Pak Budi dan Dunia Pendidikan Kita

Pak Budi dan Dunia Pendidikan Kita

ai siti zenab
Karya ai siti zenab Kategori Renungan
dipublikasikan 02 Februari 2018
Pak Budi dan Dunia Pendidikan Kita

Tidak di "Dilan" tidak di dunia nyata, realitanya inilah yang sedang terjadi. 

Terus terang saya terusik ketika membaca berita "Pak Budi". Meskipun tidak bisa digeneralkan, tapi kasus ini bisa dijadikan salah satu cerminan kualitas pendidikan kita saat ini. "Pak Budi" ini bukan kasus pertama, ini hanyalah satu kasus yang kebetulan masuk media dan pada akhirnya diketahui banyak orang. 

Dulu, jauh sebelum kasus ini muncul, guru di tempat sekolah saya dulu dituntut ke pengadilan karena menghukum salah seorang siswa. Hukuman itu terjadi karena siswa tersebut dianggap tidak taat aturan. Orang tua siswa yang bersangkutan tidak terima dan pada akhirnya melaporkan kejadian tersebut pada pihak yang berwajib atas dasar kekerasan. Imbasnya guru saya harus dimutasi. 

Miris, saya tahu benar kapabilitas guru tersebut. Selama tiga tahun, saya juga menjadi muridnya, jadi saya tahu Beliau seperti apa.

Baiklah, contoh di atas mungkin terlalu subjektif atas dasar penilaian saya pribadi. Objek permasalahannya bukanlah siapa yang teraniaya dan  yang dianiaya. Yang jadi permasalahan adalah apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan dunia pendidikan kita? 

Selama ini kita begitu terfokus pada pembangunan intelegensi secara intelektual (kognitif). Keberhasilan pembangunan sumber daya manusia diukur dari seberapa mampu siswa menjawab soal dan berapa nilai raport dan UAN yang diperoleh.  Guru dituntut untuk membina siswa supaya lihai mengerjakan soal. Ketetapan pemerintah yang begitu eksplisit menitikberatkan keberhasilan pendidikan pada nilai angka konkret turut berpengaruh pada pola pikir guru atau pun orang tua. Secara tidak langsung, pemerintah ikut bertanggung jawab jika guru dengan tidak sadar lebih terfokus pada upaya mengembangkan intelektual siswa dan mengenyampingkan aspek-aspek lain yang seharusnya ikut juga dibangun. Pemerintah juga turut andil jika banyak orang tua yang hanya berpikir bahwa sekolah adalah tempat untuk membuat anak menjadi "pintar" dengan ukuran nilai yang tertera di raport. Adanya pola pikir seperti ini, menyebakan ketika orang tua tidak puas dengan layanan sekolah untuk "memintarkan" otak anak-anak mereka, orang tua mencari tempat lain yang bisa membantu memintarkan otak anak. Mungkin itulah sebabnya lembaga-lembaga bimbingan belajar tidak pernah sepi peminat. Dan jargon yang paling banyak digunakan oleh lembaga-lembaga bimbingan belajar adalah  "lulus UN, bisa masuk ke sekolah dan perguruan tinggi favorite". Sekali lagi targetnya adalah memintarkan anak hanya dari segi intelektual (kognitif). Secara tidak disadari memang seperti itulah desain pendidikan kita dulu (mungkin saat ini juga masih seperti itu). 

Ketika orang tua sudah berpikir demikian, maka pola pikir seperti inilah yang akan diwariskan orang tua pada anaknya. Pola pikir "pintar" ini akan menjadi acuan anak ketika belajar.  Jika seperti ini,  bukan hal yang mustahil, konsep belajar dalam pola pikir anak hanyalah belajar yang sifatnya membuka, membaca, dan mengerjakan apa yang ada di dalam buku (kemampuan tekstual). 

Apakah pendidikan kita hanya sebatas membuka, membaca, dan mengerjakan apa yang ada di dalam buku teks? 

Pada hakikatnya pendidikan adalah upaya atau proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan: proses, cara, perbuatan mendidik (KBBI V).

Ada ketimpangan antara hakikat pendidikan dengan realita dunia pendidikan kita saat ini. Apa yang terjadi pada Pak Budi adalah salah satu contoh konkret tidak seimbangnya konsep pendidikan dengan desain pendidikan yang diberlakukan. Masyarakat secara tidak sadar terbelenggu dengan konsep pendidikan yang didesain pemerintah. Hingga pada akhirnya tujuan dari proses pendidikan yang sebenarnya tidak tercapai. 

Membangun desain pendidikan yang mengacu pada hakikat pendidikan di atas adalah tugas kita bersama. Akan tetapi, desain pendidikan formal yang dijadikan acuan oleh seluruh elemen yang terlibat adalah acuan yang didesain oleh pemerintah. Pemerintah sebagai pengambil kebijakan mempunyai tugas untuk mengambalikan konsep pendidikan pada kedudukan yang seharusnya. Pemerintah harus bisa mengembalikan pola pikir guru, orang tua, dan masyarakat umum secara luas pada pola pikir "mendidik" yang sebenarnya. 

Ada banyak yang belum tersentuh dalam desain dunia pendidikan kita. Kasus Pak Budi adalah salah satu contoh betapa dunia pendidikan kita butuh pengubahan konsep yang bisa mengakar pada pola pikir. Jika konsep dan pola pikir tentang pendidikan tidak berubah, maka bukan hal yang tidak mungkin kasus Pak Budi akan terus terulang di masa yang akan datang.




  • view 212