Datang, Duduk, Diam, dan Dengarkan

ai siti zenab
Karya ai siti zenab Kategori Renungan
dipublikasikan 04 Juni 2017
Datang, Duduk, Diam, dan Dengarkan

Malam ini, saya merindukan Bapak.....

Jika kamu merindukan seseorang yang sangat kamu cintai, kamu pasti akan menangis. Terlebih jika kamu sudah tidak bisa menemuinya lagi. Bertemu dalam mimpi pun rasanya sungguh sulit. Yang bisa kamu lakukan hanyalah melihat foto, membayangkan, dan mengingat-ngingat  peristiwa manis yang pernah kamu alami dengannya.

Malam ini, aku sangat merindukannya.

Empat belas tahun lalu, aku berada di hadapanmu, duduk dengan muka menekuk ke bawah, terisak dan sesenggukan.  Tangisanku mungkin tidak jauh berbeda seperti saat ini, terisak pelan dengan air mata yang mengalir deras. Bedanya, sekarang  aku menangis sendirian saja, tidak ada siapa pun di hadapanku. Aku merindukanmu.

Meskipun sudah hampir empat belas tahun berlalu, ternyata anakmu masih tetap seperti ini, Bapak..., sangat hobi menangis.  

"Bapak, aku ingin pindah, aku tidak ingin mondok..."

Hal sepele itulah yang membuatku merajuk dan menangis di hadapanmu empat belas tahun lalu.  Memasang wajah memelas dengan harapan Engkau akan mengabulkan permintaanku.  Mencoba terus menunjukkan betapa menderitanya aku jika Engkau tidak mengabulkan permintaanku.  

"Mengapa ingin pindah?"

Serasa mendapat angin, aku tambah mengeraskan tangisanku. Harapannya Engkau akan luluh jika aku menangis dan terlihat sangat menderita. 

"Aku tidak betah, Bapak. Di sana tidurnya tidak enak, aku jarang makan, air minum harus beli,  harus masak,  harus ikut jadwal piket, harus bangun cepat agar tidak ngantri untuk mandi, harus ikut bersihin rumah Pak Kyai tiap hari Minggu..... aku tidak punya waktu untuk main, Bapak."

Engkau hanya tersenyum. Senyumanmu masih teringat jelas di benakku, Bapak.  Senyum yang selalu Engkau perlihatkan ketika melihat tingkahku yang menurutmu lucu.  Dibandingkan kakak2ku, mungkin hanya akulah yang sering membuamu tersenyum bahkan tertawa  tanpa kutahu apa sebabnya.  

"Apa yang diajarkan Pak Kyai aku tidak paham, Bapak... mereka pinter-pinter, aku nggak"

Bapak kembali tersenyum. Waktu itu, aku sudah percaya diri, kali ini Bapak pasti menuruti keinginanku untuk keluar dari pondok. Aku kira aktingku cukup bagus untuk mengelabui Bapak.  

Di antara semua anak Bapak, hanya aku yang diperlakukan lembek. Aku tidak pernah dibentak apalagi disentil karena  malas ngaji dan shalat.  Semua kakak-kakakku mengalami hal serupa, diperlakukan sangat keras oleh Bapak jika tidak mau ngaji atau shalat. Mungkin hanya aku yang tidak pernah dibangunkan malam-malam untuk shalat tahajud. 

"Bapak, aku cape jika harus sekolah juga mondok.  Aku keteteran,  jadwal ngajiku banyak yang bentrok dengan jadwal sekolah, pagi sampai siang harus sekolah,  sepulang sekolah harus langsung ikut ngaji  yang jadwal siang, kalau tidak ikut aku malu... masa orang lain ngaji aku tidak. Sorenya harus ngaji lagi, malamnya juga harus ngaji lagi sampai jam sepuluh. Aku nggak kuat Bapak, belum lagi kalau banyak PR... jadinya.....ngaji nggak bener, sekolah juga nggak bener....  aku jadi nggak paham apa-apa, ngaji kitab-kitab gitu aku nggak ngerti... aku ngaji hanya duduk dan diam saja... "

Aku kira Bapak paham apa yang  kukeluhkan. Aku tidak punya modal apa-apa ketika masuk pondok. Berbeda dengan kakak-kakakku, setidaknya sebelum masuk pondok hal-hal yang dipelajari di pondok pernah diajarkan oleh Bapak terlebih dahulu di rumah, sedangkan aku tidak.  Aku adalah anak bungsu yang lebih merdeka dalam menentukan sikap dan keinginan. Setidaknya sampai masuk SMA aku diperbolehkan memilih sendiri sekolah yang aku inginkan. Ketika kakak2ku diwajibkan masuk MTS dan MA, hanya aku satu-satunya anak Bapak yang masuk sekolah umum, SMP dan SMA.

"Hanya duduk dan diam saja?"

Bapak bertanya sambil tertawa. "Iya." Jawabku.

"Iya, tidak apa-apa, kamu cukup datang, duduk, diam, dan dengarkan saja apa yang dikatakan Pak Kyai."

