Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 20 Mei 2018   21:15 WIB
Mari Bertumbuh Bersama

Dari immature menjadi mature itu bukan perkara mudah. Dulu aku berpikir kamu adalah biang keladi kesakitan yang aku rasa. Supaya bisa sembuh, aku melakukan segala cara. Termasuk melakukan hal-hal yang membuatmu  marah dan tidak nyaman.
 
Terus terang, ketika melakukan hal yang menjengkelkan dan bisa membuatmu kesal, aku menikmatinya. Aku bahagia. Kamu membuat aku sebal, jadi kamu pun harus merasakan sebal yang serupa meskipun dengan jalan yang berbeda.
 
Aku merasa dipermainkan olehmu, merasa hanya jadi objek iseng semata, merasa hanya dijadikan fans yang sayang kalau dilewatkan, perempuan naif yang mungkin mudah dibodohi, lugu, dan terlalu sayang jika dilewatkan (ditolak) begitu saja. Sampai pada suatu ketika, puncak perasaan negatif itu muncul ketika aku merasa ditikam dari belakang olehmu, tahun 2016 silam.
 
Perasaan-perasaan itu mengendap membuahkan berbagai perasaan--sedih, gelisah, kesal, marah, benci, dendam, dan tidak puas. Aku sedih, kenapa aku  seolah-olah hanya dijadikan objek iseng, kenapa kamu menempatkanku hanya sebagai selingan di saat kamu merasa kesepian saja. Aku gelisah,  kenapa terhadap dia kamu lebih terbuka sedangkan kepadaku tidak. Aku marah, kenapa kepada dia kamu terlihat "benar" dan "serius" sedangkan kepadaku tidak.  Aku kesal, apa yang salah denganku? Kenapa aku tidak pantas mendapatkan penghargaan dan keseriusan darimu saat menghadapiku. Aku tidak terima diperlakukan seperti ini. Aku perempuan baik-baik yang harus kamu hadapi dengan baik-baik pula. Jika itu caramu, baik aku akan menghadapimu, tapi dengan "caraku". Ini tekadku dulu. Jika  dipikir sekarang, aku simpulkan, ada yang salah dengan caraku berpikir, ini pola pikir yang mengarah pada "sakit".

Saat ini, ada hal lain yang ingin kubagi denganmu. Dulu aku sakit, mentalku kena, jiwaku bermasalah.  Aku bersyukur karena menyadarinya. Ada yang harus diperbaiki, caraku dalam menyembuhkan diri yang harus aku luruskan kembali. Mindset yang kugunakan untuk menghadapimu harus aku luruskan.
 
Dulu aku mengira akan sembuh jika sudah mendapat kejelasan darimu. Aku kira akan sembuh jika berhasil membuatmu "sadar" bahwa dirimu harus bersikap lurus dan benar pula sama sepertiku. Tapi buktinya setelah kejelasan dan perubahan sikap dirimu padaku, sakitku tetap tidak berkurang. Aku masih berada di zona   yang sama. Dirimu tetap menjadi objek penyebab kesakitan yang aku rasa. Aku tidak sembuh.
 
Sekali lagi, mindsetku harus diubah. Aku tidak sembuh karena cinta yang kuberi padamu mungkin berdasar pada ego. Aku merasa aku adalah perempuan baik-baik dan tidak terima ketika kamu tidak memperlakukanku dengan baik. Kemudian aku membalasnya dengan mencari gara-gara.  Itu ego. Aku memberi cinta yang (kurasa) tulus tapi kamu malah seperti mempermainkan perasaan yang kuberi padamu, aku sakit hati. Itu ego. Aku sering mengalah, berharap sikapmu akan berubah jika aku mengalah. Itu ego. Aku  marah-marah dan sakit hati jika  merasa dilecehkan olehmu. Akhirnya aku bawel, cerewet, dan mengeluarkan sejumlah argumen kalau yang kamu lakukan itu salah. Itu ego. Aku berontak karena harga diriku merasa disepelekan dan tidak dihargai olehmu. Aku berusaha membuat caraku seimbang dengan caramu terhadapku. Itu ego. 
 
Jika mindset yang kugunakan masih tidak berubah, maka sampai kapanpun aku tidak akan sembuh.
 
