Katanya Dewasa itu Pilihan

ai siti zenab
Karya ai siti zenab Kategori Renungan
dipublikasikan 28 April 2017
Katanya Dewasa itu Pilihan

Adik-adik, menjadi dewasa itu ternyata tidak mudah. Menjadi  dewasa secara umur sih gampang, setiap kamu bertemu dengan tanggal dan bulan kelahiranmu, pada saat itulah kedewasaan usiamu bertambah.  Yang susah adalah menjadi dewasa secara sikap dan kematangan berpikir, tidak semua orang bisa memilikinya. Ini sungguh sulit, saya sendiri mengalaminya, hiks.

Menjadi dewasa, tidak hanya berkisar seputar usia. Seseorang pernah berkata seperti ini: orang yang sudah dewasa tidak akan bertindak kekanak-kanakan. Sifak kekanak-kanakan itu yang seperti apa? Manja, egois, kolokan, atau? Hehe

Pada kenyataannya orang yang merasa sudah dewasa terkadang lebih egois dari anak-anak. Keegoisan seorang anak bisa menurun apabila dirayu dan dibujuk, tapi orang dewasa yang egois, dia akan keras kepala melebihi apa pun.  Batu sekali pun tidak akan berhasil mengalahkan orang seperti ini. 

Menjadi dewasa pada hakikatnya adalah upaya untuk terus memperbaiki diri hingga kamu tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik tiap harinya. Menjadi dewasa adalah pada saat kamu berusaha menahan marah ketika amarah menguasaimu, kamu belajar mnngontrol diri untuk sesuatu yang tidak bisa kamu kendalikan. 

Dewasa itu adalah ketika kamu mau memahami orang lain yang berbeda pemahaman denganmu. Berusaha melihat segala sesuatu tidak hanya dari sudut pandangmu semata. Belajar mengatur ego untuk sesuatu yang tidak sesuai dengan inginmu.  Balajar untuk berusaha menempatkan diri di tempat yang bukan tempatmu. Belajar mengatur emosi dan melatih kesabaran. Peka terhadap keadaan orang lain, tidak mudah menghakimi dan mengambil kesimpulan.

Menjadi dewasa bukan tentang kamu berhasil mendapatkan siapa yang salah dan siapa yang benar. Menjadi dewasa adalah ketika kamu bisa berpikir objektif dengan lebih mengedepankan solusi daripada tersangka. Menjadi dewasa adalah ketika kamu sadar, bahwa kamu pun kedangkala bisa salah, dan sangat pantas untuk menerima kritikan atau masukan dari orang lain. 

Menjadi dewasa adalah tentang memelihara tenggang rasa dan lapang dada.  Menjadi dewasa bukan tentang kalah atau menang, saya benar dan kamu yang salah, menjadi dewasa adalah tentang kepekaan membangun rasa simpati dan empati pada orang lain.  Selama kamu masih  hebat menyalahkan orang lain, berarti kamu masih perlu belajar tentang kedewasaan yang sesungguhnya.

Dewasa adalah ketika kamu mandiri dalam bertindak maupun bersikap, matang dalam berpikir,  teguh pendirian, dan penuh percaya diri. Menjadi pribadi yang masih bergantung pada orang, sedikit banyaknya akan berpengaruh terhadap kematangan kedewasaan yang kamu punya. Hidupmu adalah milikmu.  Berusalah untuk mandiri, tidak bergantung, apalagi menjadi beban orang lain.

Menjadi dewasa adalah tentang meminta maaf dan memberi maaf. Jika salah, berani meminta maaf, akui salah, tulus...  bukan sekedar jalan pintas untuk lari dari masalah. Jika ada yang salah, maafkan, jika masih nyesek... ungkapkan keberatan, orang dewasa adalah seorang pribadi yang mau menerima ungkapan keberatan orang lain. 

Wujud dari dewasa adalah berani mengambil tanggung jawab dan risiko. Langkah apa pun yang sudah diambil akan ada risiko dan tanggung jawab yang mengiringinya. Orang dewasa adalah orang yang  tahu risiko, berani mengambil tanggung jawab, dan tidak akan pernah lari, apa pun itu.

 

 

  • view 260