Fajar yang Memilih Senja

Ira Hafsah
Karya Ira Hafsah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 Maret 2018
Fajar yang Memilih Senja

Embun kembali menggodaku. Bau segarnya masuk melalui jendela kamar yang sendari subuh dibiarkan terbuka. Embun tahu bahwa setiap pagi bunga butuh kesegaran darinya. Bau yang ku hirup menemukan tempat yang tepat. Meniup gejolak yang sering kembali hidup di ruang privasiku. Pertanda bahwa percikannya masih ada. Pagi ini aku harus pulang.

Kembali ku biarkan pandangan ini menerawang jauh, seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Di dalam bis yang ku tumpangi pagi ini, segala bau ku cium. Bau rindu, bau amarah, bau keringat hingga bau tanah. Segala jenis potret ku lihat, potret lelah, potret antusias, potret bingung hingga potret pasrah. Ya, potret pasrah saat kenangan mengetuk lembut pintu ingatanku.

Tidak banyak yang aku mengerti saat itu, saat menjadi siswa baru di sekolah tempat dia mengajar. Ketika itu aku duduk dibangku kelas XII sedangkan aku duga dia seorang lelaki dewasa yang lebih dulu mengerti tentang ini dan itu. Semua berjalan sebagaimana mestinya, tidak ada yang membuatku sampai ingin mengabadikannya dengan membuat karya tulis tentang hari-hari ku disekolah. Tidak, sampai pertemuanku dengannya, pada semester akhir sekolah.
Aisyah?”
“Bukan, aku Shiba”
“Bukan kamu, buku mu”
“Oh iya Aisyah
“Kenapa Aisyah?”
“Terlalu banyak jika harus aku utarakan semua alasannya”
“Untuk mu” lelaki itu menaruh sebuah buku. Tanpa permisi lalu pergi, sama dengan kedatangannya tadi.
The Greatest Women in Islam” Lirihku saat melihat kata yang ada pada buku yang ditaruhnya tadi.
Setelah apa yang terjadi di perpustakaan, dia tidak pernah kembali. Aku tidak pernah menceritakan ini pada siapa pun. Saat itu terjadi, aku menangkap potret wajahnya hanya dalam hitungan detik. Tidak lama, tapi telah menang mengganggu malam-malam ku. Aku ingin bertemu dengannya untuk bilang bahwa bukunya sudah rampung ku baca. Buku yang membuat aku lebih mengenal tentang diriku sebagai seorang wanita. Dan dia telah membawaku untuk berkenalan dengan sebaik-baiknya wanita yang ada di semesta alam ini.

Senja itu aku berjalan menelusuri koridor. Selepas mengikuti pelajaran tambahan di sekolah. Ada seseorang berjalan dari arah belawanan.
“Bukunya sudah selesai aku baca. Aku kembalikan, terimakasih”
“Untuk mu”
“Tapi..”
“Shiba, setalah lulus nanti aku tidak tahu dunia ini akan kamu pandang seperti apa. Jadikan empat wanita itu teladan untuk menemani hari-hari mu setelah ini. Jadilah seberharga mereka, Shiba”

Lambat ku ketahui bahwa dia adalah Kak Fajar, mahasiswa yang mengajar privat untuk siswa-siswa yang akan UN seperti ku. Sayang, dia tidak mengajar dikelas ku. Sejak saat itu aku menjadi terbiasa dengan pertemuan ku di koridor bersama Kak Fajar. Koridor yang menghubungkan kelas ku dengan pintu gerbang sekolah. Pada senja yang aku tak hitung keberapa, dia pernah berkata,
“Shiba, empat wanita mulya yang telah dikabarkan Rasulullah itu adalah pemimpin bagi kaum mu”
“Bagaimana dengan Aisyah?”
“Untuk Aisyah dan Rasulullah kisahnya akan aku jadikan cermin untuk kita”
“Kita?”
“Udah sampai di depan gerbang, pulanglah”
“Assalamualaikum” Aku memilih langsung pamit.
“Waalaikumsalam”

Tidak ada yang berjalan lama. Jarak koridor dengan pintu gerbang hanya beberapa meter saja, hanya ada beberapa percakapan saja dan hanya pada beberapa senja saja, namun berbuntut panjang.

