Inikah Cinta?

Ajeng Fajriani Puji Rahayu
Karya Ajeng Fajriani Puji Rahayu Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 10 September 2016
Inikah Cinta?

Hi, apa kabar?

Masih ingatkah Kamu dengan ku? Aku yang dulu selalu memandangimu dari balik jendela kelasku. Dari jarak yang cukup jauh, namun bisa ku amati gerak gerikmu. Ahh, mengingat itu semua membuatku ingin kembali ke masa-masa itu. Masa putih abu, masa dimana yang ku tahu aku mengagumimu. Ah bukan. Bukan hanya mengagumi, Aku rasa dari saat itu aku sudah tergila-gila padamu. Saat pertama kali ku lihat dirimu. Tahu kah kamu? Kamu yang kulihat di musholla sekolahku, sekolah kita dulu. Entahlah, hari itu aku merasa sangat beruntung bisa melihatmu, namun aku pun merasa kecewa. Karena setelah sekian lama kita berada di tempat yang sama, baru hari itu aku melihatmu. Ingin rasanya saat itu jua Aku datang menghampirimu, untuk sekedar bertanya siapa namamu. Namun, apa daya. Aku tak punya keberanian sebesar itu.

Semenjak hari itu, musholla adalah tempat favoritku. Bukan so alim, tapi jujur saja, Aku ingin melihatmu lagi. Lelaki bertumbuh tinggi dan kurus, berwajah teduh dan menenangkan. Berharap Aku bisa menyapamu, dan mengetahui namamu. Ya, Aku memang terlalu pengecut untuk bertanya langsung. Untunglah, temanku membantuku. Walaupun informasi yang dia berikan ternyata tidak seutuhnya benar.

Ahhh.. tahu kah Kamu, bahagianya Aku saat tahu namamu? Mungkin, rasanya bagaikan orang yang mendapatkan lotre. Sungguh luar biasa. Aku bersumpah, ini tidaklah bohong.

Hari itu, hari yang selalu ku tunggu. Akhirnya, lelaki pujaanku, lelaki yang selalu memenuhi pikiranku akhir-akhir ini. Aku melihatnya lagi. Kini dalam radius yang cukup dekat, aku melihat senyummu, senyum yang selalu membuat jantungku berdetak tak berirama pasti. Masih teringat jelas senyum pertamamu untukku, dan saat itu jua aku tahu nama aslimu. Bahkan nama lengkapmu yang terpampang jelas di sebelah kiri dadamu.

Hari terus berganti. Dalam diam, selalu ku cari berbagai hal tentang dirimu. Kini, yang ku tahu bukanlah hanya namamu. Aku juga tahu alamat rumahmu, begitupun jurusan Teknik yang telah kamu pilih. Oh, ya. Ada satu fakta lain yang kudapatkan. Ternyata, Kamu adalah adik kelasku, tepatnya satu tahun lebih muda dari usiaku. Awalnya aku ragu, dan ingin menghentikan semua rasa ini. Namun, Aku kalah. Rasa yang seutuhnya tak ku fahami ini jauh lebih kuat dari keraguanku. Akhirnya Aku pun tak menyerah, dan memutuskan untuk tetap mengagumimu dalam diam.

Bulan telah berganti. Akhirnya, ku dapatkan nomber teleponmu. Kala itu, masih jamannya SMS dan belum ada BBM, atau semacamnya. Aku yang masih menggunakan CDMA, dan Kamu yang sudah beralih ke GSM. Ku beranikan diri untuk mengirimu sebuah pesan singkat. Walau tak begitu ku ingat pesan apa yang ku kirimkan pertama kali, tapi hatiku bercampur aduk. Saat itu, Kita sudah menjadi teman. Walau tak begitu dekat, tapi Aku sangatlah bersyukur. Mendapat respon atas pesan singkatku, Aku merasa keberanianku tak berujung sia-sia. Banyak cara yang kulakukan agar pesan singkatku terus kau balas. Dari bertanya sedang apa, hingga bertanya hal-hal tak penting ku lakukan, asalkan bisa terus terhubung dalam pesan singkat dengan mu. Mungkin ini terdengar begitu konyol, tapi inilah cinta. Cinta yang selalu ku jaga dan pendam sendiri.

Tak ku sangka, bukan hanya wajahmu yang bisa membuatku jatuh hati. Tapi segalanya, baik itu sikap mu, kebiasaanmu, pola pikirmu dan semuanya. Ahh, rasanya tak bisa ku bendung lagi rasa ini. Aku pun semakin dekat denganmu, tak hanya bertukar kabar lewat pesan singkat, tapi kita saling bertegur sapa lewat telepon. Ingatkah Kamu saat memperkenalkan adikmu padaku? Ahh, begitu dekatkah aku denganmu dulu? Sampai suatu hari, dimana Aku merasa begitu hancur dan rapuh.

