Kenangan Indah dari Keluargaku

Aisyah Gabriella D
Karya Aisyah Gabriella D Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 September 2016
Kenangan Indah dari Keluargaku

Aku lahir di tengah keluarga yang sangat sederhana. Bukan di tengah keluarga yang serba ada. Meskipun begitu, bukan berarti Ibu dan Ayah tak bisa mencukupi kebutuhanku. Hanya saja, kadang apa yang aku inginkan, aku harus bersabar untuk mendapatkannya.

Aku masih ingat masa-masa kecilku dulu. Saat Ibu dan Ayahku bekerja, aku dan adik di titipkan dirumah nenek. Beruntungnya rumah nenek dekat dengan tempat Ibu bekerja dan tempat kami bersekolah. Rumah kami pun tak jauh dari rumah nenek.

Setiap pagi kami sekeluarga harus boyongan kerumah nenek. Dengan motor Yamaha Alfa entah produksi tahun berapa yang bunyinya bisa bangunin orang sekampung, kami berangkat kerumah nenek. Ayah menurunkan kami di pasar dekat dengan rumah nenek. Ayah berangkat kerja dan kami berjalan kerumah nenek melewati pasar menggunakan seragam lengkap dengan tas berisi buku tanpa sepatu, begitu juga dengan Adikku. Sedangkan Ibuku memakai celana kerja dengan kaos ditambah tas berisi pakaian ganti kami dan bekal makan siang. Namanya juga anak kecil yang masih belum mengerti keadaan, kadang aku malu karena banyak orang yang melihat bagian kakiku. Mungkin yang mereka lihat adalah ada anak sekolah yang pergi tanpa menggunakan sepatu. Hehe. Padahal bukan begitu, sepatu kami sengaja di letakkan dirrumah nenek. Jadi sebelum berangkat sekolah kami mampir dulu kerumah nenek untuk memakai sepatu kemudian berangkat sekolah.

Ohya, Ibuku bekerja di toko swalayan ternama di daerah Plaza Sidoarjo sebagai kasir. Kalau kita sering dengar Ibu Rumah Tangga yang berkarir tidak mampu mengurus keluarga maka itu bisa kubantahkan. Karena disaat Ibuku bekerja, Ibu tidak pernah lupa dengan anak-anaknya dirumah. Disaat teman-teman Ibu pergi makan di waktu istirahat bekerja, Ibuku memilih pulang melihat kondisi anak-anaknya dirumah. Ibu juga tidak pernah absen bangun pagi untuk membuatkan kami makanan. Ibu setiap hari selalu memasak.

Jika Ibu kerja masuk pagi, maka saat istirahat siang Ibu pulang untuk menyuapi kami makan siang dan menidurkan kami. Ya, kami harus tidur siang karena sorenya kami harus pergi mengaji. Tapi kadang hal yang membuatku menangis adalah ketika menjelang tidur masih bersama Ibu, bangun-bangun Ibu sudah ga ada di sebelah. Padahal Ibu bekerja hehehe.

Tapi ketika Ibu bekerja masuk shift siang, saat istirahat sore pun Ibu pulang. Ibu tetap pulang untuk memastikan apakah aku dan Adik sudah makan siang atau belum. Setelah itu Ibu memandikan kami karena kami harus segera pergi mengaji di masjid dekat rumah nenek dan dekat pula dengan Ibu bekerja. Kami berangkat mengaji pukul 15.15 WIB, sedangkan Ibu kembali bekerja 15 menit kemudian.

Kebetulan tempat kami mengaji di lantai dua masjid. Hal yang sering aku lakukan saat menunggu Ustadz/ah datang adalah aku berdiri di balkon lantai 2 masjid, dari sana aku bisa melihat Ibuku pergi bekerja. Setelah punggung Ibu tak terlihat barulah aku masuk lagi ke ruangan tempat kami belajar.

Ayah lebih dulu pulang kerja dibanding aku dan Adik pulang mengaji. Saat pulang kerja Ayah lebih sering menunggu di warung kopi dekat masjid tempat kami mengaji, kadang di warung kopi agak jauh dari masjid. Ketika pulang mengaji dan masih belum ku lihat Ayah di warung kopi, aku selalu meminta Almh. Nenek uang Rp.500 untuk menelp tempat Ayah bekerja di wartel. Masih kuingat kalimat yang selalu ku ucapkan ke satpam perusahaan tersebut adalah “Halo, assalaamu’alaykum. Ayah sudah pulang?”. Hehehe. Pak satpampun awalnya bingung, Ayah mana yang dicari. Pak satpam pun bertanya balik, “Ayahnya namanya siapa?”, namanya “Pak Dhofir, Om..” hahaha. Akhirnya ketika telp di lain waktu redaksi ketika menelpon kuganti menjadi “Halo, Pak Dhofirnya sudah pulang apa belum?” hehehe. Klo mereka mengatakan Ayahku sudah pulang, aku bingung setengah mati kemana Ayahku. Tapi klo mereka bilang Ayahku sedang lembur, aku menunggu Ayah dirumah nenek.

