Kedai Nestapa

ajjash jahja
Karya ajjash jahja Kategori Lainnya
dipublikasikan 15 April 2016
Kedai Nestapa

Entah atas dasar apa pemilik kedai memilih nama itu. Apakah masa lalunya yang diwarnai rupa-rupa duka, yang selalu membuatnya harus mampir di suatu kedai sambil memesan secangkir kopi. Lalu menyesapnya perlahan dan membiarkan pahitnya menyeruak di seluruh rongga mulutnya. Membuat sedih tak lagi terasa, membuat air mata tak lagi jatuh dari tempatnya. Sayangnya, ini hanya asumsiku. Karena setiap aku mampir ke kedai Nestapanya, selalu kulihat beberapa orang melamun dan membiarkan secangkir kopi di depan mereka menenggelamkan lara yang telah menggores hati mereka. Sendiri, melamun, mimik tak berekspresi, duduk di dekat jendela atau di pojok ruangan dan memesan kopi pahit dengan sedikit gula. Seolah nama kedai ini sengaja dibuat bagi orang-orang yang ingin menikmati kenestapaanya.

 

Di antara orang-orang yang tenggelam dalam kesedihannya, ada wanita muda yang setiap aku kemari ia selalu ku dapati sedang duduk sendiri di jendela dekat pintu masuk. Ia selalu memandang jalan raya dengan hilir mudik yang menjengahkan mata. Tapi, ia selalu memandang ke sana. Seolah membiarkan sedihnya di sambar sepeda motor atau mobil atau truk atau bahkan hanya sepeda ontel. Namanya adalah Sumbadra, seperti nama istri Arjuna di kisah perwayangan. Ia dilukiskan sebagai wanita yang sangat cantik, sederhana dalam berpenampilan, senyumnya menawan dan berpendirian teguh serta setia. Apakah mungkin karena namanya yang serupa dengan istri Arjuna yang berpendirian teguh serta setia, ia susah untuk meninggalkan dan melepaskan kenangan sedih yang menggelayuti hatinya. Tapi, kepada siapa ? kepada apa?. Ia hanya membiarkan kopi menelan dan melarutkan kenangan yang bahkan lebih pahit dari kepahitan kopi itu.

 

Aku kadang membayangkan nasib secangkir kopi yang harus memperpahit hidupnya. Mendengar tangis hati Sumbadra yang kasat mata. Memandang wajahnya yang tanpa daya. Yang disesap olehnya perlahan dan habis ketika matahari hampir terbenam di peraduan. Bayangkan takdir secangkir kopi itu. Ia hidup hanya untuk menemani kebimbangan, ketidakmampuan dan kesedihan. Tanpa ada tangisan. Hingga suatu sore yang bersenja penuh pesona, secangkir kopi itu berceloteh dengan luka dibalik sesapan, “ aku sudah letih menawan kenangan yang tiap hari dijejalkan kepadaku. Jika ku tahan lebih lama, aku akan bernasib lebih parah darinya”.

Sumbadra tak pernah kulihat menggerakkan bibirnya hanya untuk mencurahkan isi hatinya pada secangkir kopi itu. Ia lebih memilih diam dan menikmati keriuhan yang bahkan hanya sunyi di hadapannya. Kadang ia sampai tertidur bersandar dinding kaca di sebelahnya. Mimiknya pun tak berbeda dengan ketika ia bangun, hanya ekspresi datar tanpa asa. Tak nampak sorot mata yang mencoba menerka apa yang akan terjadi esok atau bahkan lebih dari itu. Tatapanya seolah berbicara ia hanya ingin secangkir kopi, duduk di samping jendela dekat pintu masuk dan di Kedai Nestapa. Ia hanya ingin melakukan itu di hari-hari dalam hidupnya.

 

Aku adalah lelaki muda yang begitu tertarik dengan kecengengan manusia. Kedai Nestapa, rasa pahit kopi yang mampu menyipitkan mata dan menggerenyitkan dahi, wanita muda tanpa ekspresi. Aku sudah mengamati semuanya setengah tahun ini. Namun, bukan berarti aku ingin menjadi pemuda yang matanya sembab oleh air mata atau bahkan meratapi kenangan buruk masa lalu. Setiap kali aku datang ke kedai ini, aku selalu duduk di belakang tepat tempat duduk Sumbadra. Mengamatinya membuat aku hampir sama tenggelamnya dengan dia. Untungnya, aku lupa kenangan apa yang membuatku pernah terjerembab dengan nasib sama sepertinya. Sehingga aku bisa cepat sadar ini hanyalah perasaanku yang terlalu terbawa suasana.

