Pembuktian Senja Ayah

ajjashjahja
Karya ajjashjahja  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Juli 2016
Pembuktian Senja Ayah

"Ayah, kenapa senja hanya seperti itu dari dulu. Tak pernah ia lekas merias diri. Padahal ia menua.  Bahkan lebih tua dari muka ayah yang kini sekeriput ubi jalar."

 

Begitulah pertanyaan paling awalku tentang senja kepada ayah di saat umur sembilan tahunku. Setiap dua bulan sekali ia akan mengajakku ke pantai atau gunung hanya untuk melihat matahari yang ingin tidur di balik selimut pegunungan, kapal-kapal nelayan dan samudra yang tak tertangkap pengelihatan. Lalu, ia lingkarkan lengannya di tungkak dan bahuku.

 

"Jas, lima belas tahun lagi datanglah ke tempat ini. Ajaklah kekasihmu menenggelamkan dirinya dalam semburat senja. Biarkan ia sendiri yang merasakan matahari sedang mendekapnya dengan hangat" bisik ayah.

 

Aku tidak tahu mengapa ayah begitu memuja senja. Tapi, aku telah terhipnotis kata-kata ayah. Jika tangis sudah tak bisa di bendung ujung mataku, aku sering kali melemparnya di ujung senja yang sendu. Membiarkannya tenggelam bersamanya hingga malam menggantikannya. Cukup mengobati. Aku yakin di luar sana, ada yang begitu mencintai senja. Menjadikannya obat juga sepertiku.

 

Umurku kini dua puluh empat tahun. Lima belas tahun sudah terlewati. Sesudah pertanyaanku perihal senja pertama kali. Sudah saatnya aku memenuhi janjiku pada ayah. Membawa kekasihku di hadapan senja. Membiarkannya dirituali oleh riuh manusia, cahaya-cahaya yang berkedip melalui kamera, juga pelukan mesra sejoli yang sedang jatuh cinta. 

 

Aku mengajaknya meraih pucuk gunung. Melakukan pendakian yang melelahkan rasa juga asa. Aku hampir saja ingin kembali ke rumah diam-diam dan menyelipkan pesan di bajunya. Namun, tak jadi aku lakukan. Aku ingin membuktikan perkataan ayah soal kehebatan senja pada kekasihku. Apakah mungkin senja bisa memalingkannya dariku?

 

Kakiku dan kaki kekasihku lecet. Ia hampir saja memakiku karena tak menggendongnya. Aku diam saja,sambil menggerutu dalam hati. Biarkan omelannya membedaki wajah dan membisingkan telinga.

 

 Tinggal seratus meter lagi kami sampai. Aku sudah terengah-engah. Memburu waktu yang kian dekat dengan senja. Menukar rasa sakit yang menjamah sekujur tubuh dengan senyum milik kekasihku. Senyumnya mampu menggotong tubuhku yang seok terlalu lemah.

 

Akhirnya kami sampai juga di puncak gunung. Duduk sejenak di  bawah pohon pinus. Menghela udara sedikit-sedikit. Mengembangkan paru-paru yang kian kempis. Beberapa saat kemudian, senja pun datang.

Membawa segenap cerita tadi siang tentang keluhan dan juga ejekan. 

 

Kekasihku tak mengalihkan tatapannya dari senja. Aku tak diacuhkannya. Aku cemburu pada senja. Aku duduk di sebelahnya,lalu menatapnya. Dia duduk di sebelahku, lalu menatap senja.

Kenapa harus senja yang membelah aku dan dirinya.

  • view 272