cinta, opini, hawa nafsu, dan keinginan

Ajeng Fajriani Puji Rahayu
Karya Ajeng Fajriani Puji Rahayu Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 03 November 2016
cinta, opini, hawa nafsu, dan keinginan

            Seorang sahabatku bertanya padaku tentang cinta. Aku pun diam, dan itulah jawabanku. Mengapa? Karena bagiku, cinta itu tak hanya bisa dijelaskan dengan kata-kata, ataupun sesuatu yang bisa dipecahkan dengan rumus matematika, seperti logaritma, aljabar, dan semacamnya. Cinta itu bagaikan sebuah opini. Tergantung bagaimana seseorang berfikir dengan sudut pandangnya, cinta tak akan memiliki arti yang sama bagi setiap orangnya.

Lalu, Aku pun bertanya padanya. Apa yang kamu mengerti tentang cinta? dia pun menjawab, “cinta itu ketulusan, cinta itu suci dan cinta itu kebahagiaan”

Dia mengartikan sebuah cinta dalam tiga kategori. Ketulusan, suci dan kebahagiaan.

Aku pun kembali bertanya, Apakah cinta membuatmu ingin memiliki orang yang kamu cintai?

“Iya”, jawabnya singkat.

Ku ukirkan senyumanku, lalu ku bertanya lagi “bukankah menurutmu cinta itu sebuah ketulusan? Lalu mengapa kamu menuntut untuk memilikinya? Bukankah sesuatu bisa dikatakan tulus, ketika kita tidak menuntut apapun seperti apa yang kita berikan? Jika ingin memilikinya, bukankah itu terkesan kamu meminta sesuatu padanya?”

“Cinta itu memang harus saling memiliki, Agar kita bisa saling menjaga dan bahagia bersama” Katanya kemudian.

Aku pun menanggapi jawabnya, “lalu, jika orang yang kamu cintai itu tak kamu miliki, apakah kamu bersedih?”

“tentu saja” jawabnya dengan nada yang lebih tinggi. “tidak ada satu orang pun di dunia ini yang tak bersedih jika cintannya bertepuk sebelah tangan” lanjutnya lagi.

Dengan ekspresiku yang tak berubah sedari tadi, ku jawab lagi pernyataannya “tadi katamu cinta itu kebahagiaan, tapi kenapa dengan cinta kamu masih merasa bersedih?”

“karena aku tak bisa memiliki orang yang Aku cintai” jawabnya kesal.

“kalau begitu, cintamu tidaklah tulus dan suci. Sehingga kebahagiaan tidak bisa kamu rasakan”

Kali ini dia diam, terlihat seperti memikirkan dan mencoba memahami sesuatu.

“lalu cinta macam apakah yang Aku rasakan ini?” sambungnya lagi.

“mungkin awalnya cintamu itu tulus, namun kamu tak bisa menjaga ketulusan itu. Sehingga hawa nafsu menguasai cinta mu, dan akhirnya cintamu tak lagi suci. Karena dua hal tersebut tidak lagi kamu miliki, makanya kamu tidak merasakan sebuah kebahagiaan ketika cinta yang kamu rasakan tidak bisa dirasakan oleh orang yang kamu cintai juga, atau dia bisa merasakan tapi tidak bisa membalas dan  kamu tidak bisa memiliki dirinya” jawabku cepat.

“lalu Aku harus bagaimana” jawabnya lemah

“Aku bukan dokter cintamu” nadaku ketus

Tidak ada lagi kata yang keluar dari mulutnya, raut wajahnya pun semakin putus asa.

Kuteguk ice lemon tea milikku yang sudah sedari tadi  menunggu kuteguk seluruh isinya. Kuperhatikan perubahan raut wajahnya. Baru kali ini ku lihat lelaki yang sudah ku kenal cukup lama ini terlihat seperti berfikir.

“okelah, akan Aku bantu. Tapi ini tentang sudut pandangku, bukan berarti semua orang sama. Ingat, aku ini limited edition.” kataku bangga, sambil menyondongkan mukaku ke hadapannya.

“hmm. Ya, limited edition. Karena produk gagal makannya jadi limited edition. Begitu kan maksudmu?balasnya tak mau kalah.

Karena malas berdebat dengannya, Aku coba mengalah walaupun tak ingin.

“Hmm.. Baiklah, mari kita mulai lagi. Ada yang bisa Saya bantu wahai lelaki muda yang sedang kehilangan arahnya?” kataku sambil menahan tawa.

“Apa katamu? Aku kehilangan arah? Sebegitu menyedihkannya kah diriku ini di matamu wahai wanita yang katanya limited edition?” lagi-lagi nadanya meninggi.