Sampai pada dimana aku tidak pernah menemukannya lagi. Tidak ada senja di bawah koridor lagi. Pada hari terakhirnya mengajar dan beberapa hari sebelum Ujian Nasionalku, dia memberiku surat. Yang katanya hanya boleh aku buka saat aku ingin bertemunya.
“Ini untuk mu. Kamu boleh membukanya hanya saat kamu benar-benar ingin bertemu dengan ku. Jika tidak ada perasaan itu, jangan pernah kamu buka. Atau jika kamu yakin tidak akan pernah ada perasaan itu. Buang saja, jangan pernah kamu buka”
“Baik”

Kak Fajar telah lancang. Kedatangannya begitu saja tanpa permisi. Begitupun dengan kepergiaannya. Dia tidak penah mempersilahkanku untuk bernegosiasi atas sikapnya terhadapku. Berucap dan bersikap semaunya padaku. Tanpa pernah memberiku ruang untuk mempertanyakan maksud dari semua ini. Apa dia lakukan hal yang sama juga pada setiap muridnya?

Sampai pada senja yang mengantarkan aku untuk ingin bertemu dengannya. Aku ingin bertemu meski tanpa kata. Aku rindu juga.

Bismillah,
Untuk Shiba Salsabila,
Aku adalah lelaki yang selalu duduk disalah satu kursi perpustakaan sekolah mu. Bukan karena kamu, karena memang aku menyukai berlama-lama di tempat itu. Sambil menunggu jam sekolah mu selesai, lalu mengajar. Aku lupa hari keberapa, saat aku menemukan wajahmu di salah satu kursi perpustakaan. Sampai akhinya dapat ku pastikan, melulu wajahmu yang aku temukan. Aku suka cara mu memilih kursi duduk yang selalu sama, di pojok kanan sebelah jendela yang selalu terbuka. Aku suka caramu memihak keheningan. Aku suka setiap judul yang kamu pilih, untuk kamu jamah isinya. Aku suka cara kamu duduk dan menikmati hidangan ditangan mu . Aku menyukai gerak mu yang lebih sedikit daripada diam mu. Aku suka bicaramu yang tidak banyak.

Shiba, kamu pasti tau alasan ku memilih koridor dan senja bukan perpustakaan dan siang untuk bercengkrama denganmu. Aku sangat tahu kamu pasti bertanya-tanya mengenai apa maksud ku. Setelah lulus nanti, kamu akan tahu bahwa dunia ini sungguh menakutkan. Kamu membutuhkan pegangan yang sangat kuat untuk memapah hari-hari mu nanti. Aku tidak ingin kamu kalah, terbawa hanyut oleh arus yang sungguh jahat. Aku ingin membuatmu tetap jadi intan meski bertubi-tubi isi dunia ini mencoba membuatmu jatuh, terpersok, terbanting, tercampak dan yang lebih sadis dari itu. Aku bukan ingin membuat mu takut. karena aku yang akan lebih takut jika kamu tidak mampu menjadi cadas.

Setelah ini, tidak ada yang bisa aku pastikan tentang mu, tentang keadaan mu, tentang keberadaan mu, tentang teman disamping mu dan tentang kamu yang lainnya. Dan tidak ada pula yang dapat kamu pastikan dariku, selain dari satu. Bahwa setelah ini aku akan dihantam oleh rindu yang tidak ada satu orang pun sanggup mempersiapkan kedatangannya. Karena rindu adalah kata lain dari jarak, yang memaksa ku pasrah oleh kata pisah.

Jaga diri mu, Shiba. Aku berharap akan ada waktu dimana kita tak perlu menunggu senja untuk bercengkrama, dengan tidak hanya satu dua kata, karena kita bisa gunakan jutaan kata yang berserakan dibumi ini, yang takkan pernah habis untukmu.
Jika tidak terlambat, aku akan kembali pada senja yang pernah kita bangun meski singkat. Aku harus persiapkan semuanya, Shiba.

