“RAYAKAN SUMPAH PEMUDAMU!”

Aisyah Asfara
Karya Aisyah Asfara Kategori Inspiratif
dipublikasikan 10 Oktober 2016
“RAYAKAN SUMPAH PEMUDAMU!”

“RAYAKAN SUMPAH PEMUDAMU!”

 

 

Sejarah Sumpah Pemuda

Peristiwa sejarah Soempah Pemoeda atau Sumpah Pemuda merupakan suatu pengakuan dari Pemuda-Pemudi Indonesia yang mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 hasil rumusan dari Kerapatan Pemoeda-Pemoedi atau Kongres Pemuda II Indonesia yang hingga kini setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda.

Kongres Pemuda II dilaksanakan tiga sesi di tiga tempat berbeda oleh organisasi Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) yang beranggotakan pelajar dari seluruh wilayah Indonesia. Kongres tersebut dihadiri oleh berbagai wakil organisasi kepemudaan yaitu Jong Java, Jong Batak, Jong, Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb serta pengamat dari pemuda tiong hoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie.

 Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat.

Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Dalam sambutannya, ketua PPPI Sugondo Djojopuspito berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda.

Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.

 Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan.

Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

Pada rapat penutup, di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106, Sunario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.

 

Sumpah Pemuda adalah Bukti Otentik

Sumpah Pemuda merupakan bukti otentik bahwa pada tanggal 28 oktober 1928 Bangsa Indonesia dilahirkan, oleh karena itu seharusnya seluruh rakyat Indonesia memperingati momentum 28 oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia, proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudian mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi Mengangkat Harkat dan Martabat Hidup Orang Indonesia Asli, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945.

Rumusan Sumpah Pemuda ditulis oleh Moehammad Yamin pada sebuah kertas ketika Mr. Sunario, sebagai utusan kepanduan tengah berpidato pada sesi terakhir kongres. Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin.

Tempat yang menjadi pembacaan pertama naskah Sumpah Pemuda adalah bangunan di Jalan Kramat Raya 106, ini merupakan sebuah rumah pondokan untuk pelajar dan mahasiswa milik Sie Kok Liong. Sebagian peserta dalam kegiatan ini adalah anak muda yang berusia 20-an tahun. Anak-anak muda itu mampu memberikan inspirasi yang luar biasa bagi bangsanya, dan mereka telah membuat sejarah. Visi anak-anak muda yang hadir pada saat itu sudah menjangkau jauh ke depan. Dengan membentuk tujuan “Demi Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa.

Persoalan suku, ras, golongan, dan bahasa telah “selesai” di tahun 1928 karena sekian ribu suku dan bahasa merelakan diri menjadi Indonesia. Ini adalah salah satu bentuk perjuangan para pemuda digarda depan untuk gerakan kebangkitan bangsa. Anak-anak mudalah yang dapat mengubah zaman. Republik ini lahir bukan hanya oleh Soekarno-Hatta saja, tetapi di sana ada Tan Malaka, Moh Yamin, Syahrir, Achmad Soebardjo, dan puluhan anak muda pemberani yang punya nyali luar biasa pada saat itu.

 

Ruang dan Kepercayaan bagi Anak Muda

Kita yakin, republik yang sekarang ini sedang banyak mengalami persoalan-persoalan dan pasti akan membaik di tangan anak-anak muda yang berkualitas. Mereka masih memiliki idealisme tinggi, belum terkontaminasi perilaku para pemimpin yang menerapkan korupsi, dan banyak yang memiliki pendidikan serta sangat cukup dalam wawasan kenegaraannya.

Persoalannya hanyalah kesempatan. Mereka tidak banyak memiliki ruang, karena pemimpin sebelumnya cenderung mendominasi. Kaderisasi tidak berjalan, dan kepercayaan masih kurang dikalangan anak muda.

Kita ingin mengingatkan para pengelola negara. Berikanlah atmosfer yang cukup bagi tumbuhnya anak-anak muda di banyak kesempatan dan medan. Kita mengambil contoh sederhana saja, di Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, berapa gelintir anak muda di sana. Sangat kecil. Itu artinya, pemimpin belum bisa memberikan kepercayaan pada anak-anaknya sendiri. Jika atmosfer dan kepercayaan tidak diberikan, kaderisasi pemimpin pasti terhambat. Kesadaran ini harus segera dibangunkan.

Banyak cara dalam memaknai Sumpah Pemuda. Berprestasi di bidang yang digeluti saja sudah merupakan salah satu bentuk pemaknaan.

Pada saat ini, ketika hampir kebanyakan anak muda Indonesia sudah sangat melek dunia maya, entah lewat perangkat komputer ataupun ponsel, memaknai hari bersejarah yang jatuh pada tanggal 28 Oktober itu bisa melalui internet.

Sebagai contoh, Program remaja PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) DKI Jakarta memiliki cara yang unik dalam memaknai Hari Sumpah Pemuda yang akan diselenggarakan pada tanggal 30 Oktober ini. Dengan “Campaign Stop Cyber Bullying”. Cyber bullying adalah segala bentuk kekerasan yang dialami anak atau remaja dan dilakukan teman seusia mereka melalui dunia cyber atau internet. Kasus Cyber Bullying sangat marak akhir-akhir ini, terlihat dari data yang dilaporkan bahwa terdapat 4 Facebok yang menjadi medium pionir untuk melakukan tindakan cyber bullying.

Dalam hasil penelitian yang dilakukan oleh www.knowthenet.org.uk bahwa Facebook menempati posisi tertinggi dalam aksi cyber bullying sebesar 87%. Menurut hasil penelitian tersebut, 49% remaja diketahui menjadi korban bully pada dunia nyata sedangkan 65% dari mereka adalah korban dari cyber bullying.

Dari sini terlihat kasus bullying lebih tinggi melalui sosial media. Maka untuk menyikapi hal tersebut yang perlu dilakukan adalah upaya preventif. Campaign yang akan dilakukan ini untuk mengingatkan anak muda untuk lebih sadar bahwa kehadiran online (punya alamat email, online profile, posting di milis atau forum, menulis di blog atau website) pada dasarnya seperti kita berada ditempat umum. Dengan kata lain, kita harus pandai-pandai menjaga diri dalam citra diri (misalnya sebagai orang Indonesia), keamanan data pribadi yang bersifat sensitif, dan memperhatikan azas manfaat untuk diri sendiri maupun orang lain.

Campaign ini juga akan mempromosikan penggunaan sosial media yang sehat bagi anak muda, dengan tidak menggunakan kekerasan seperti ancaman, mengunggah foto yang mempermalukan korban, membuat situs web untuk menyebar fitnah dan mengolok-olok korban hingga mengakses akun jejaring sosial orang lain untuk mengancam korban.

Sehingga anak muda dapat terhindar dari segala bentuk kekerasan di dunia maya maupun dunia nyata, anak-anak muda bangsa ini juga bisa memiliki ruang yang aman dan nyaman untuk berekspresi tanpa stigma & diskriminasi dan menjadi generasi penerus bangsa yang berkualitas.

Selamat berjuang para pemuda bangsa.

Selamat Hari Sumpah Pemuda. ~Siti Aisyah~

 

Sumber:

http://doublew024002.wordpress.com/2010/10/28/dirgahayu-sumpah-pemuda-2010/

http://www.jurnalkommas.com/docs/JURNAL%20-%20FIX.pdf

http://journal.unair.ac.id/download-fullpapers-kmnts73d7a00d3dfull.pdf

  • view 311