aku Tak Perlu Berulang Tahun untuk Mengingat Kematianku.

ajjashjahja
Karya ajjashjahja  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Juli 2016
Aku Tak Perlu Berulang Tahun untuk Mengingat Kematianku.

 

 

Aku membuka jendela kamarku di ulang tahun ke depan puluh tahunku. Pagi ini sudah berulang kali berubah, sejak aku menyadari pagi pertamaku di saat berumur tiga tahun. Diriku pun sama berubahnya. Dulu sekali, aku hanya seorang bayi perempuan yang manis. Kehadiranku, menghidupkan harapan ayah ibuku untuk terus bermimpi dan berjuang meneruskan kehidupan. Ketika aku beranjak dewasa, banyak lelaki yang mengagumi kecantikanku dan kelembutan perangaiku. Lalu, aku dinikahi seorang pria sederhana yang berprofesi sebagai guru agama di salah satu sekolah dasar Islam di kecamatan kami. Ia adalah suami hebat yang menyadarkanku arti hidup yang tidak pernah diterka. Perihal kematian yang tak pernah memandang usia. Perihal menua dan anak-anak yang kelak tak lagi bisa meramaikan setiap sudut rumah kita. Perihal kesendirian yang nantinya kita buat-buat, padahal kita ada di tengah-tengah percakapan manusia yang gegap gempita.

 

Setelah kematian suamiku, aku harus menikmat pagi dengan kesendirian. Kadang-kadang angin dan hujan pun turut ikut dalam percakapanku dengan kursi, meja, dan vas bunga di beranda rumah. Saat itu sampai sekarang aku masih bingung. Apakah aku sedang bersedih ataukah lupa dengan apa yang terjadi. Waktu yang sering dikira berjalan, ternyata berlari cepat membawa kita pada penuaan. Tak terasa sudah sepuluh tahun aku seperti ini. Hidup menjanda dan dibiarkan menikmati sunyi oleh anak-anakku. Air mataku sampai lupa kutaruh mana dan harus dijatuhkan lewat apa. Semua terasa hambar. Aku tak lagi bisa menggenggam setiap nasihat suamiku. Karena sejak hari pertama kami menikah, semua nasihat yang ia berikan padaku itu adalah tetap menjadi miliknya. Jadi, ketika ia tak ada lagi di sampingku, maka tak ada lagi tiang yang menegakakkan punggung bungkukku ketika aku kehilangan harapan.

 

Dan di setiap hari ulang tahunku, hampir tidak ada rindu yang harus dijadikan alasan untuk anak-anakku singgah atau hanya sekedar merebahkan tubuh di rumah ini. Mereka lebih memilih urusan kantor, keluarga, atau rekan bisnis ketimbang aku yang melewati waktu dengan ceceran sendu yang harus kuaduk sendiri dengan jari-jemari ringkihku. Atau kalau aku sudah jengkel, setelah magrib aku akan mengirimkan pesan ke setiap ponsel anakku. Menanyakan kabar mereka serta keluarganya. Begitu pun mereka seringkali tak sadar maksud pesanku. Aku biarkan saja. Suatu hari nanti, mereka akan sadar bahwa menjadi tua dan disingkirkan dari ingatan seseorang yang dicintai itu begitu menyayat hati. Serasa dibanting oleh takdir mereka yang lupa bahwa sejak malam pertama mereka di dunia, akulah yang membiarkan malam tetap menjadi pagi dan siang ; tubuhku tak pernah menemukan arti istirahat sebenarnya kecuali kematian.

 

 

 

 

 

  • view 268