~Fajar

Kenangan itu buat aku hanyut dan lupa bahwa aku saat ini sedang ada di bis yang akan membawa ku pada pemberhentian. Lima tahun sudah cukup membuatku mengerti bahwa dunia memang tempat lalu lalang orang yang datang dan pergi, dengan permisi atau tidak, adalah hak siapa pun untuk memilih pada detik keberapa dia ingin melakukannya. dengan memberi alasan ataupun merahasiakan. Berhak berkabar maupun tidak sama sekali. Hanya saja, penerimaan mengenai yang datang dan pergi akan terasa begitu lapang jika kiranya selama diantara kedua situasi itu tidak pernah ada yang mengenalkan tentang apa itu cinta.
Dan juga hak Kak Fajar untuk memilih tidak kembali. Sebagaimana haknya dulu, datang dan pergi tanpa permisi. Juga pilihannya yang tak pernah berkabar. Bukan tidak mampu, sepertinya memang tidak ingin. Tapi aku telah berdamai, bahkan saat ini aku ingin berterimasih pada udara. Berharap udara bisa menyampaikan padanya. Berterimaksih karena telah menghampiriku saat diperpustakaan, karena telah menyuruhku untuk membaca buku itu, meski kenyataannya aku tidaklah sekokoh, seteguh, setangguh dan setabah Khadijah binti Khuwalid, Fatimah Binti Muhammad, Maryam Binti Imran dan Asiyah binti Muzahim, sama sekali tidak, sedikitpun tidak. Aku tetap perempuan rapuh.

Sisa perjalanan, ku tulis surat untuk Kak Fajar. Jangan tanyakan akan aku kirim kemana, aku pun tidak tahu. Yang aku tahu saat ini, bahwa aku ingin menulis namanya untuk terakhir kali.

Kak Fajar, saat ini aku sedang ada dalam perjalanan pulang ke rumah dari kosan dekat kampusku. Sudah berbulan ibu selalu membicarakan Tama. Katanya dia adalah putra teman Ayah yang berkeinginan mempersuntingku. Kali ini aku sudah tidak bisa beralasan lagi. Aku tidak tega melihat ibu menangis memintaku pulang dan menerima lamaran Tama. Ibu ingin aku cepat beri cucu untuknya, juga sama halnya dengan Ayah. Aku tidak mengenal laki-laki itu, Kak. Berhari-hari telah aku istikhorohkan. Sepertinya aku harus ikut kemauan Ibu.

Tidak pernah ada yang membuat ku jatuh hati selama ini. Ya, jatuh hati. Setelah lima tahun aku baru berani menuliskannya. Bahwa aku mencintaimu diam-diam, menunggunggumu sungguh-sunggu, percaya kepulanganmu dalam-dalam. Beriringan dengan itu, harus aku akhiri perasaan ini cepat-cepat. Sebelum aku sampai rumah. Karena ternyata cintaku bukan untukmu.

Terimakasih Kak Fajar. Kamu mengajarkan ku bahwa aku berharga dan patut untuk ku lindungin sebelum datang pelindung yang mempersembahkan seluruh jiwa dan raganya untukku. Terimakasih telah mengajarkan ku bahwa cinta bukan soal lama dan sebentar, tapi menjaga agar sinarnya tak redup.
Selamat tinggal.

Sudah ku bilang aku tetap perempuan rapuh. Tak punya benteng yang kokoh untuk menahan air mata jatuh. Ku biarkan untuk yang tekahir kalinya. Aku berjanji tidak akan seperti ini lagi. Karena aku akan segera milik Mas Tama.
***
“Kamu gak akan liat dulu fotonya?”
“Engga ah, Bu. Aku percaya Ibu. Kata ibu, Tama ganteng kan? Hehe” Apa pun akan aku lakukan untuk membuat ibu senang. Ibu tidak perlu tau gemuruhnya isi hati aku saat ini.
“Iya, Shiba. Ganteng pisan. Sholeh lagi”
***
Akan aku ceritakan akhirnya. Saat rombongan keluarga Tama tiba. Aku mematung dengan sebenar-benarnya mematung. Aku lupa apa saat itu aku berkedip atau tidak, tapi aku pastikan tidak lupa bernafas. Satu hal lagi yang aku lupa, belum pernah menanyakan nama lengkap Kak Fajar. Aku baru tahu saat Mas Tama datang, nama lengkapnya Fajar Putra Tama. Murid-muridnya biasa panggil Pak Fajar, keluarganya biasa panggil Tama. Dan itulah cerita akhirnya. Saat aku benar-benar pasrah dan tidak bergantung pada kepulangan Kak Fajar. Saat itu Allah malah diberi aku Mas Tama. Yang tidak lain satu orang yang sama.

Saat malam pertama, aku memukul Fajar yang memilih senja sepuasnya. Karena pernah buat aku hampir ingin berhenti mencintainya.

  • view 38