Membangun Empati Dimulai dari Berbaik Sangka

ai siti zenab
Karya ai siti zenab Kategori Renungan
dipublikasikan 18 Agustus 2017
Membangun Empati Dimulai dari Berbaik Sangka

Saya pernah sakit hati karena perbuatan seseorang. Rasa marah, jengkel, sebal, bahkan dendam mungkin itu sebagian kecil dari yang saya rasakan.  Entah karena sakit hati yang teramat dalam atau apa... perasaan marah, jengkel, sebal dan dendam tersebut tidak hilang selama bertahun-tahun. Selama bertahun-tahun itu saya bertahan dengan perasaan tidak puas dan penasaran mengapa orang tersebut memperlakukan  saya demikian. Hidup saya stagnan, jauh dari kata move on.

Memiliki perasaan seperti itu sungguh tidak nyaman, nafsu makan hilang, jadwal tidur tidak teratur karena diserang insom yang lumayan akut, badan terlihat tidak segar, wajah kuyu seperti banyak pikiran.  Gelisah berkepanjangan, sedih, galau, dan sangat tidak bersemangat. Menderita deh pokoknya :D

Pada fase itu, orang-orang terdekat bilang, saya seperti manusia yang tidak memiliki keinginan.  Pergi bekerja tiap hari hanya untuk menunaikan kewajiban dan rutinitas saja, berinteraksi dengan orang hanya sebatas sopan santun, ngobrol tapi tidak fokus, raga ada tapi pikiran entah di mana.

Dari pengalaman di atas, saya banyak berpikir mengapa sampai bisa mengalami hal semacam ini? Apa yang salah dengan diri saya?

Teman-teman banyak yang menasehati supaya saya bisa mengikhlaskan semua yang sudah terjadi.  Ok, ikhlas... saya bertekad... ikhlas, ikhlas, dan ikhlas. Seminggu, dua minggu, sebulan, setengah tahun, sampai bertahun-tahun berlalu, penyakit yang saya alami ternyata tetap tidak sembuh. Bukan sakit fisik yang saya alami, tapi psikis yang kena, jiwa saya yang terganggu. 

Lalu, apakah ikhlas yang saya usahakan selama ini tidak berhasil? Nyatanya jiwa saya masih saja merasa sakit. Apa yang menyebabkan manajemen ikhlas saya mengalami kegagalan? Saya sudah berusaha melupakan dan mengikhlaskan. Mengapa saya masih merasakan kesakitan?

Hidup membawa saya pada orang-orang di sekitar yang mengharuskan saya untuk terus belajar.  Belajar memahami orang lain, belajar tentang kepekaan, belajar bertenggang rasa, dan belajar memberi daripada menerima.

Dari semua  pembelajaran hidup yang saya terima... memahami, peka, tenggang rasa, dan memberi... semuanya mengerucut ke dalam sebuah kata ajaib yang membuat saya berpikir berulang-ulang, "empati".  Mengapa manajemen ikhlas yang saya  jalani selama ini kurang berhasil? Mungkin karena ikhlas yang saya usahakan adalah sebuah keikhlasan yang hanya berdasar pada satu sudut pandang. Subjektifitas saya tinggi, saya tetap menganggap diri saya sebagai korban. Secara tidak disadari, saya selalu menempatkan diri sebagai korban yang teraniaya, ketika perasaan itu ada... saya berusaha menyembuhkan diri dengan cara berusaha untuk ikhlas bahwa saya sebagai korban... orang lain yang bersalah... dan saya harus memaafkan. Adanya perasaan saya menjadi korban dan orang lain yang bersalah membuat rasa ikhlas yang saya usahakan tidak berhasil sempurna.  Hal itu dikarenakan saya merasa yang paling benar,  apa yang terjadi pada saya adalah sepenuhnya kesalahan orang itu. Orang lain yang harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada saya.

Saya lupa, kalau hidup tidak bisa hanya dilihat dari satu sisi sudut tertentu, ada banyak sudut yang harus saya lihat sebelum saya harus menyimpulkan.  Karena hanya melihat dari satu sudut saja, penglihatan saya jadi sempit, hal lain yang seharusnya saya lihat, luput dari penglihatan... padahal mungkin itulah yang bisa  menyembuhkan dan membuat manejemen ikhlas saya berhasil. Saya harus belajar berempati pada orang lain.  Saya harus belajar bagaimana jika posisi saya berada di posisi dia (orang yang telah saya anggap menyakiti saya). Belajar posisi bukan hanya dilihat dari keadaan dan tempat dia berada, tapi termasuk juga posisi dia dengan sifat dan karakter khas yang dia miliki sejak lahir. Bukankah tiap orang memiliki watak dan karakter bawaan yang berbeda-beda?  untuk bisa paham mungkin saya harus juga mengandaikan diri jika saya berkarakter seperti dirinya. Apa yang akan saya lakukan? Bukan hal yang tidak mungkin, jika saya berada  di posisinya, hal  yang sama yang dia lakukan pada saya akan saya lakukan juga.

Apa sebenarnya yang membuat kepekaan empati saya terhalang pada orang ini? Hal mengejutkan yang saya temukan adalah saya kurang membiasakan diri untuk berprasangka baik.  Ketika bertemu dengan orang yang pembawaannya berbeda dengan saya,  kesimpulan yang muncul setelahnya adalah  prasangka yang mengarah pada kejelekan orang tersebut.  Padahal, kepekaan empati bisa terbangun jika hal yang muncul pertama kali adalah prasangka yang baik pada orang lain. 

Empati adalah wujud yang saya temukan untuk bisa menerima orang lain dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Seseorang akan belajar bagaimana untuk mengasihi dengan tulus, berbesar hati, sensitif, dan menghargai  keadaan orang lain. Namun, di atas semua itu... empati adalah sebagai upaya agar dijauhkan dari  prasangka buruk, rasa benci berlebihan, dan dendam yang berkepanjangan. Terlepas dari sesuai atau tidaknya prasangka baik kita dengan keadaan sebenarnya orang tersebut, itu berada di luar kendali kita. Yang  jauh lebih penting bukanlah orang yang kita beri prasangka baik, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kita mendidik kepribadian dan jiwa kita supaya lebih  bernilai bagi orang lain.

 

 

 

 

  • view 127