Yang kupahami sekarang, masa "sakit" dulu terjadi karena "imunku" tipis. Jika imunku tebal aku tidak akan mudah terpengaruh oleh hal negatif yang datang dari luar. Seberapa menyebalkan dan menyakitkannya sikapmu padaku, aku tidak akan terpengaruh. Jadi yang harus dilakukan adalah mempertebal imun dengan cara mengubah sudut pandang, tidak selalu menempatkan diri sebagai korban. Aku harus sedikit menggeser mindset yang aku gunakan.  Lebih banyak memahami, memaklumi, berpikir objektif, netral, dan lapang dada.

Cinta itu memberi, pasrah, dan berjuang melakukan yang terbaik. Istilah "take and give" dalam cinta mungkin  benar, tapi akan jadi salah jika memberinya dipaksakan, menerima jadi sesuatu yang diharuskan. 
 
Tuntutan dalam cinta mungkin tidak salah. Wajar jika seseorang menuntut dari orang yang dia cintai, yang salah adalah jika tuntutan yang diberikan hanya untuk memuaskan harga diri dan egonya semata. Dendam dan benci bisa muncul jika ego ini tidak terpenuhi.
 
Dulu aku berpikir, dendam dan benci bisa dihilangkan dengan lebih banyak memberi, memaklumi, dan berempati  pada orang lain. Ini tidak salah, yang salah adalah jika memberi, memaklumi, dan berempati menjadikanmu sebagai sosok yang kurang memberi penghargaan pada diri sendiri. Semuanya harus seimbang, memberi, memahami dan memaklumi  orang harus banyak, tapi tanpa harus mengurangi sedikitpun penghargaan untuk diri sendiri.
 
Penghargaan untuk diri sendiri (self respect), ini hal lain yang kupelajari selama berhadapan denganmu. Demi membuat "seimbang" denganmu, aku meninggikan ego dan mengenyampingkan penghargaan untuk diriku sendiri.
 
Aku bahagia ketika berhasil membuatmu sebal, mencari gara-gara, melakukan hal diluar kesadaran, dan hal lainnya yang aku sendiri tidak menyangka bisa senekad itu. Aku puas karena bisa melakukan hal yang serupa denganmu,  mengenyampingkan bagaimana penilaianmu dan penilaian orang  lain terhadapku. Padahal, dengan cara seperti itu,  secara tidak langsung, sama saja aku mengenyampingkan respect dan penghargaan  untuk diriku sendiri. 
 
Cinta itu memberi, berjuang, dan pasrah. Jika memberi dan berjuang sudah dilakukan, hal terakhir yang bisa dilakukan adalah pasrah, menerima. pasrah dengan tidak menuntut orang lain untuk berbuat dan melakukan hal yang sama.
 
Wujud lain dari self respect adalah "kamu harus move" untuk dirimu sendiri. 
Jika orang lain yang kamu harap bisa diajak kerjasama dan berjuang bersama ternyata tidak bisa, tidak seperti harapanmu, itu waktunya kamu harus  respect pada dirimu sendiri. Maju dengan tidak lagi melihat ke belakang. Maju dengan tidak mengurus hal yang sama berulang-ulang. Siklus "sakitnya" akan tetap terulang jika kamu tidak bergerak maju.

Yang harus diingat, semua hal yang sudah kamu lakukan, adalah perjuangan tuntas yang sudah kamu lakukan dengan sepenuh hati.  Itu artinya kamu sudah lunas, baik untuk dirimu sendiri atau pun untuk orang yang kamu perjuangkan. Sekarang giliranmu maju untuk menghargai hidup yang kamu punya sendiri. Mencintai diri sendiri dengan memberi penghargaan sebanyak-banyaknya pada diri sendiri. 

Dengan menstabilkan ego dan memberi penghargaan sebanyak-banyaknya pada diri sendiri, langkahmu akan  lapang, perasaanmu menjadi lebih ringan dan netral. Setidaknya kamu akan belajar memahami, memaklumi, menghargai orang lain sekaligus memberi ruang pada diri sendiri untuk tetap berpikir positif, objektif,  menyempitkan dendam, gelisah, takut,  benci, dan hal negatif lainnya yang bisa mempersempit ruang nafasmu. Dengan begini harapannya kamu akan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih bijak dan dewasa.



Karya : ai siti zenab