“Suaramu begitu dekat seperti berada disampingku”

Aisyah Asfara
Karya Aisyah Asfara Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 Desember 2016
“Suaramu begitu dekat seperti berada disampingku”

“Suaramu begitu dekat seperti berada disampingku” 

Tepat tiga bulan, aku selalu melihat kata-katamu, mendengarkan suaramu melalui telepon genggamku, tidak pernah berhenti kita bercengkrama dan saling mengenal. 975.72 KM perbedaan jarak kita saat ini, namun 975.72 KM itu sangat dekat dengan kampung halaman Ayahku. Bukan hanya kampung halaman Ayahku yang begitu dekat dengan tempat singgah sanamu, namun suaramu juga begitu dekat dengan jiwaku layaknya 0 KM bukan 975.72 KM jaraknya.

Kemampuanmu begitu elok untuk membawaku terus berada seolah-olah disampingmu, setiap kata yang kau ucapkan membuatku selalu nyaman untuk banyak bertukar cerita denganmu. Jika kita sama-sama mengingat hal-hal lucu yang pernah dilakukan bersama, dimulai dari caramu yang selalu dapat membuatku tersenyum.

Saat itu, diawali dengan Surah Ar-Rahman, kau mampu membuatku begitu antusias menanggapimu. Sebagai pengingat bagi kita umat Nabi Muhammad akan kebesaran dan rasa syukur kepadaNya atas apa yang Tuhan berikan untuk kita. Dari situ, dari Surah itulah, aku mulai mengerti betapa Tuhan banyak memberi kepada kita, namun kita masih belum merasa cukup atas apa yang diberikanNya. Dan kau hadir, untuk membahas Surah itu bersamaku, dari kejauhan pada malam itu.

Perasaanku sangat senang, saat orang yang baru hadir namun merasa mampu berada difrekuensiku dengan baik. Kaulah orangnya. Seiring berjalannya waktu, aku mulai memahamimu dan begitupun engkau. Terkadang aku sering tidak sadar akan ketidakpekaanku terhadap sesuatu yang kau katakan dan sesuatu yang mungkin kau berikan, aku tidak sadar ketika malam itu adalah malam pergantian tahun untukmu, yang hanya kasar terdengar ditelingaku, kau menyebutkan tengah malam sebentar lagi akan datang, 15 menit lagi jam 12 malam akan datang, tanpa aku hiraukan maksud perkataanmu. Aku hanya menganggap itu, anjuran untuk segera tidur dan istirahat. 

Keesokan harinya, kau mengatakan padaku, semalam adalah pergantian tahunku, semalam adalah malam yang begitu membuatku haru karena ada seseorang yang dapat mendengarkan, berbincang, bercanda bersamaku dimalam pergantian tahunku, tidak lebih yang aku harapkan hanya itu.

Ketika kau mengungkap hal tersebut, detak jantungku berdegup sedikit kencang seolah mengingatkanku pada malam sebelumnya, ketidakpekaan terhadap sesuatu pada diri ini memang sedikit parah bagiku. Namun, ketika ada seseorang yang menyadarkanku layaknya dirimu, mungkin ketidakpekaanku akan sedikit berkurang. Terima kasih telah membuatku tersadar.

Setelah aku tahu, bahwa hari itu adalah pergantian tahunmu, aku berusaha untuk membuatmu bahagia dengan membuat gambar yang sebelumnya tidak pernah aku goreskan dikertas putih, aku berusaha berada dalam imajinasimu. Aku menggambar untukmu, meskipun aku merasa sulit namun tetap aku lakukan, sampai akhirnya aku sematkan huruf kanji “Happy Birthday” untukmu. Karena aku ingin mulai menebar kebahagiaan untukmu yang mungkin hal itu adalah huruf yang kau sukai.

Berkali-kali kau katakan padaku, kau ingin sekali mengenaliku, mengetahui segala tentangku, dan berkali-kali pula aku katakan kita dapat berproses, lebih baik kita menikmati proses dan semua harus dilakukan tahap demi tahap. Kemungkinan besar, kau tidak sabar sehingga coba mencariku di dunia maya dan mencari informasi tentangku. Lagi-lagi aku harus berkata semua ada prosesnya dan tahap yang harus dilalui tidak semata-mata hanya merasa cukup mengetahui semua tentangku melalui dunia maya. Bisa saja itu bukan duniaku yang sebenarnya.

Setelah itu, mungkin aku merasa kau lebih sabar untuk menikmati tahapan demi tahapan perkenalan denganku, aku mulai mengenali karaktermu begitupun sebaliknya, aku mulai mengerti apa yang kau kerjakan begitupun seballiknya, aku mulai tahu persepsimu terhadap sesuatu begitupun sebaliknya, aku mulai memahami tujuanmu terhadapku begitupun sebaliknya, sampai akhirnya kita mungkin sudah berada dalam situasi saling mengenal satu sama lainnya, meskipun fisik belum saling bertemu.

Banyak cerita yang sudah kita bagi bersama, banyak canda yang sudah kita tertawakan bersama, banyak kesedihan yang sudah kita lalui bersama, banyak lelucon yang terkadang membuat kita sama-sama layaknya seperti anak-anak bersama, banyaknya hal-hal tersebut yang membuat kita menjadi diri sendiri. Tidak ragu lagi menceritakan yang buruk dan yang baik pada diri kita, dan tanpa jeda kita merasa saling percaya walau dengan jarak yang berjauhan.

Namun suatu ketika ada saja sekuel yang membuatku terasa sedikit sesak dengan kondisi kita. Kita yang belum dipertemukan, kita yang terkadang terganggu dalam berkomunikasi, sekuel yang menurutku tidak aku harapkan terjadi. Aku harus bertahan dan berusaha memberikan pertahanan pada dirimu juga agar kita bersama tetap sabar dalam komitmen yang sudah dibangun. Setiap malam adalah waktu kita untuk berbagi cerita, canda tawa dan membicarakan masa depan, saat-saat itulah yang aku selalu tunggu setiap malam, dimana saat semua letih menjadi satu setelah beraktivitas seharian, dan ketika mendengar suaramu semua terasa lebih ringan, namun saat itu ada saja sekuel yang terkadang tidak aku inginkan. Seketika sedang sangat menyenangkan pembicaraan kita, kau harus menjedanya untuk bekerja. Aku merasa saat itu, penghargaan kita terhadap waktu sangat minim. Sekuel ini yang tidaklah aku harapkan. Bisakah kita memperbaikinya?”

Aku faham tidak selamanya kita bisa tersenyum, tertawa, bahagia. Tidak selamanya apa yang menjadi harapan sesuai dengan yang kita inginkan. Hanya dengan saling memahami dan menghargailah kita bisa saling menguatkan, dan tentu tidak melupakan Sang Pencipta yang telah memberikan AnugrahNya kepada kita untuk dapat saling mengenal. Aku ingin, kita tetap dalam naunganNya, dalam perlindunganNya sampai nanti. Sampai, Namaku dan namamu menjadi satu dan takkan terpisahkan selain karena ketentuanNya.

 -St.Aisyah-

 

  • view 340