Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 1 Februari 2018   12:56 WIB
Surat kecil untukmu 8#Diorama Kita

Meliahat karakter dan pembawaanmu, aku seperti melihat Ryan yang pernah kubaca dulu di dalam novel (Diorama Sepasang Al Banna, Arie Nur, 2003).

Secara fisik, dirimu tidak mirip dengan Ryan. Dirimu berperawakan tinggi besar dengan kulit coklat. Sedangkan Ryan, digambarkan sebagai pria berkacamata yang tampan, berkulit putih, dan berpenampilan necis khas seorang eksekutif muda. Secara fisik, dulu aku menginginkan pria seperti Ryan. Aku suka pria yang berkulit putih bersih, wangi, berkacamata, dan berambut rapi gaya konvensional. 

Secara karakter, dirimu adalah Ryan di kehidupan nyata. Ryan yang dingin, misterius, dan menyebalkan. Kalian mirip, sana-sama seorang arsitek muda yang berbakat. Bertangan dingin dan punya obsesi tinggi. Kalian cerdas dan pintar. Mempunyai banyak fans dan pengagum. Dirimu pernah bilang, di hidupmu, wanitalah yang mengejarmu bukan dirimu. Ryan juga begitu. Dia digilai banyak wanita karena tampan, muda, dan sukses. 

Mas, sepertinya dirimu harus membaca novel ini. Ini novel paling romantis yang pernah aku baca. Tidak seperti cynderella dengan pangeran berkuda putihnya, Ryan datang dengan tidak menawarkan banyak hal. Dia datang hanya karena ingin menikah. Tidak seperti Edward yang datang dengan cinta menggebu gebu, Ryan datang justru dengan penuh kekecewaan dan kebimbangan. Dia datang ketika kehampaan menguasainya. Dia kesepian, mencari perlindungan dan kehangatan. Dia datang dengan luka yang dibiarkan. 

Aku melihatmu seperti Ryan. Dirimu bukan pangeran yang bermental baja yang siap menghadapi apapun untuk sang Putri, dirimu adalah sosok rapuh yang kebetulan singgah di fisik yang tegap. Dirimu adalah Ryan di kehidupan nyata yang begitu lembut dan sensitif, mudah terluka dan menyembunyikan diri.

Mungkin ini juga menjadi salah satu penyebab mengapa aku begitu penasaran padamu. Ada bagian di dalam dirimu yang ingin kumengerti. Aku minta maaf padamu, aku tidak bisa seperti Rani yang begitu sabar menghadapi Ryan. Aku lebih banyak menuntutmu untuk memahami aku. 

Seperti Rani yang bertahan dengan Ryan, aku tidak tahu aku bisa atau tidak. Karakter unikmu kadang membuatku ingin menyerah. Ibarat Ryan, aku tahu dirimu pun memiliki kualitas dasar ke-Tuhanan yang kuat. Dirimu bukan pribadi cetek seperti yang diperlihatkan. Ini yang membuat aku pasrah dan bertahan. Kalau kita memang tidak berjodoh, setidaknya aku pernah mencoba menyelami dirimu lebih dalam, aku pernah memberi penilaian tinggi yang jauh dari dugaan. 

Seperti Rani di tengan  cerita, aku pun sama, aku tidak berharap banyak. Mungkin dirimu terlalu tinggi untukku. Aku bukan siapa siapa. Aku menyerahkan semuanya pada takdir. Takdir yang akan menggerakkan hidupku.

 

 

Karya : ai siti zenab