Obrolan Jendela Maya

ajjashjahja
Karya ajjashjahja  Kategori Lainnya
dipublikasikan 09 Mei 2016
Obrolan Jendela Maya

Kamu : "siapa yang tahu namaku tertera bersama namamu di suatu hari. Siapa yang tahu senyumku terukir bersama senyummu di suatu hari nanti. 

 

Siapa yang tahu ?

 

'Suatu hari nanti' memberikan ruang bagi kita untuk menyelam lebih dalam.

 

 

Bagaimana takdir indahnya menghampiri kita.

Kapan melepas penantian yang penuh peluh.

Dan mengapa takdirNya menjadikan "kita" begitu merdu didengar.

 

Bukan, ini bukan sajak pengharapan.

Juga bukan pertanda aku seorang baperan.

 

Memang, semua tak melulu soal penantian.

 

Tapi....

 

Bukankah ini juga sebuah perjuangan ?

 

 

Aku : "Bukankah ini juga sebuah perjuangan ?

 

Ya, kamu benar.

 

Karena ini. Aku tak pernah bs membiarkan diriku takut untuk melawan masa depan. Aku tak pernah takut menerka, karena aku punya senjatanya ; perjuangan. 

 

Rasanya, aku benci dengan rindu yang coba membuatku terasa bodoh degan jatuh cinta. Tapi, ini sudah konsekwensi dari jatuh cinta. Di sana ada rindu, ada perjuangan dan ada tujuan. Dan doa tentunya"

 

Kamu : "Cinta itu menjaga, sedangkan terburu-buru itu nafsu" Kata Asma (Assalammualaikum Beijing). Sulit membedakan, apa ini nafsu untuk segera saling memiliki ataukah benar-benar murni sarana menuju CintaNya yang hakiki. Pengharapan cita-citaku jauh melambung, semua seperti magnet yang selalu merekat pada lawannya. Ini yang aku takutkan, terlalu mengejar (bahkan) jatuh terlalu dalam cinta akan dunia. Lalu menunda bahkan menunda kesempatan emas yang (mungkin) tidak menarik lagi (?)"

 

Aku : "Tetap tenang dan tersenyum menghadapi semua. Aku tahu ini berat untukmu, untuk itu aku tidak ingin menambahkan bebannya. Cukupkan rasa sukamu, dan gantungkan sisanya pada tuhanmu. 

 

Pada akhirnya, kesangatan cinta dan perjuangan akan kalah degan takdir. Untuk itu aku tidak pernah ingin memaksamu untuk menentukan pilihanmu kelak.

 

Ada filosofi cukup menarik yang kudapati di salah satu film indonesia. Kurang lebih kalimatnya seperti ini,

" setiap harapan tidak selalu terwujud, dan setiap ketakutan tidak selalu datang."

 

------------------------------------------

Aku dan kamu menutupnya dengan tawa lepas bersama.

 

  • view 160