“Kau Yang Membuatku Nyaman, Namun Tak Dapat Ku Cintai”

Aisyah Asfara
Karya Aisyah Asfara Kategori Renungan
dipublikasikan 02 Oktober 2016
“Kau Yang Membuatku Nyaman, Namun Tak Dapat Ku Cintai”

“Kau Yang Membuatku Nyaman, Namun Tak Dapat Ku Cintai”

Tersadar pagi ini ku bangun tidur dengan rasa cemas, karena hari ini sudah berganti bulan kembali, satu bulan, dua bulan, tiga bulan kedepan adalah masa-masa cemas bagiku. Rasanya tidak ingin selalu mengingatkan hal itu, namun tetap saja hati dan pikiran ini terbawa oleh waktu dan kerinduan. Ku ingat ketika dulu kau hadir dalam keraguanku, saat aku jatuh sakit karena sebuah pengorbanan, dan kau mampu membuatku tersenyum kembali. Kau adalah satu-satunya yang selalu ada untuk mendengarkan cerita kecewaku, kau juga yang memulihkan kekecewaan itu. Tampa pamrih, kau memang selalu ada.

2009, adalah tahun pertama kita saling bertatap wajah. Mengenalmu adalah sebuah anugrah yang diberikan oleh Tuhan, dan menjadi warna bagiku. Menjadi teman yang baik, menyenangkan, sabar dan sangat membuatku nyaman. Kau selalu ada ketika ku senang, bahkan sedang berduka. Kau adalah sumber solusi dari beberapa permasalahanku. Kau juga yang membuatku mengerti makna menghargai satu sama lain. Hampir 8 tahun kita terus terjaga, walau sempat tak tersampaikan kabar tentangmu beberapa tahun. Namun, ditahun 2013, Tuhan lagi-lagi mempertemukan kita. Kau memang tak bisa jauh dariku, bahkan tempat tinggalmu sangat dekat dengan tempat bekerjaku. Anugrah ini memang indah, Tuhan.

Tetap saja, hal ini tetap membuat kita berjarak, karena kaupun bekerja diluar kota. Kota dimana kampung halaman orang tuaku. Masih saja sama, lingkupnya selalu berdekatan. Walau tidak tersadarkan. Ini tentu sudah menjadi rencana indah-Nya. Sesekali kau datang menemuiku, sesekali kita bertemu karena kebetulan, sesekali juga aku menolak untuk bertemu karena kesibukanku yang sangat kau benci itu. Apapun itu, kau harus tau bahwa aku selalu menantikan pertemuan kita. Karena dengan bertemu denganmu, aku merasa lebih relaks, merasa ada teman yang setia mendengarkanku, merasa semua beban telah hilang karena kau membuatku tersenyum nyaman.

Aku merasa apa adanya, tidak ada yang ku buat-buat ketika bersamamu, tidak sungkan aku bercerita semua persoalanku & tujuan hidupku, bahkan aku ingin selalu menyampaikan bahwa “aku merindukanmu”. Saat ini, aku merasa kita memilki jarak yang tak biasa, kau pernah meminta sesuatu yang bisa lebih dari sekedar berteman, namun aku tidak bisa. Kau adalah laki-laki yang membuatku Nyaman, namun tak dapatku cintai, Dear.

Aku tidak merasakan ingin mengubah, bangunan yang telah kokoh dibangun, aku tidak ingin merubah langit cerah menjadi gelap, aku pun tidak ingin merubah apa yang sudah hatiku pilih nyaman denganmu. Karena jika sampai itu terjadi, mungkin kita tidak akan seperti biasanya lagi.

Kini, aku akan lebih menjaga jarak kita, karena sebentar lagi hari bahagiamu akan kau lalui bersamanya, diakhir tahun ini. Aku sangat belajar cara menghargai seseorang darimu. Aku senang ketika bisa mendengar kabar yang begitu mengharukan bagimu. Akhirnya, setelah penantian panjangmu, kini kau menemukannya, wanita cantik dan shalehah satu ras denganmu. Alhamdulillah, Puji Syukur Tuhan.

Dibalik rasa syukurku, aku tetap merasakan kecemasan. Entah apa penyebabnya, entah bagaimana aku bisa melaluinya. Aku hanya masih takut kehilangan seseorang yang membuatku nyaman dan selama ini selalu membuat senyum diwajahku. Apa aku akan mendapatkan seseorang yang sama? Apa aku bisa nyaman dengan seseorang yang lain selain dirimu, Dear? Aku sangat mengharapkan hatiku ini mampu menanganinya dengan baik tanpa duka. Mungkin, jika mengingat semua kebaikan yang telah kau lakukan untukku, aku tidak pernah akan cemas lagi. Aku akan bahagia bersama kebahagiaanmu, senyumku melepaskan kau pergi, Dear. (NB)

~St. Aisyah~

 

  • view 802