Inginkah Aku menjadi Ayah ?

ajjash jahja
Karya ajjash jahja Kategori Lainnya
dipublikasikan 31 Mei 2016
Inginkah Aku menjadi Ayah ?

Sebenarnya sampai sekarang saya sendiri masih menyimpan pertanyaan ini di dalam kepala saya. Melihat umur saya yang masih belia 20 tahunan, males mikir aneh-aneh kayak gini. Kalau kata kakak saya yang penting fokus kuliah dulu.

 

Boro-boro jadi ayah, bertukar cincin, kecup kening istri dan berlabel suami saja belum. Nah itu dia, saya sendiri gak tahu ya kenapa tiba-tiba nikah muda menjadi semacam semangat kaum muda dan solusi atas maraknya pacaran. Saya sendiri pernah ngajukan kepada orangtua tentang nikah muda, dan jawabnya ya "ummi bakal ngizinin kamu kalau udah punya kerja". JLEEBB, padahal alasannya karena takut terjerumus ke sumur buaya yang ada apa-apanya, tapi tetap saja jawabannya tetap sama : tidak boleh. 

 

Realistis. Begitulah cara berpikir orangtua saya. Menjadi suami dan memiliki keluarga kecil itu bukan perkara mudah. Karena bagaimanapun kalau memang sudah memiliki pekerjaan jelas walau penghasilannya pas-pasan itu sudah cukup agar keluarga kita tetap bisa tercukupi walau sedikit.

 

Kita kembali lagi tentang menjadi ayah. Kalau biasa perempuan menulis dengan tema semisal biasanya tentang menjadi ibu dan seluk-beluknya. Karena saya laki-laki gak mungkin tema saya juga menjadi ibu kan ? Hehe. Ini hanya pengamatan saya kepada ayah saya dan juga ayah-ayah lain (secara tidak sengaja). Apa yang saya ceritakan bisa jadi berbeda-beda di setiap anak, tergantung bagaimana cara si ayah mendidik anaknya. Menjadi ayah itu harus memiliki hati yang besar, memaksa dirinya untuk memandirikan anaknya, merelakan kepergian anaknya suatu hari kelak, dan banyak lainnya lagi.

 

sebagian dari kita pun menginginkan ayah yang romantis ; memahami kita, mampu memberi solusi atas masalah kita, kadang memberi kejutan tak terduga. GAK SALAH. Saya setuju, tapi ada tipe ayah yang menyembunyikan rasa cintanya yang besar, tapi di suatu kondisi dia akan menunjukkannya. Contoh aja, antara saya dan juga ayah, ketika saya peluk beliau di acara doa bersama sebelum UN dan juga saat mengantar kepergian saya ke Sudan, air matanya keluar tanpa dipaksa, seolah rindu memang sudah ada bahkan sebelum jarak membelah tatapan-tatapan kita.

 

So,menjadi ayah itu tidak mudah.  Belajar mengendalikan emosi,menjadi tauladan yang baik, berusaha keras tidak terlihat lemah di hadapan keluarganya, dan tambahkan yang menurut kalian memang diperlukan. Karena saya sendiri belum merasakan jadi ayah, apalagi suami. Tapi, suatu hari kelak kita yang jomblo ini akan memimpin keluarganya sendiri-sendiri, dan apa salahnya untuk mempersiapkannya sejak saat ini.

  • view 102