 

Jujur, aku selalu ingin menyapanya. Atau minimal bisa bertabarakan tak sengaja denganya. Dan membiarkan tumpahan kopi menodai bajuku. Kemudian ia mengambil tisu dan membersihkan bercaknya sambil berkata maaf. Aku selalu ingin melihat ekpresi wajahnya lebih dekat dan lebih dekat lagi. Aku begitu terobsesi dengan kenestapaan yang menderanya. Bisa dibilang aku ingin berbagi pundak menanggung rasa sakitnya dan menikmatinya. Aku selalu ingin menikmati rasa sakit yang disebabkan kenangan. Alasanku karena kopi yang pahit saja bisa dinikmati, kenapa kenangan buruk tidak bisa ?.

 

Aku sudah duduk di kedai ini tiga jam lebih. Memandanginya terus sampai tak sadar cangkirku sudah kosong. Aku memain-main kan kakiku. Meletakkan daguku di atas meja. Bosan. Hati ku tarik ulur antara menyapanya atau tidak. Degup jantungku pun tak berirama normal seperti biasanya. Bingung. Hal ini sering kali terjadi saat aku benar-benar ingin menyapa tapi terhalang ragu yang merocoki keyakinan hati. Pada akhirnya aku hanya bisa melenguh pasrah. Tapi, hari ini aku harus mencoba melangkah lebih maju dari posisi pengamat menjadi teman bercakap. Aku remas genggamanku lebih erat. Berdiri tegap dari tempat dudukku dan melangkahkan langkah kaki yang semakin berat oleh hati yang terlalu banyak menerka.

 

“Hai”, aku menepuk pundak Sumbadra. Ia tak menoleh melihatku. Masih asik tenggelam dalam lamunannya. Hingga tiga kali aku memanggilnya ia masih sama seperti sebelumnya.

“Sumbadra. Sumbadraa.!” aku berdiri di depannya sambil menekan-nekan pipinya.

“Si..siapa ya ?” jawabnya gagap. Lamunannya buyar karena sentuhan jariku di pipinya.

“Aku Arjuna. Mungkin kamu tak mengenaliku, tapi aku mengenalimu” balasku dengan senyum yang tulus.

 

Aku mengawali percakapan kami dengan berlempar senyum. Tapi, senyum Sumbadra terlihat dipaksakan. Seolah enggan meneruskan perbincangan denganku. Aku segera menyadari hal itu dan segera beranjak pulang. Namun, ia segera merengkuh telapak tanganku.

“ Bisakah kau menemani kesepianku esok hari ?” Matanya berbinar sesaat lalu sayup.

“Jam sembilan pagi. Di tempat yang sama. Jangan Lupa tersenyum” aku berdiri dan berjalan menuju parkiran.

 

Esok harinya. Ku rasa matahri berpihak padaku. Cahayanya menyemburat indah menembus kegugupan yang mendekap hatiku. Pakaian paling bagus ku kenakan. Minyak rambut tidak ketinggalan. Dan parfum, wajib digunakan. Dia mungkin baru mengenalku tapi aku sudah lama mengenalnya dalam bisu dan curian pandangku selama ini. Segera saja ku pacu sepeda motorku menembus kemacetan. Ketrampilan menyetirku yang lumayan membuat kemacetan hanya penghalang kecil bagiku. Sesampainya di depan Kedai, aku langsung masuk dan mencari tempat duduk Sumbadra biasanya. Namun, aku hanya mendapati secangkir kopi dan selembar kertas. Aku menghela nafas panjang lalu duduk dengan perlahan. Ku baca isi kertas itu dengan seksama.

 

Arjuna. Namamu Arjuna kan ? Semoga saja aku tidak salah menyebut namamu. Sesaplah kopi ini. Aku ingin kau tahu rindu dan sakit yang aku rasakan. Diriku sudah terlampau jauh tenggelam dalam bayang-bayang kesedihan. Hatiku sudah mati rasa. Mataku sudah lupa bagaimana meneteskan air mata. Biarlah seperti ini, jangan mencariku. Aku adalah kesedihan yang menderitakan. Kalau rindu tiba-tiba nakal menggelitik hatimu. Sesaplah kopi ini dan duduklah di tempat yang kau duduki saat ini.Rindu lebih berbahaya dari pada rasa pahit kopi. Biarkan setiap cangkir kopi yang kau minum melenyapkan rindumu padaku – Sumbadra

 

Aku termenung sejenak. Dan aku baru sadar kenapa aku begitu tertarik dengan kecengengan manusia. Dan kuat bertahan setengah tahun hanya untuk memuaskan ketertarikanku untuk mengamatinya. Karena dari awal aku sudah jatuh cinta dan rindu sejak melihat dirinya dan juga ekspresi kesedihannya.

 

Sumber foto majalah.ottencoffe.co.id

  • view 116