Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 15 Oktober 2017   13:37 WIB
canserian3 #Alina Dyah

Alina Dyah, Senin 26 Agustus 2013

Bayu Ahmad Wibisono, jantungku berdetak saat aku mengingatmu. Mataku terjaga saat aku ingin melihatmu. Namun, dengan perlahan dirimu membuatku terluka. Terima kasih, salah satunya karena kehadiran dirimulah aku bisa keluar dari ruang yang selama ini begitu kuat mengekangku. Terima kasih, dirimu pernah menjadi bayang-bayang  yang sengaja kuciptakan untuk mengobati keterpurukanku. Terima kasih, dirimu hadir saat aku begitu membutuhkan sosok lain dalam hidupku. Terima kasih, meskipun semu dirimu jaring yang telah meraihku hingga aku tidak tenggelam lebih dalam. Lewat bayangan dirimu aku menciptakan bagian dari diriku  yang lain. Terima kasih telah menjadi  bayang-bayang yang begitu berarti hingga akhirnya aku bisa berjalan kembali. Terima kasih, meskipun mungkin sebuah keisengan tapi berkat dirimu aku bisa mengalihkan perhatianku. Terima kasih, secara tidak langsung, dirimu sudah membuatku hangat kembali. Sedikit waktu iseng yang kau punya untukku, begitu berarti dalam upayaku untuk bertahan dan mengalihkan perhatian.


