Memaksimalkan Syukur

ai siti zenab
Karya ai siti zenab Kategori Renungan
dipublikasikan 03 Desember 2017
Memaksimalkan Syukur

Ketika membuka medsos  (instagram, facebook, line, twitter), banyak postingan  yang  membuat saya iri. Teman-teman saya kok, begitu mudahnya traveling ke luar negeri, Eropa jadi buruan utama, Amerika bukan lagi jadi incaran, Asia Tenggara hanyalah tempat persinggahan. Menyenangkan sekali hidup mereka yang punya banyak uang dan kesempatan untuk menikmati dunia luar. Kapan yah saya bisa seperti mereka? Jangankan ke luar negeri, keliling Indonesia pun masih sebatas mimpi  dan angan-angan dalam hidup saya. 

Saya iri ketika melihat postingan teman tentang kebahagiaannya menjadi seorang ibu dan istri. Seseorang yang selalu siap jadi pendamping dalam siatuasi dan kondisi apapun.  Menjadi bagian dari pertumbuhan dan perkembangan anak yang sehat dan menggemaskan. Menjadi seorang istri yang dimanja dan disayangi suaminya. Menjadi sosok terpenting dalam hidup seseorang. Sosok yang dibutuhkan dan akan dicari ketika ketiadaannya di rumah. That's one of the big dreams, menjadi istri "binangkit" :D. 

"Jumat Barokah" itu salah satu semboyan seorang teman untuk hari Jumat.  Setiap hari Jumat, dia menyediakan makan untuk  para jamaah yang datang ke mesjid. Tidak hanya untuk para jamaah, anak yatim piatu di panti asuhan pun jadi sasaran jumat barokahnya. Postingan-postingannya tiap hari Jumat itu membuat saya berpikir, dia kok tidak merasa sayang memberikan uang hasil jerih payahnya dibagikan dan disedekahkan pada orang lain.  uangnya banyak sekali sampai bisa menyediakan makan untuk orang banyak. Saya kapan yah bisa banyak uang sampai bisa dibagikan untuk orang lain?? :D

Salah satu hobi saya adalah menulis. Dari kecil, membaca dan menulis sudah menjadi bagian dari aktifitas saya sehari hari. Semua tulisan saya baca, semua jenis buku saya buka (kecuali buku matematika :D).  Saya suka tulisannya Helvi Tiana Rosa, Asma Nadia, Mutmainnah,  Andrea Hirata, Pramudya Ananta toer, Margharet Michel, Tere Liye, Marga T,  Maria  A Sarjdono, Djenar, Dee, Aghata Cristy, Sydney Seldon, bahkan tulisan Sandra Brown dan Nora Robert pun saya suka.  Mereka adalah penulis hebat yang bisa menginspirasi banyak orang.  Saya lihat dunia sekeliling saya, teman saya satu persatu mulai mengikuti jejak mereka. Postingan peluncuran buku hasil karya mereka sendiri mulai dipublish. Tuhaaaannn, saya kapan?? Kapan buku atas nama saya bisa publish dan dibaca banyak orang.  Ini merupakan mimpi masa kecil yang belum terealisasikan.  

Hal lain yang membuat saya iri adalah postingan teman yang hoby berburu makanan dan ngedate bareng teman-temannya. Walau hanya sekedar jalan-jalan, muter-muter keliling mall, nonton, atau pun karokean, hidup mereka penuh dengan hal yang menyenangkan... menikmati hidup. Sepertinya kesedihan dan kegalauan tidak pernah singgah di hidup mereka. 

Setelah menulis lima paragrafh di atas, dibaca berulang-ulang... diam sejenak, merenung untuk sesaat, mencoba menyelami makna dari tiap kata, kalimat, dan bahasa yang saya gunakan untuk "curhat",  baru ada yang saya sadari... saya mungkin termasuk manusia yang penuh keluhan dan jauh dari rasa syukur. Semua kebahagiaan hidup, tolak ukurnya saya lihat dari orang lain  yang terlihat sukses dan bahagia.  Saya iri  terhadap hidup mereka yang tidak/belum saya miliki.  Saya lupa terhadap pencapaian hidup yang sudah saya peroleh selama ini.

