Lima Huruf

ajjashjahja
Karya ajjashjahja  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 April 2016
Lima Huruf

Masih ingatkah kau April tiga tahun lalu? Saat perjalanan jauh kita menimbun lelah di leher, pundak dan punggung kita. Kantuk pun membuat mata berkerjap kerjap, sehingga aku harus sering berhenti di pinggir jalan untuk menghela udara kotor dan segar bersamaan di jalanan pegunungan. Sepeda motor yang kita naiki tak sekuat motor lelaki, yang bunyi kenalpotnya mampu melunglaikan hati bidadari. Dia hanya sepeda motor tua biasa, tapi dengan adanya dirimu dia makin perkasa. Tanjakan dan turunan tak membuatnya terseok ditengah perjalanan.

 

Sesampainya ditempat tujuan aku mengajakmu berjalan kaki dari tempat parkiran. Sedikit menanjak tapi lemparan senyum kita dan tatapan malu-malu membuat perjalanan serasa singkat. Mungkin seperti semenit berjalan ; padahal kita berjalan sejauh setengah kilometer. 

 

Ada air terjun yang ingin aku pamerkan kepadamu. Dia hanya air terjun biasa. Tapi sepi dan hening tempatnya membuat hati tersangkut diantara celah air yang berjatuhan dari tebing. Membentuk harmoni bersama suara cuit burung yang menggema, dedaunan yang bergesekan dan  kecipak air yang turun menabrak bebatuan licin lalu tampias menuju sungai. Membuat aku ingin melengkapinya dengan dirimu.

 

Aku tahu berbahaya membawamu jauh dari rumahmu. Tak ada yang tahu kita kemana dan dimana. Hanya kita dan tuhan  saja. Tapi, aku tak tahu mengapa siang bolong waktu itu aku tiba-tiba mengetikkan beberapa kalimat  ajakan melalui pesan singkat dari telepon genggamku untuk membawamu merasakan alam yang sejuk jauh  dari hikuk pikuk kota yang melelahkan pikiran, pernafasan dan penglihatan. 

 

Aku tak tahu mengapa. Tapi, lamat-lamat aku sadari, ini mungkin hanya rindu. Rindu yang tak pernah mau menghilang sejak itu. Dia pergi sejenak namun kembali dan mendekam lama di bilik-bilik kosong hati. Seolah nyaman membersamai, tapi menggerogoti keyakinanku tentang jodoh yang tak usah diterka. Rindu itu teduh bertapa di kedalaman rasa. Asik menghipnotis juta-juta rasa yang seharusnya bisa kupilih dengan sekendak hati. RIndu itu berusaha menundukkan hati untuk memilih asal rindu itu tercipta. 

 

Ya, dia memaksaku memilihmu.

 

Namun, aku hanya bisa memohon pada sang pemilik rasa ; Tuhan.

 

Ada takdir yang harus aku tentukan dengan usaha, tekad dan doa. Sejatinya, ada yang lebih menyakitkan dari kehilanganmu. Yaitu saat  engkau berjalan jauh dariku dan aku terlambat merengkuh telapak tanganmu. Dan saat itu, aku gagal sebelum melangkahkan satu telapak kakiku.

 

Jadi, biarkan kerinduan ini mengantarkanku untuk berjuang  menuliskan namamu dalam catatan takdirku.

  • view 127