“BELAJAR DARI PENDIDIKAN MASA LALU”

Aisyah Asfara
Karya Aisyah Asfara Kategori Sejarah
dipublikasikan 10 Mei 2016
“BELAJAR DARI PENDIDIKAN MASA LALU”

Setiap tahun kita memperingati “Hari Pendidikan Nasional” yang jatuh pada tanggal 2 Mei. Peringatan tersebut bertepatan dengan kelahiran Raden Mas Soewardi Soeryaningrat atau yang lebih dikenal dengan Ki Hajar Dewantara (1889-1959), tokoh pendidikan dan Menteri Pengajaran Indonesia yang pertama. Beliau mendirikan National Onderwijs Institut Taman Siswa atau Perguruan Nasional Taman Siswa pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Selain Taman Siswa, dua lembaga pendidikan lain yang menonjol adalah Kweekschool (Sekolah Guru) Tanobato, Sumatera Utara dengan tokohnya Willlem Iskander (1840-1876), dan Institut Nasional Syafei (INS) Kayutaman, Sumatera Barat dengan tokohnya Engku Mohammad Syafei (1893-1969).

Ketiga lembaga tersebut dengan kekhasannya masing-masing memiliki pangaruh besar pada awal perkembangan pendidikan di Indonesia. Tokoh-tokoh tersebut mengembangkan gagasan kebangsaan dan hak merdeka. Ketiga sekolah ini disebut oleh sejarawan Anhar Gonggong merupakan embrio nasionalisme etnis yang kemudian hari berkembang menjadi nasionalisme kebangsaan. Salah satu dari mereka, Willem Iskander, membawa ide-ide hak asasi manusia (bebas dari penjajah) dan kesamaan hak perempuan sejajar dengan laki-laki, serta penghapusan perbudakan.

Membedah sedikit mengenai filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara yang menempatkan kemerdekaan sebagai syarat dan juga tujuan membentuk kepribadian dan kemerdekaan batin bangsa Indonesia agar peserta didik selalu kokoh berdiri membela perjuangan bangsanya. Karena kemerdekaan menjadi tujuan pelaksanaan pendidikan, maka sistem pengajaran haruslah berfaedah bagi pembangunan jiwa dan raga bangsa. Untuk itu, di mata Ki Hajar Dewantara, bahan-bahan pengajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan hidup rakyatnya.

Bagi Ki Hajar Dewantara, pendidikan tidak boleh dimaknai sebagai paksaan; kita harus mengunakan dasar tertib dan damai, tata tentram dan kelangsungan kehidupan batin, kecintaan terhadap tanah air menjadi salah satu prioritas. Karena ketetapan pikiran dan batin itulah yang akan menentukan kualitas seseorang. Memajukan pertumbuhan budi pekerti - pikiran merupakan satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan, agar pendidikan dapat memajukan kesempurnaan hidup. Yakni: kehidupan yang selaras dengan perkembangan dunia. Tanpa meninggalkan jiwa kebangsaan.

Dunia terus mengalami perkembangan, pergaulan hidup antar satu bangsa dengan bangsa lain hal ini tidak dapat dihindari. Pengaruh budaya dari luar semakin meningkat untuk masuk ke dalam negara ini. Oleh karena itu, seperti dianjurkan Ki Hajar Dewantara, haruslah kita memilih mana yang baik untuk menambah kemulian hidup dan mana kebudayaan luar yang akan merusak jiwa rakyat Indonesia dengan selalu mengingat: semua kemajuan dilapangan ilmu pengetahuan harus terorientasikan dalam pembangunan martabat bangsa.  

Sekolah yang dibangun Ki Hajar Dewantara yaitu Taman Siswa, sebagaimana diatas yang sekilas sudah dijelaskan Pendidikan Taman Siswa menjunjung tinggi hak-hak anak untuk bebas tanpa batas. Yang dimaksud bebas tanpa batas yaitu pengakuan atas kebebasan anak menjadi prinsip pendidikan yang sangat pokok pada Taman Siswa. Demokrasi yang dimaksud ialah anak dalam pendidikan merupakan pusat perhatian pendidik, musyawarah sebagai prinsip demokrasi tetapi tetap menghargai pimpinan, dan dasar demokrasi membawa kewajiban untuk bertanggung jawab.

Sebagaimana kurikulum pendidikan yang telah dbangun sejak tahun 1945 – 1969, menanamkan jiwa patrionisme. Hal ini dapat di pahami, karena pada saat itu bangsa Indonesia baru saja lepas dari penjajah yang berlangsung ratusan tahun, dan masih ada kesempatan untuk Belanda kembali menjajah Indonesia. Oleh karena itu penanaman jiwa patrionisme melalui pendidikan dianggap merupakan jawaban guna mempertahankan negara yang baru diproklamasikan.

Sejalan dengan perubahan suasana kehidupan kebangsaan, tujuan pendidikan nasional Indonesia pun mengalami perluasan; tidak lagi semata menekan jiwa patrionisme. Dalam Undang-Undang No. 4/1950 tentang dasar-dasar pendidikan dan pengajaran di sekolah. “Tujuan pendidikan dan pengajaran ialah membentuk manusia yang cukup dan warga negara yang demokaratis secara bertanggung jawab tentang kesejahtraan masyarakat dan tanah air”.

Kurikulum sekolah pada masa-masa awal kemerdekaan dan tahun 1950-an di tujukan untuk meningkatkan kesadaran bernegara dan bermasyarakat, meningkatkan pendidikan jasmani, meningkatkan pendidikan watak, menberikan perhatian terhafap kesenian, menghubungkan isi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari, dan mengurangi pendidikan pikiran.

Menyusul meletusnya G-30 S/PKI yang gagal, maka melalui TAP MPRS No. XXVII/MPRS/1966 tentang Agama, Pendidikan, dan kebudayaan di adakan perubahan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional yaitu, “Membentuk manusia pancasilais sejati berdasarkan ketentuan-ketentuan seperti yang dikehendaki oleh pembukaan UUD 1945”.

Dengan gambaran di atas, maka Taman Siswa, terutama dibidang pendidikan dan kebudayaan, telah memberikan andil sangat besar terhadap pendidikan nasional. Bahkan Undang-Undang Pendidikan No. 4 tahun 1950 praktis telah mencakup semua prinsip Taman Siswa.

Dilihat 132