Pesan singkat atau telepon darimu selalu ku tunggu. Selalu ada senyuman diwajahku saat HP ku berbunyi, tapi tidak untuk saat itu. Air matalah yang mewakili perasaanku kala itu. Saat ku baca pesan singkatmu, saat ku tahu bahwa Kamu telah kembali pada mantan pacarmu terdahulu. Haruskah Kamu katakan itu padaku? Haruskah? Aku benar-benar merasa hancur, setelah kedekaan kita selama ini. Ku fikir, kamu pun merasakan hal yang ku rasa. Tapi, kenyataan berkata lain. Saat itu usiaku masih labil, aku pun belum bisa berfikir secara rasional. Aku muak, kecewa bahkan membenci diriku sendiri. Ku putuskan mulai saat itu jua untuk tak mengenalmu lagi. Tak peduli apapun yang kamu lakukan. Aku benar-benar mencoba untuk melupakan semuanya. Tapi, tahukah kamu? Itu tak mudah, benar-benar tak mudah dan nyatanya tak semudah Aku mencintaimu.

Waktu terus berlaju. Ku fikir, Aku telah berhasil melupakanmu. Nyatanya, Aku salah. Kamu tampak bahagia dengan kekasihmu, dan Aku? Haruskah ku jelaskan lagi perasaanku?

Enam tahun telah berlalu, Aku masih sendiri. Entah karena Aku yang belum bisa sepenuhnya melupakanmu atau karena hal lain. Aku rasa, Aku merindukanmu. Merindukan semua tentangmu. Lagi, kenyataan pahit yang harus ku dapat. Rupanya sang dewi fortuna masih enggan berpihak padaku. Karena rindu yang tak bisa ku bendung lagi, dengan keraguan Aku mencarimu lewat media sosial. Yaaa, dengan mudah Aku menemukanmu. Menemukan lelaki tinggi bertubuh kurus yang ku kagumi di masa lalu, dan mungkin hingga masa sekarang. Aku senang, bisa melihat wajahmu walau hanya lewat sebuah potret yang kau unggah ke akunmu. Berbagai macam potret dalam situasi berbeda. Banyak wajah baru yang tak ku kenal, mungkin itu teman barumu. Setelah ku lihat, rupanya ada potret seorang gadis mungil, berhijab dan berkaca mata. Sama sepertimu, kini kau pun berkaca mata, terlihat lebih tampan dari sebelumnya. Bukan hanya satu atau dua saja, potret gadis itu hampir memenuhi semua unggahan mu, dan setelah ku amati, aku yakin bahwa gadis ini bukanlah gadis yang dulu kembali kepadamu.

Fakta ini menjelaskan bahwa dia pun selalu ada disekitamu. Ku kira setelah sekian tahun berlalu, Aku tak akan kecewa mengetahui semua ini. Namun rupanya tidak, Aku tetap merasa kecewa.

Entah apa yang ada dalam otakku, Aku hanya ingin seperti dulu. Seperti sebelum kenyataan menjelaskan bahwa kamu lebih memilih gadis lain.

Tak peduli siapa gadis yang telah Kamu pilih, sungguh Aku merindu. Kini, Aku pun memiliki ID Line mu. Butuh banyak waktu untuk mengumpulkan keberanian ini. Keberanian untuk mengirimmu pesan singkat lagi, untuk sekedar menanyakan kabar atau hal-hal tak penting seperti dulu.  Ada ketakutan yang menghantui ku, takut hal seperti dulu terulang kembali. Tapi, lagi-lagi rasaku mengalahkan ketakutan ini. Kini, Aku memutuskan untuk tetap mengagumi, menyukai, dan mencintaimu. Sepenuh hati dan sepenuh kemampuanku. Tak perlu kau balas, tak perlu kau ketahui juga. Aku sudah biasa seperti ini.

Aku mengerti, cinta itu tak bisa ku paksakan.

Aku pun mengerti, cinta itu tak selalu terbalas.

Aku mengerti, sungguh kali ini aku mengerti.

Tapi, tolong.

Izinkan Aku untuk selalu menggenggam asaku, menjaga dan menikmati mimpiku.

Aku tak akan memintamu lebih, cukup hanya izinkan aku untuk selalu bisa mencintaimu, hingga waktu yang tak bisa ku pastikan.

Terimakasih cinta, untuk segala cinta yang bisa kurasakan selama ini.

Walau hanya bisa ku rasakan sendiri, tapi aku bersyukur.

Cinta ini, cinta yang hanya kuberikan padamu. Masih ku simpan, di lubuk hatiku yang terdalam.

Aku mencintaimu, selalu, dan selamanya..

======================================================================

Sepenggal cerita ini adalah cerita dari sahabatku. Semoga dilain waktu bisa ku kembangkan lagi ceritanya dengan lebih merinci. 

  • view 315