Jika mau melihat ke belakang, apa sebenarnya yang harus saya keluhkan? Tuhan begitu murah hati memberikan kelapangan untuk hidup saya. Jalan rizki saya peroleh dengan cukup lapang. Di kala ada sebagian teman selepas lulus kuliah nganggur dan kesulitan mencari pekerjaan, sampai saat ini saya tidak pernah merasakan menganggur karena tidak ada pekerjaan. Jalan rizki yang saya peroleh boleh jadi menjadi jalan iri bagi orang lain yang saya tidak ketahui.

Traveling mengelilingi dunia, hanyalah masalah waktu dan kesempatan.  Saya tidak tahu hidup saya ke depannya, siapa tahu bulan depan, tahun depan, atau mungkin besok... saya memiliki kesempatan dan rizki seperti mereka.  Semua orang mempunyai kesempatan.  

Hal lain yang merupakan pembawa baper yang paling dahsyat dalam hidup saya adalah keluarga, anak, dan suami. Saya gemas melihat bayi yang lucu, saya mellow ketika melihat keluarga kecil yang bahagia. Tuhaaan... sungguh kikir rasanya, ketika saya begitu menginginkan semua hal baik dan bagus dalam hidup saya. Perasaan itu yang kadang singgah dalam hati saya, tapi tahukah kamu, Tuhan itu Maha pemberi yang sangat Maha. Sekarang saya boleh iri terhadap keluarga kecil teman-teman saya, saya tidak tahu, jika sebetulnya Tuhan sedang menyiapkan keluarga kecil yang jauh lebih bagus dan indah untuk hidup saya ke depannya.  Di belahan bumi lain, dibalik dunia medsos, dalam realita hidup yang sesuangguhnya, banyak teman-teman yang iri karena saya begitu leluasa mengejar mimpi dan potensi diri yang saya punya.  Yang harus saya yakini, Tuhan akan memberikan yang jauh lebih baik daripada mimpi saya saat ini. 

Potensi diri, kesempatan untuk mengembangkan diri. Saat ini, itu yang saya punya. Itu yang harus saya syukuri. Sebenarnya, apa gunanya saya iri terhadap pencapain karier orang lain.  Sama seperti mereka yang sudah sampai pada tahap itu, saya pun memiliki kesempatan yang sama. Tetapi pertanyaannya? Sudah sampai di mana usaha yang sudah saya lakukan untuk pencapain tersebut? Bukankah sampai saat ini, menulis dan membaca masih menjadi bagian hobi yang paling menyenangkan dan bukan merupakan target yang harus segera dieksekusi? Dari dulu publish buku merupakan sebuah pencapaian dari hoby yang dimiliki, bukan sebagai target dan obesesi yang harus terealisasikan. Bukankah sampai saat ini pun saya masih menikmati menjadi penikmat? Mungkin posisi itulah sebenarnya yang paling saya nikmati. Jikalau saya ingin seperti mereka, berarti ikhtiar untuk hal itu harus saya maksimalkan. Bukan iri yang malah diperbesar :D

Memaksimalkan syukur, itu sebenarnya yang harus saya lakukan daripada sekedar menatap iri dunia medsos yang entah bagaimana keadaan sebenarnya. Seperti saya saat ini, melihat hidup teman-teman yang berada di luar sana hanya dari dunia medsos, mungkin mereka juga sama, menatap dengan perasaan sama terhadap semua hal yang saya posting dan bagikan.  Saya iri terhadap hal yang mereka miliki tapi tidak/belum saya miliki. Mungkin tanpa saya sadari mereka pun iri terhadap hal yang tidak/belum mereka miliki. Banyak hal yang saya lupakan, bukan iri yang seharusnya saya bangun, tapi ikhtiar yang harus ditingkatkan, dan syukur yang harus diperbanyak. Saya harus belajar memahami bahwa yang membedakan kebahagian dan kepuasan seseorang di dunia hanyalah tingkat syukur yang mereka miliki. Lalu sudah berada di level manakah syukur saya selama ini? Saya lupa, kalau hidup tiap orang, rizki, jodoh, dan matinya, sudah memiliki porsi dan waktunya masing-masing.  Saya harus paham, bahwa saya tidak bisa/tidak boleh menyamakan apalagi membanding-bandingkan hidup saya dengan hidup orang lain. Boleh jadi, mereka yang selalu terlihat bahagia, adalah mereka yang jauh dari rasa iri dan dipenuhi oleh rasa syukur terhadap apa pun yang dimiliki.

 

  • view 130