Sore kami harus pulang kerumah bersama Ayah. Karena aku dan Adik harus belajar dan menyiapkan buku pelajaran untuk hari esok. Kami di wajibkan belajar mulai dari selepas maghrib sampai selesai isyak. Ayah sering mengajak kami ke masjid. Kadang kami shalat dirumah entah berjama’ah atau sendiri-sendiri. Masih ingat ketika Ayah menyuruhku membaca surat Yasin selepas shalat maghrib. Kadang kita membacanya berdua, kadang aku sendiri yang membaca. Kadang aku pun curang, aku membaca tulisan latinnya alias bahasa indonesianya hahaha. Ayah sering marah karena yang kubaca bukan huruf arabnya tapi tulisan latinnya hehehe.

Setelah shalat isyak, ketika Ibu masuk siang, kami harus pergi kerumah neneklagi untuk menjemput Ibu pulang kerja. Ibu pulang pukul 21.00 WIB, jadi aku dan Adik masih ada sisa waktu untuk bermain dengan teman-teman. Kadang 5 menit sebelum Ibu pulang, aku dan Adik pergi ke toko tempat Ibu bekerja. Kami berdiri di depan pintu keluar menunggu Ibu keluar dan ketika Ibu keluar kami sama-sama pulang. Meskipun seharian Ibu bekerja, bau Ibu tetap wangi. Bau toko hehehe.

Begitulah rutinitas kami sehari-hari. Ibuku yang tak pernah melalaikan tanggung jawabnya sedangkan Ayahku orang yang paling menerima. Keduanya mengajarkan kami arti sebuah memaafkan dan menerima.

Memasuki sekolah SMP, Ibu menghadiahkan aku sepeda berwarna merah. Bukan sepeda mahal. Namun sepeda bekas yang dibelinya dengan harga Rp. 75.000. Sepeda kuno, bukan seperti sepeda teman-teman yang harganya juta’an. Tak mengapa, aku tetap pergi ke sekolah menggunakan sepeda. Kali ini aku sudah tidak diantar Ayah untuk pergi ke sekolah, aku mulai bersepeda sendiri. Pulang sekolah aku masih ke rumah nenek karena Ibu masih bekerja di toko.

Beberapa bulan kemudian, Ibu mengabarkan bahwasanya beliau akan berhenti bekerja. Karena perusahaan akan memindahkan Ibu dan sejumlah karyawan lain di daerah surabaya. Beberapa teman Ibu setuju dan tetap bekerja. Sedangkan Ibuku memutuskan untuk berhenti bekerja. Dengan alasan, jijka Ibu bekerja di daerah Surabaya, Ibu tidak bisa merawat kami lagi. Akhirnya Ibu berhenti bekerja. Hal yang paling kuingat saat Ibu mengabarkan bahwasanya Ibu tidak lagi bekerja adalah aku mengatakan “Loh, klo Ibu sudah ga kerja, nanti aku ga bisa beli baju di matahar* ya, Bu” hehehe. Dan aku baru sadar ketika beberapa tahun kemudian Ibu menceritakan bahwasanya Ibu menangis ketika aku mengucapkan hal tersebut. Kalimat itu ternyata masih Ibu ingat.

Ohya, kami sekeluarga tinggal di rumah kontrakan yang terbuat dari bambu selama 15 tahun. Selepas Ibu berhenti bekerja, Ibu memulai usaha membuat kue Wingko yang dijual di pasar. Tak disangka, ternyata penghasilan dari penjualan wingko 3x lipat dari penghasilan Ibu bekerja di toko.

Waktu itu, sang pemilik rumah mengabarkan bahwa kontrakan kami akan segera habis masa pinjaman. Kami harus segera pindah karena kontrakan yang kami tempati akan di bangun sebuah kos-kosan. Kami sekeluarga bingung harus pindah kemana. Mencari rumah kesana kemari. Hanya mencari. Ya, hanya mencari karena keluarga kami belum mempunyai uang.

Tapi karena kuasa Allah yang mengetahui usaha hamba-Nya, ada kerabat dekat yang mengabarkan ada rumah dijual di gang sebelah tempat kami tinggal. Rumah berukuran 10x10 mampu kita beli pada waktu itu. Uang dari mana? Uang dari hasil penjualan sepetak tanah, penjualan sepeda motor kami hasil uang pesangon Ibu dan pinjaman ke kerabat yang lain. Hutang? Yah! For the first time orang tua kami meminjam uang.