“iya benar. Aku selalu merasa iba terhadap mereka yang mengatas namakan segalanya dengan cinta. tapi mereka sendiri tidak mengerti cinta atau apakah yang mereka rasakan sebenarnya”

“Apa yang harus aku lakukan agar aku tahu yang kurasakan ini cinta atau apa?” jawabnya penuh antusias

“menurutku, mulailah dengan memahami dirimu sendiri”

“mengapa?” jawabnya bingung

“bagaimana kamu bisa memahami yang lain, kalau diri kamu sendiri saja gak bisa kamu fahami sendiri. Sama saja kaya kamu lagi sakit, tapi kamu ga tau sakit apa. Kalau kamu ga tahu sakit apa, apa kamu tau harus minum obat apa? Tidak bukan? Sebelum kita mulai mengambil langkah yang lain, bukankah kita harus benar-benar menetapkan langkah kita dulu? Jangan menyepelekan hal-hal yang terlihat kecil, mungkin terlihat kecil namun berdampak besar”

“tunggu, biar kufahami dulu kata-katamu” tuturnya bingung.

“oke, jadi maksudmu aku ceroboh?” lanjutnya lagi setelah beberapa saat terdiam

“bukan ceroboh, tapi kurang cermat” jawabku singkat

“aku bingung, yang ku tau aku menyayanginya” katanya yakin

“oh ya? Seyakin itu kah?”

“iyalah, aku yakin dan sangat yakin”

“oke, lalu bagaimana dengan wanita itu?”

“sulit, pertanyaanmu sangat sulit”

“mengapa?”

“Aku menyayanginya, tapi seolah-olah dia mempermainkanku”

“maksudmu?”

“berulang kali aku ungkapkan perasaanku, tapi tak pernah diterimanya. Berulang kali ku tunjukan perasaanku, tapi tak dihiraukannya”

“tunggu, apakah kamu hanya memberikan pernyataan tanpa memberikan sebuah pernyataan? Tapi kamu meminta jawaban?”

“iya, aku katakana kalau aku menyukainya. Tapi dia mengiraku hanya bergurau saja. Dia pun tidak memberikan respon yang lebih”

“bodoh, mana ada orang yang percaya hanya dengan sebuah ucapan. Jelas dia mengiramu bergurau dan tidak memberikan jawaban apapun. Kau tidak bertanya tentang perasaannya, dan kau pun tidak membuktikan semua ucapanmu dengan sebuah tindakan pasti. Sekali lagi, kau ini sangat bodoh!” kataku geram

“bukankah harusnya dia mengerti, dengan aku mengutarakan perasaanku itu artinya aku memintanya untuk menjadi pacarku” jawabnya menjelasakan

“tidak, tidak semua orang seperti itu. Ah ayolaaah, sebodoh inikah lelaki macammu? Bukannya yang kamu bicarakan ini tentang hati? Fahami, kamu ingin dia mengerti dengan pernyataanmu tapi kamu tidak mengerti responnya. Selain bodoh, rupanya egois jugaa” nadaku semakin kesal

“oke hentikan. Otaku sudah lelah. Sekarang giliranku bertanya. Deal?” dengan PD nya dia sambil menjulurkan tangan.

“pertanyaan tidak selalu harus dijawab. Soal ujian aja kalau pertanyaannya sulit boleh untuk tidak dijawab. Hahahha” jawabku jahil

“sakarepmulaah mbooo. Okelah to the point ajalah ya, kenapa masih bertahan menyendiri? Udah ga tertarik sama laki-laki lagi? Wah jaman semakin edan”

“iyuuuh, lo pikir ga punya pacar berarti “penyakitan”? pikiran lo sempit banget sih, kaya kostan temen gw aja hahhaah”

“seriusan deh, kenapa?”

“Aku belum siap pacaran. Belum siap berkomitmen, belum siap untuk memilih hanya satu. Kebayangkan kalau aku pacaran, fansku yang lain kecewanya seperti apa. Hahah”

“ih, mana jawabanmu yang bisa Aku percaya? Ini kan pacaran, ga harus langsung berkomitmen. Santai aja kali sist”

“Aku gak mau main-main, Aku mau hubungan yang serius, usiaku bukan 17 tahun lagi. Tapi untuk menjalani hubungan seperti itu, aku belum siap. Dan belum ada lelaki yang mampu membuktikan semua omong kosong mereka menjadi sebuah makna yang berarti”

“waaw, speak without action is nothing. Hmm good”

“yoi, aku cuma berfikir secara realistis aja. Sekarang kalau cuma ucapan aja, anak SD juga udah pada mahir. Aku masih terlalu egois dan kekanak-kanakan, Aku butuh lelaki dengan pemikiran yang jauh lebih dewasa, yang bisa menyederhanakan segala pemikiranku yang rumit ini. Yang bisa memahamiku tanpa aku perlu banyak menjelaskan tentang ini dan itu, yang mampu membuatku nyaman dan tenang, tak sungkan untuk berbagi atau sekedar menangis dihadapannya. Pada intinya, Aku ingin lelaki yang mampu memahamiku”

“wanita memang selalu ingin difahami. Hmm aku sedikit mengerti sekarang”

“tumben pembicaraan kita bermakna, haha”

“hahha jarang-jarang ya, eh apa harus kita berdua pacaran aja?”

“OGAH! Makasih deh. Ga usah banyak imajinasi, yuk balik aja. Percuma di café Cuma dapet ice lemon tea sama cemilan kaya gini. Di rumah juga banyak”

“astagfirullaaah, bukannya bersyukur. Sana deh, tunggu diparkiran. Berisik tau gak!”

  • view 207