             Kubaca berulang-ulang catatan harian yang kutulis hampir empat tahun silam. Ternyata perasaan tidak aman itu sudah kurasakan sejak dulu, perasaan Mas Wibi hanya iseng padaku sudah kurasakan dari empat tahun lalu.  Dari dulu, sikapnya memang menyebalkan, dia sering menggodaku dengan lelucon-lelucon jorok yang tidak kusukai. Aku marah, bicara panjang lebar seperti perempuan cerewet pada umumnya.  Jika aku sudah marah, dia akan diam, tapi di lain hari,  lelucon tersebut diulangnya kembali. Lelucon sama yang membuat aku jengkel setengah mati sangat dinikmatinya. Semakin aku marah, sepertinya dia semakin senang. Kalau aku pikir sekarang, melihat reaksiku yang berlebihan, itu membuat Mas Wibi tambah semangat untuk menggodaku, hal itu mungkin sangat menyenangkan untuknya. 
               Dia menyebalkan, tapi aneh... aku sering merindukannya, yang sering ngechat pertama kali itu aku bukan dia. Posisi dia lebih banyak yang menerima dan menjawab. Dia tidak berinisiatif untuk mengajakku main atau melakukan hal yang bisa kami lakukan berdua. Dia cenderung pasif, tapi  jika kudahului dia akan melayani dan tetap menggodaku seperti biasanya. 
          Di atas semua sikap menyebalkannya padaku, entah apa yang membuatku selalu merindukannya. Keinginan untuk bertemu begitu menggebu. Dia tidak pernah bilang suka padaku, dia hanya pernah bilang aku menggemaskan, dia tidak bilang merindukankaku tapi jika kubilang aku merindukannya, dia akan tertawa. Setelah itu, godaan-godaan khas yang biasa dia gunakan akan muncul lagi. 
        Itu terjadi hampir empat tahun silam, tapi ingatan itu masih kuat berada di memoriku. Aku masih mengingat setiap kata yang sering dia gunakan untuk menggodaku. Meskipun chatnya sudah aku hapus, tapi memorinya masih tersimpan rapi di otakku. Sampai sekarang, aku masih merindukannya. Keinginan untuk bertemu masih kuat berada dalam anganku. Padahal, lukaku yang entah dia sadari atau tidak sudah dia berikan padaku, sama besarnya dengan rasa rindu yang kupunya untuknya.  
"Kepiting itu manipulatif, Lin. Dia pandai membuat kita terpojok dalam rasa bersalah yang teramat. " 
Apakah benar seperti itu adanya? Apakah benar yang dikatakan Iren kalau Mas Wibi pandai memanipulasi keadaan?
"Sifat defensif kepiting membuat kita kebingungan, kita dibuat penasaran... karena itulah hidup kita tetap seperti ini sampai sekarang, penasaran... "
Apakah aku penasaran pada Mas Wibi seperti yang dikatakan Iren? lalu kenapa aku begitu penasaran pada Mas Wibi? 
"Lin, kamu jangan heran kalau kamu merasa bersalah terus, karena bagi kepiting semua yang telah terjadi, penyebab dan  kesalahannya ada pada kita... haha" 
Aku tertawa mengingat apa yang pernah dikatakan Iren. "Bagi kepiting semua kesalahan ada di kita". Yah, mungkin begitulah adanya... bukankah selama ini yang sering minta maaf duluan pada Mas Wibi itu aku, meskipun kadang aku tidak tahu mengapa aku harus minta maaf... haha. 
"Ren, tahu tidak, dia pernah bilang aku itu egois, menyebalkan, dan kekanak-kanakan.." 
"Hahaha... benarkah?... yah, itu contohnya" Karena Mas Wibimu pernah berkata seperti itu, kamu akan mencoba merefleksi diri, benarkah kamu itu egois, kekanakan dan menyebalkan? Hahaha... sampai akhirnya secara tidak kamu sadari kamu akan merasa, kamu itu memang egois, kekanakan, dan menyebalkan... dan pada akhirnya kamu akan berkesimpulan... karena keegoisan, kekanakan, dan sifat menyebalkan kamulah Mas Wibimu jadi tidak menginginkanmu."
"Iya, memang... aku jadi merasa seperti itu, Ren. Emang sifatku seegois, sekekanakan, dan semenyebalkan itu yah?"
"Tuh, kan.. sekarang kamu jadi ikut terpengaruh dengan apa yang dikatakan Mas Wibimu, itulah mengapa aku bilang tadi, kepiting itu manipulatif. Apapun yang terjadi, semua kesalahan akan tetap ada padamu... hehe."
"Berarti sebenarnya merekalah yang egois ya, Ren?"
"Kalau dari  pengalamanku dengan Arjunaku, mereka itu hanya berusaha mempertahan diri saja, sifat defensifnya tinggi... itu sudah karakter... mereka juga paham kok dan sangat mengerti posisi kita, hanya kadangkala mereka kebingungan mencari jalan keluar, jadi pada akhirnya, kesalahannya mereka timpahkan pada kita... itu sebenarnya karena ketidaksiapan mereka menghadapi keadaan saja. Tapi, kamu harus tahu, Lin... kepiting itu sensitif... super sensitif... kita terluka, padahal mereka sebenarnya lebih terluka, hanya saja  mereka pandai menyembunyikan. Mereka kan punya cankang, Lin... punya tempat khusus untuk sembunyi. Tidak seperti kita yang begitu lugas dan ekspresif, apa yang  dipikiran  dan dirasakan mereka hanya mereka saja yang tahu. Kalau dilihat lebih jauh, mereka sebenarnya lebih menderita dari kita."
"Terus aku harus bagaimana, Ren?"
"Sebenarnya, keadaan kita simpel, Ren. Ketika tidak nyaman, ya tinggalkan. Makanya banyak dari bangsa kepiting  yang merssa ditinggalkan.  Hanya sedikit orang yang bisa bertahan dengan sifat kepiting.  Tapi kalau mereka sudah sayang sama orang, perhatian, kasih sayang, dan cintanya akan tumpah pada orang itu."
"Yah, aku mungkin bukan orang itu... Mas Wibi tidak pernah memberi perhatian seperti itu padaku. Baginya, aku ini mungkin hanya sekedar objek iseng saja, mungkin menyenangkan saja ketika bisa bermain-main denganku, menggodaku adalah hiburan baginya.  Yah, mungkin secara tidak disadari dia bahagia juga ketika aku memperhatikannya, dia pasti merasa dipedulikan. Dia tidak pernah memintanya, aku yang memberinya. Dia menikmati, tapi dia tidak merasa berkewajiban untuk membalasnya. "
"Aliiiiiiinnnnnn..."
"Tapi kenapa aku begitu merindukannya, Ren" 
Iren memelukku. Irena Puspa Pratiwi, Sang Putri Drupadi itu memelukku. Aku menangis.



Karya : ai siti zenab