Mentari di Batas Cakrawala

Mentari di Batas Cakrawala

ai siti zenab
Karya ai siti zenab Kategori Puisi
dipublikasikan 07 Januari 2018
Mentari di Batas Cakrawala

Aku bertanya pada hujan
Apakah dia menyesal telah meninggalkan langit dan datang pada tanah yang penuh debu?
Aku bertanya pada langit, 
Apakah dia sedih karena hujan lebih memilih pergi dan membiarkannya kesepian?
Aku bertanya pada awan,
Apakah dia marah pada angin yang membuatnya hilang secara perlahan karena harus menjadi hujan?

Mereka menjawab...

Hujan: Tidak apa-apa aku jatuh, karena nyatanya tanah sangat bersyukur atas kehadiranku. Aku bisa membantunya memberi kehidupan bagi yang menggantungkan harap padanya. Aku bahagia, karena kejatuhanku bunga jadi mekar, rumput menghijau segar, dan pohon jadi berbuah.

Langit: Tidak. Tanah lebih membutuhkan hujan daripada aku. Aku bisa hidup tanpa kehadirannya, tapi tanah bisa kerontang tanpa bantuannya. Aku tidak bisa membantu tanah secara langsung. Inilah salah satu caraku membantunya... mengikhlaskan kepergian hujan dariku. Bukankah meskipun ditingglkan pergi, bagi mereka berdua aku tetaplah langit yang kedudukkanya tetap berada di atas?

Awan: Hidup itu pilihan. Ketika aku memilih jadi awan, aku tahu risiko dan tanggung jawab atas apa yang telah aku pilih. Buat apa aku marah untuk sesuatu yang telah aku ketahui risikonya? Aku akan bertanggung jawab penuh pada pilihan yang telah aku ambil. Aku setia pada komit yang telah aku ucap. Bukankah tiap orang juga memiliki risiko dan tanggung jawab masing-masing pada apa yang sudah dipilihnya? Aku tidak akan main-main untuk komitmen yang sudah aku buat. Karena sesungguhnya dengan cara itulah aku bisa tetap berdiri tegak.

Aku menatap langit di atasku, sepertinya hujan akan kembali turun.

  • view 192