Orang tua kami mengajarkan arti menerima. Orang tua kami tidak pernah meminjam uang kepada siapapun. Ibu selalu berpesan “Klo ga punya uang, jangan pengen beli sesuatu, Mbak.. ditahan. Jangan sampai beli sesuatu karena hutang. Klo ga punya uang yasudah, ndak usah kepingin.” Begitu pesan Ibu yang selalu ku ingat. Ibu selalu menerima apa yang ada dalam hidup kami. Ibu tidak pernah memaksakan apa yang menjadi keinginannya. Ibu selalu mengatakan yang sebenarnya kepada kami. Ibuku tidak pernah menghambur-hamburkan uangnya untuk sesuatu yang tidak bermanfaat. Disamping itu, Ibu selalu mendahulukan anak-anaknya.

Hal yang paling kuingat saat Ibu lebih menomor satukan anak-anaknya di bandingkan dirinya sendiri sampai sekaang adalah Ibu selalu mengatakan “Ibu Ayah sudah” saat kami menawarkan makanan. Begitu juga dengan Ayah. Padahal kami tau, Ibu dan Ayah belum memakannya. Hanya saja mereka menginginkan kami memakannya terlebih dahulu. Itu bagian kecil dari contoh sifat Ibu dan Bapak kami saat menomor satukan anaknya di banding dirinya sendiri.

Ayah selalu menegur kami saat kami keceplosan menggunjing orang lain, Ayah orang yang paling tidak mau membunuh hewan, Ayah yang selalu membantu orang lain daaaan kebaikan-kebaikannya yang lain.

Saat ini aku duduk di bangku kuliah, beranjak menjadi gadis dewasa bukan gadis kecilnya lagi. Meskipun sudah beranjak dewasa, dimata mereka aku tetaplah anak gadis kecilnya. Ibu masih melarangku pergi kesana kemari tanpa alasan yang jelas dan Ayah yang selalu bertanya pergi kemana? Kapan? Sampai kapan? Dan dengan siapa. Yang masih kuingat saat aku masih duduk di bangku SD adalah Ayah selalu mengizinkanku pergi dan sebelum pergi Ayah selalu mengingatkan “Jangan lupa shalat, Mbak..” sebelum tidur malam pun Ayah selalu melempar kalung tasbih ke tempat tidur. Iya, aku disuruh membaca wirid sebelum tidur. Ya Allah aku masih ingat hehehe.

Tapi sekarang Ayah sudah jarang melakukan hal tersebut, karena mungkin Ayah sudah memberikan kepercayaan kepadaku. Karena pernah sekali aku menegur Ayah, “Ayah, kok aku sekarang sudah ga pernah disuruh shalat? Kok ga pernah dilempar kalung tasbih lagi?” dan jawaban Ayah adalah “kan sekarang sudah besar, Mbak”. Hmm, okelah apapun jawaban Ayah aku yakin rasa cinta dan sayang Ayah kepadaku tak berkurang sedikitpun. Hanya saja saat ini Ayah melakukannya dengan cara yang berbeda.

Begitulah keluarga kecil kami. Cerita dari keluarga kami tak semulus cerita yang ku tuangkan dalam barisan cerita ini. Banyak lika-liku yang telah kami lalui. Ibu dan Ayah mengajarkan banyak hal tentang keikhlasan, tentang penerimaan, tentang memaafkan siapapun yang menyakiti kami.

Secara tidak langsung orang tua kami mengajarkan agar kami bisa sehidup sesurga. Orang tua yang memasukkan kami ke madrasah berharap anak-anaknya menjadi anak yang shalih/ah, memasukkan kami ke TPQ, menempatkan kami di lingkungan yang luar biasa. Ibu yang disiplin dalam urusan apapun, Ayah yang selalu mengingatkan urusan apapun yang berkaitan dengan agama.

Banyak pelajaran-pelajaran yang bisa dicontoh dari keluargaku khususnya cara Ibu dan Ayahku dalam mendidik anak-anaknya. Bukan berarti mereka tak pernah melakukan kesalahan dalam mendidik kami. Bukankah mereka hanya seorang Ibu dan Ayah yang masih harus terus belajar selama mereka masih hidup?

Seperti firman-Nya, bahwasanya dunia hanya sementara dan gurauan belaka sedangkan akhirat lah tempat kehidupan yang sesungguhnya. Sehidup sesurga. Yaa, kami berharap bisa sehidup sesurga bersama-sama. Berusaha sehidup didunia bersama dengan melakukan yang terbaik sesuai aturan-Nya dan saat kami harus kembali menghadap-Nya satu persatu entah siapa yang lebih dulu, kami bisa berkumpul lagi sesurga bersama.

Sehidup sesurga bersamamu Ibu, Ayah dan Adikku..

  • view 310