HARI ANAK BUKAN HANYA SEKEDAR CEREMONIAL “Mengulik Sejarah Hari Anak dan Pering

Aisyah Asfara
Karya Aisyah Asfara Kategori Sejarah
dipublikasikan 15 Juli 2016
HARI ANAK BUKAN HANYA SEKEDAR CEREMONIAL  “Mengulik Sejarah Hari Anak dan Pering

 

Sejarahnya Hari Anak

Hari Anak merupakan event yang diselenggarakan pada tanggal yang berbeda-beda di berbagai negara. Jika kita ketahui bahwa Hari Anak terdiri dari Hari Anak International (1 Juni) dan Hari Anak Universal (20 November). Keduanya diperingati di tanggal yang berbeda. Tanggal tersebut diumumkan oleh PBB sebagai hari anak-anak sedunia.

 UNICEF pertama kali menyelenggarakan peringatan hari anak sedunia pada bulan Oktober tahun 1953. Kemudian pada Tanggal 14 Desember 1954, Majelis Umum PBB lewat sebuah resolusi mengumumkan satu hari tertentu dalam setahun sebagai hari anak se-dunia yaitu pada tanggal 20 November. Setiap Negara bisa saja merayakan Hari Anak pada tanggal yang berbeda-beda, namun Peringatan ini tetap bertujuan sama yaitu menghormati hak-hak anak di seluruh dunia.

 Namun, di Indonesia Hari Anak Nasional diperingati setiap 23 Juli sesuai dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Presiden Soeharto) Nomor 44 Tahun 1984 tanggal 19 Juli 1984. Hal ini  berawal dari gagasan mantan presiden RI ke-2 (Soeharto), yang melihat anak-anak sebagai aset kemajuan bangsa, sehingga sejak tahun 1984 berdasarkan Keputusan Presiden RI No 44 tahun 1984, ditetapkan setiap tanggal 23 Juli sebagai Hari Anak Nasional (HAN). Kegiatan Hari Anak Nasional dilaksanakan mulai dari tingkat pusat, hingga daerah.

 Kemudian pemerintah Republik Indonesia juga telah mengeluarkan UU No. 4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak yang memuat berbagai ketentuan tentang masalah anak di Indonesia. Instruksi Presiden No. 2 tahun 1989 telah ditetapkan tentang Pembinaan Kesejahteraan Anak sebagai landasan hukum terciptanya Dasawarsa Anak Indonesia 1 pada tahun 1986 - 1996 dan Dasawarsa Anak II pada tahun 1996 - 2006.

 Selanjutnya, dibentuk Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). KPAI sebagai insitusi independen guna melakukan pengawasan pelaksanaan upaya perlindungan anak yang dilakukan oleh institusi negara serta melakukan investigasi terhadap pelanggaran hak anak yang dilakukan negara, KPAI juga dapat memberikan saran dan masukkan secara langsung ke Presiden tentang berbagai upaya yang perlu dilakukan berkaitan dengan perlindungan anak.

Bagaimana cara memperingati Hari Anak

Peringatan Hari Anak Nasional hendaknya menjadi kebiasaan dan menyebar diseluruh wilayah Indonesia, bukan sekadar ceremonial. Di Peringatan tersebut, masyarakat kembali diingatkan akan pentingnya menyadari dan memahami hak-hak anak. Hal itu agar bisa menciptakan generasi penerus bangsa yang bermutu.

Apa yang harusnya dilakukan pada saat Peringatan Hari Anak

Peringatan Hari Anak Nasional sebaiknya dimulai dari lingkungan terdekat, yakni keluarga dan di sekitar rumah. Kebiasaan masyarakat Indonesia pada umumnya merayakan Hari Anak Nasional dengan cara mengumpulkan ratusan anak untuk sekemonial saja. Jumlah anak yang banyak tersebut sering kali bertujuan untuk memecahkan rekor semata.

Dalam rangka Peringatan Hari Anak Nasional baiknya dengan tujuan untuk membahagiakan anak dimulai dengan memperhatikan dan memenuhi hak-hak dasar anak, seperti memberikan mereka lingkungan yang aman dan nyaman untuk tumbuh dan berkembang.

Di samping itu, hak anak untuk berpartisipasi secara terbuka juga tidak boleh diabaikan. Orangtua hendaknya membuka komunikasi yang baik dengan anak, tidak hanya sekadar memaksakan kehendak orang tua.

Setiap lapisan masyarakat dan aparat pemerintahan dari tingkat atas hingga tingkat terendah menyadari bahwa kebahagiaan anak dimulai dari hal-hal kecil, Indonesia yang ramah anak bisa terwujud.

Hal ini juga merupakan momen positif yang bisa dilakukan untuk memberikan penghargaan ke berbagai aspek masyarakat yang berkontribusi kepada kemajuan kesejahteraan anak Indonesia sehingga masyarakat semakin termotivasi untuk memberikan rasa aman dan nyaman agar anak dapat bermain dan berpartisipasi secara terbuka.

Peringatan Hari Anak Nasional juga bisa dengan bentuk pemberian penghargaan kepada anak-anak yang dinilai memberi kontribusi positif dalam bagi lingkungan sekitar. Mereka adalah pendidik/pelajar, seniman, anak yang dalam Lembaga Pembinaan, dll.

Sebagai salah satu contoh, pada tahun lalu PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) DKI Jakarta juga memperingati Hari Anak Nasional di dalam LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak) Salemba, Jakarta Pusat. Kegiatan ini merupakan kerjasama dengan pihak LPKA Salemba. Tujuan dari kegiatan ini juga untuk menumbuhkan rasa percaya diri anak, membuka ruang untuk berpartisipasi dan menunjukkan keterampilan anak kepada orang tua dan stake holder terkait. Anak menampilkan tarian, bermain musik dan mempromosikan pameran komik yang telah dibuatnya di dalam LPKA.

Berbagai stake holder juga diundang dalam kegiatan ini, dengan alasan agar stake holder dapat melihat berbagai perkembangan anak yang telah terlatih dalam membangun potensi diri dan keterampilannya. Selain itu, Stake holder terkait juga dapat meningkatkan program bagi anak di dalam LPKA dalam menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman jauh dari tindak kekerasan dan diskriminasi.

~Siti Aisyah, SKM~

  • view 243