#canserian1

ai siti zenab
Karya ai siti zenab Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Oktober 2017
#canserian1

Kamu menangis di depanku. "Aku mencintainya, aku ingin memilikinya"

Aku hanya terdiam, aku tahu perasaan seperti itu bagaimana rasanya, aku pernah merasakannya, membuatku terikat tak bisa bergerak, hatiku kaku susah berpaling, tak ada yang lain, cuma dia.
"Dia membuatku gila, aku mabuk kepayang... aku merindukan baunya yang menempel di kulitku,  aku merindukan pelukan dan ciumannya... aku merindukan bisikan lembutnya di telingaku,  aku menginginkannya... sangat ingin dia."
Sebaiknya aku tetap terdiam, biarkan saja dia bermonolog dengan hati dan pikirannya, aku hanya bertugas jadi pendengar sampai benar-benar tak tahan untuk  menimpali semua ucapannya. 
"Aku rasa aku ingin menikah dengannya." semua orang yang sedang mabuk kepayang karena cinta pasti menginginkan kata itu terwujud,  menikah, hidup bersama, punya anak,  dan bahagia.  Aku juga pernah menginginkan itu, sangat menginginkan seseorang untuk jadi suamiku, seperti dia, saat itu aku juga mabuk kepayang.
"Bulan dan Bintang tadi chat sama aku... akh anak-anak itu lucu sekali. Kamu tahu? Anak-anak itu akrab sama aku, mereka memanggil aku Tanteeeee Ireeennnn... Bulan bahkan sering curhat sama aku."
Sama sepertimu, aku juga sangat suka anak-anak... dulu aku sempat membayangkan bagaimana wajah anakku jika aku menikah dengan dia.
"Bulan bilang ayahnya itu payah... haha... dia memang payah, Lin... kamu tahu dia nangis di depanku ketika aku  bilang akan pergi." Kamu menarik nafas, sedangkan aku berusaha menahan nafas, ada anak-anak yang terlibat antara kamu dan dia, bagiku itu berat.
"Dia bilang, hanya aku satu-satunya perempuan yang berhasil membuatnya mengatakan dia jatuh cinta padaku, tidak ada perempuan lain yang berhasil membuatnya mengatakan itu."
Akh, kalau yang ini kita beda, Ren. Dia tidak pernah menangis untukku, bilang suka saja dia tidak pernah. Dia hanya pernah menciumku tapi tak pernah bilang suka padaku. Itu membuatku terluka, kamu beruntung... setidaknya kamu tahu bagaimana perasaan yang dia punya untukmu.
"Kamu tahu, dia membeli barang ini untukku..." kamu nenunjukkan sebuah pisau lipat padaku. "Dia bilang, ini harus selalu dibawa kemana pun aku pergi, dia tahu aku sering pulang malam sendirian, dia mencemaskan aku, Lin."
Orang yang saling mengasihi mungkin akan seperti itu, saling mencemaskan... mengkhawatirkan keadaan satu sama lain. Ren, aku tahu bagaimna rasanya dicemaskan oleh orang lain, perasaan kamu pasti hanyut, kamu merasa diperhatikan dan dipedulikan, kamu beruntung.
"Dia juga memberikan ini padaku, Lin." Kamu menunjukkan cincin putih melingkar di jari tengahmu.
"Maruk yah aku, dua cincin ini aku pakai dua-duanya. Yang ini dari Wisnu." Katamu sambil menunjukkan cincin lain yang melingkar di jari manismu.
"Semua hal pribadi yang seharusnya jadi rahasianya aku mengetahuinya, Lin. Aku tahu pin  seluruh atmnya, tidak ada yang tahu selain aku, ibunya Bulan dan Bintang pun tidak mengtahuinya, Lin. Dia sering menawariku untuk membeli barang, tapi aku menolaknya."
Cinta semacam ini, aku sungguh tidak memahaminya, Ren. Antara kamu dan dia, hanya kalian sendiri yang bisa mengartikan perasaan itu seperti apa. 
"Lin, kamu tahu tidak hal yang membuatnya senang? Dia senang sekali ketika aku menemaninya ke bengkel, dia bilang ibunya Bulan dan Bintang tidak pernah mau menemaninya ke bengkel, bagi dia... tindakan aku itu istimewa sekali, Lin."
Pria... aku tidak menahami makhluk ini, Ren. Diamu dan diaku... berkarakter mirip, tapi perlakuan diamu padamu dan diaku padaku sungguh berbeda, diamu menang satu langkah daripada diaku. 
"Lin,  kamu tahu tidak? Dia selalu menginginkan agar aku selalu bilang aku sedang apa dan melakukan apa, dia begitu mencemaskan keadaanku. Kadang aku merasa dia itu mematai-matai aku, meskipun aku tidak bilang sedang di mana dan lagi ngapain, dia selalu tahu. Di balik sikap dinginnya, dia seperti detektif yang selalu mengikuti setiap gerak yang aku lakukan. Kegiatan stalkingnya membuatku angkat tangan. Aku tidak bisa berbohong padanya, Lin." 
Dulu, aku juga pernah merasakan itu, aku merasa diaku juga banyak bergerak di belakang aku. Dia main di belakang tanpa sepengetahuanku. Tapi sepertinya diaku lebih rapi dan lebih cari aman daripada diamu, Ren. Diamu tidak keberatan kamu tahu dia memperhatikannya, sementara... diaku sepertinya sangat keberatan sekali ketika dengan terang-terangan aku menunjukkan perhatianku padanya.
"Lin, dia bilang aku cantik dan mengemaskan"
Ah, diaku juga pernah mengatakan hal yang sama padaku, diaku bilang... 'kamu itu ngegemesin tahu nggak' diamu juga mengatakan hal serupa ya. Apakah itu modus yang selalu dikatakan pria pada wanita? Apakah kata-kata itu hanya bermakna iseng  saja atau memang dari hati mereka? Sama sepertiku, aku yakin, kata-kata diamu juga masuk ke hatimu.
"Cara yang dilakukan dia dan  Wisnu berbeda, Lin. Aku sayang sama Wisnu, tapi aku juga cinta dia."
Bisakah wanita memiliki cinta serupa untuk dua pria sekaligus? Aku tidak bisa membaca pikiran dan hatimu, Ren. Aku pikir... kamu masih perlu waktu untuk menerjemahkan apa yang terjadi pada hatimu. Kamu terombang-ambing, perasaanmu antara hanyut dan mengambang... perlu waktu untuk mengetahui semuanya. Tetaplah bertahan... jangan menyerah, jangan sepertiku yang tetap tak bergerak, masih kaku, samar, dan berharap keajaiban. Kamu punya Wisnu, berjuanglah untuknya.
"Oh, iya Wisnu bagaimana, sehat?"
Sehat, Lin... dia makin gemuk sekarang... haha. 






  • view 59