Aku melihat Bapak, tidak ada raut bercanda dalam ucapannya. Aku tahu, jika sudah begitu, berarti itulah keputusan Bapak. Kali ini taktikku, rengekanku, dan rajukanku tidak berhasil. Aku harus tetap mondok. Setidaknya aku harus bertahan sampai lulus SMA.

Datang, duduk, diam, dan dengarkan.  Empat kata ini baru kupahami sekarang, Bapak.  Bagimu, datang meskipun terpaksa ke tempat ngaji tidak jadi masalah daripada aku mendatangi tempat yang belum tentu maslahat untukku. Duduk di pengajian akan lebih baik daripada aku hilir mudik tapi nggak tentu arah.  Diam bersama orang-orang yang ngaji akan jauh lebih baik daripada aku banyak bicara hal yang tidak penting.  Mendengarkan petuah Pak Kyai  akan lebih bermakna daripada aku mendengarkan hal lain yang entah mendatangkan ilmu atau tidak.  Engkau tahu, empat hal itu akan menjadi modalku untuk hidup. Jiwaku yang sedang Engkau bangun, pondasi ruhaniku yang sedang Engkau tempa.

Datang, duduk, diam, dan dengarkan... empat kata yang terkesan pasif. Hanya menerima.  Itulah perintahmu untukku. 

Setelah  empat belas tahun berlalu, anak kunci dari kata datang, duduk, diam dan dengarkan baru aku temukan sekarang, Bapak.  Datang sama dengan hadapi. Duduk sama dengan bersabar. Diam sama dengan merenung. Dengarkan sama dengan  aku harus lebih banyak mendengar daripada berbicara.

Aku tidak suka mondok, berkutat dengan aturan yang membuatku terkekang, bergumul dengan kitab dan tulisan arab, berjibaku dengan waktu dan rasa lelah. Aku tidak menyukainya. Engkau tahu aku tidak menyukainya, tapi Engkau memaksaku supaya aku harus tetap datang. Melalui datang Engkau membelajarkan aku bahwa hidup akan tetap berjalan meskipun aku tidak menyukainya. Hal yang tidak aku sukai, harus tetap aku hadapi dan jalani. 

Engkau tahu, Hidup itu bukan atas dasar suka atau tidak suka. Dua hal itu pasti suatu saat akan menghampiriku. Aku harus sudah siap. Aku harus bisa menghadapi hal itu. aku tidak boleh lari hanya gara-gara tidak suka. Aku harus menghadapinya dengan lapang dada. Aku harus bisa berdamai, tidak boleh lari dan menghindar hanya gara-gara tidak suka. Keadaan harus bisa kukendalikan, bukan aku yang dikendalikan keadaan.  

Bagimu, menyuruhku tetap duduk mungkin sama dengan menyuruhku untuk tetap bersabar. Tetaplah duduk meskipun membosankan.  Artinya aku harus sabar. Duduk di tempat pengajian yang membosankan Engkau maksudkan agar aku bisa sabar menghadapi segala hal dalam hidup.  Engkau tahu, aku bukanlah seorang penyabar. Aku cenderung ceroboh, grasa grusu, dan kadangkala bertindak tanpa pertimbangan yang matang. Engkau  paksa aku untuk duduk, menunggu-setia untuk menahan diri meskipun aku sangat ingin pergi dan menghindar bahkan mungkin lari. Bersabarlah, semuanya akan berjalan baik-baik saja jika kamu sabar,  mungkin itu yang ingin Engkau katakan padaku.

Diam. merenunglah. Engkau menyuruhku merenung. Menjadi pribadi yang lebih banyak berpikir, bertafakur, bermuhasabah, dan bersyukur.  Engkau menginginkan aku menjadi pribadi yang bijak. Bisa bersikap adil dan objektif.  Hidup itu bukan sekedar hidup. Banyak hal yang harus direnungi agar bisa menjadi pribadi yang hidup. 

Dengarkan. Engkau menyuruhku untuk lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Akan banyak ilmu yang kuserap jika aku lebih banyak mendengarkan. Akan banyak hal yang bisa kupelajari dari aku banyak mendengar. Engkau tahu, menjadi pribadi yang lebih banyak mendengar adalah langkah awal supaya aku bisa tumbuh menjadi pribadi sesuai harapanmu. Manusia yang bijaksana, manusia yang bisa menempatkan diri di tempat manapun dan dalam keadaan apapun. Manusia tangguh yang tidak gentar menggadapi apapun. Manusia cerdas dalam bersikap dan bertindak.

Aku putrimu, Bapak. Maafkan aku, mungkin aku belum bisa menjadi seorang pribadi seperti yang Engkau harapkan. Akan tetapi, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk terus memperbaiki diri, memantaskan diri agar layak menjadi putrimu. 

Datang, hadapilah. Duduk, bersabarlah. Diam, merenunglah. Dengar, perbanyakmendengarlah daripada berbicara. 

Malam ini, aku sangat merindukanmu, Bapak.

BANDUNG, 4 MEI 2017

 

 

 

  • view 205