“Angka Pernikahan Anak Masih Tinggi? Mengapa

Aisyah Asfara
Karya Aisyah Asfara Kategori Kesehatan
dipublikasikan 15 Juli 2016
“Angka Pernikahan Anak Masih Tinggi? Mengapa

Menurut Data BPS tahun 2011, Wilayah tertinggi pernikahan dibawah umur yaitu dimulai dari Kalimantan Selatan (53,71%), Jawa Timur (52,89%), Jawa Barat (52,26%), Jambi (49,97%), Sulawesi Tenggara (49,56%). Indonesia adalah ranking kedua tertinggi angka pernikahan anak di ASEAN setelah Kamboja. Diperkirakan satu dari lima anak perempuan di Indonesia menikah sebelum mereka mencapai usia 18 tahun. Di Indonesia anak perempuan merupakan korban paling rentan  dari  pernikahan  anak. Berbagai faktor menjadi penguat semakin tingginya angka pernikahan anak.

Menghindari zina menjadi motif agama untuk menikahkan anak perempuan

Masih tabunya pendidikan HKSR di masyarakat, sehingga orang tua masih menganggap bahwa menikahkan anak menjadi solusi untuk menghindari fitnah dan zina. Walaupun anak masih belum lulus sekolah dan belum mencapai segala cita-citanya, orang tua cenderung memaksakan anaknya.

Selain dinikahkan secara dini, salah satu penyelesaian lain adalah nikah siri. Nikah siri dinilai dapat menyelamatkan kehormatan keluarga apabila kedapatan anaknya telah melakukan hubungan seks di luar nikah atau hanya pacaran saja. Hal yang lebih mengejutkan adalah bahwa rasa takut pada zina ini diakselerasi oleh rasa takut yang berlebihan pada dalil-dalil agama tentang hukum cambuk, hukum rajam, sampai mati, yang mustahil diterapkan di Indonesia yang tidak menganut hukum punitif seperti ini.

Ternyata narasi-narasi seperti ini telah tersosialisasikan dengan baik di kalangan masyarakat hingga menaikkan indeks pernikahan anak tertinggi kedua se-Asia Tenggara. Ini merupakan kemunduran tafsir yang jelas membawa dampak buruk bagi masa depan seluruh anak-anak perempuan Indonesia.

Pendidikan yang rendah

Secara nasional anak perempuan yang tamat SD lebih rentan masuk dalam lingkaran pernikahan yaitu 46,8% dibanding tamatan SMA (5,8%) atau Perguruan Tinggi (0,2%) menurut data Susenas 2012. Tamatan SMP juga rentan menjadi korban yaitu 33,9% dibanding lulusan SMA dan Perguruan Tinggi.

Rendahnya kepemimpinan perempuan dalam ruang publik merupakan penyumbang dari disparitas gender terutama dalam pendidikan. Seperti dalam temuan Court bahwa perempuan masih tetap terpinggir dalam arena kepemimpinan pendidikan. Sulitnya akses pendidikan dan angka drop-out tinggi di kalangan anak perempuan merupakan penyumbang besar bagi pernikahan anak.

 Jika kepribadian, kapasitas dan kompetensi anak perempuan memiliki pengaruh kuat pada berkurangnya prevalensi pernikahan anak. Anak-anak perempuan yang percaya diri dan mengetahui tentang diri dan subjektivitasnya.

Mengentaskan kemiskinan dengan cara melepaskan anak

Faktor ekonomi menjadi pemicu utama dari bagi orang tua untuk melepaskan anak untuk menikah, terlihat dari beberapa riset yang telah dilakukan. Menikahkan anak dianggap mengurangi beban keluarga dari kemiskinan dan keterpurukan. Salah satu FGD (Focus Group Discussion) yang dilakukan di Cikidang, Sukabumi, Kepala Desanya menyatakan bahwa di Desanya sendiri masih banyak keluarga yang melepaskan anaknya untuk menikah karena dianggap dapat mengurangi beban ekonomi keluarga.

Beberapa tokoh masyarakat Kabupaten Sukabumi juga menarasikan hal serupa bahwa faktor ekonomi merupakan pemicu penting dalam mencari akar penyebab status anak perempuan dalam pernikahan anak. Sekolah untuk anak perempuan merupakan beban bagi keluarga, maka jalan keluarnya adalah dengan menikahkan anak-anak perempuan, meskipun di bawah umur.

Anak perempuan yang tidak sekolah dan miskin, dalam beberapa kasus, justru dianggap membebani keluarga dan masyarakat. Apabila telah bergaul dengan laki-laki maka kemudian dinikahkan agar tidak membawa malu baik pada keluarga dan masyarakat. Ini merupakan kerentanan yang berlapis yang dialami anak perempuan ketimbang anak laki-laki dalam kasus pernikahan anak.  

Pernikahan anak banyak dipicu oleh tidak adanya pendidikan seksual komprehensif (Comprehensive  Sexual  Education). Kekosongan ini terjadi karena peningkatan ketabuan atas bicara tentang tubuh dan seksualitas. Penolakan atas pendidikan SRHR (sexual and reproductive health and rights) dalam kurikulum Indonesia telah meningkatkan jumlah pernikahan anak karena kemudian seksualitas dan kesehatan reproduksi menjadi tabu besar. Mendidik anak perempuan remaja telah menjadi faktor penting dalam meningkatkan usia perkawinan di Indonesia. Hal ini dapat dilakukan melalui pendidikan dan kampanye SRHR untuk mengakhiri pernikahan anak.

Bagaimana cara mengakhiri pernikahan anak?

Perlu adanya kebijakan dan dukungan pemerintah untuk melihat unit keluarga lebih spesifik jika angka pernikahan anak ingin dikurangi dan diturunkan. Para ahli agama diperlukan untuk memberikan tafsir yang lebih toleran, progresif dan adil gender atas fenomena pernikahan anak. Kebutuhan pendidikan seksual komprehensif (Comprehensive  Sexual  Education) mendesak untuk dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah agar anak-anak dan remaja mengetahui Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksinya. Karena pengetahuan HKSR adalah faktor penting dalam menekan atau mengurangi angka pernikahan anak.

~Siti.Aisyah, SKM~

  • view 226