Nyayian Wanita Tua

ajjashjahja
Karya ajjashjahja  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Juli 2016
Nyayian Wanita Tua

 

Nyanyian Wanita Tua

Apakah kau pencicip gerimis dan penyesap deras? Apakah kau pengkhayal senja dan pelamun fajar ? Apakah kau justru girang di bawah mendung malam yang berteman dengan jerit kelu anjing kesedihan.

 

Bulan tampak setengah. Ia sedia membagikan setengah dirinya lagi di hati yang sedang menggelinjang parah didera gelap malam yang membisu. 

Seorang wanita tua yang sudah setengah abad tinggal di gubuk tua pinggir pantai itu, enggan pindah ke tempat yang lebih layak. Ke atas gunung dan bertetangga dengan berbagai macam umur. Ia rela hidup menyepi dari keramaian. Ikhlas dengan kesepian yang berujung pada kemarau yang menetap di rongga matanya. Tidak ada lagi air mata di sana. 

 

Suaminya sudah pergi setengah abad yang lalu. Berlayar ke antah berantah samudra. Menebas segala macam gelombang. Melepaskan diri dari jeratan kematian. Sudah berulang kali dia bisa kembali. Tapi, di hari senin,tanggal satu, bulan januari, saat itu purnama benar- benar meronta. Semburatnya bahkan membuat senyum tak mau surut menjadi cemberut. 

 

"Pulanglah dengan kembali kanda, jangan lupa doa dan wirid yang sudah kuselipkan di saku mantelmu" tutur wanita itu.

 

"Doamu sudah cukup untuk meluruhkan hati tuhan, adinda" tukas suaminya.

 

Seminggu setelah percakapan itu, suaminya tak kunjung tiba. Sebulan kemudian, masih tetap sama. Ia sampai bertanya-tanya  pada setiap nelayan yang baru selesai pulang menjala ikan di tengah lautan ; tak ada jawaban dari mereka. Setahun pun tak terasa, matanya sembab  karena sepanjang malam berdoa pada tuhan, memohon pulang suaminya ditukar dengan air matanya. Sampai air matanya kering,sampai tahun berulang tahun pun masih seperti itu juga. Suaminya masih belum kembali.

 

Hari ini, tanggal satu, di bulan januari. Setiap waktu itu, ia memperingati hari kepergian suaminya. Tapi, ia tak mau mengakui kematiannya. Karena mayatnya pun tak pernah hadir di hadapannya. Di malamnya ia akan duduk di bibir pantai, memainkan jemarinya di atas senar-senar gitar ; menyanyikan lagu kerinduan. Membiarkan debur ombak meninggi dan mengharmoni bersama suaranya dan petikan gitarnya.

                 *****

Masih malam saja.

Canda tawa di ayunan pohon kelapa.

Melesap di antara purnama dan gelombang samudra.

Layar perahu berkibar menyembunyikan sisa puntung rokok yang terbakar.

 

Denyut nadi mengirim pesan pada matahari.

Esok jangan lupa terbit tepat waktu.

Kokok ayam sudah menderu pertanda cuci muka dulu.

Biar pak petani tak telat memanggul cangkulnya.

Apalagi nelayan, yang berangkat malam-malam.

Ia bisa telat menjual ikan yang dijalanya.

 

Air laut berkilap.

Melagukan debur di atas petikan-petikan gitar wanita tua.

Ringkih, nyaris tanpa tegak tubuhnya.

Bungkuk, menunggu suaminya yang tak pernah pulang di ujung lautan.

 

  • view 180