Memetik Bunga Hikmah dari Fahd Pahdepie

Aisyah Nurcholis
Karya Aisyah Nurcholis Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 25 Januari 2017
Memetik Bunga Hikmah dari Fahd Pahdepie

Mengambil amanat dalam segala peristiwa pada dasarnya sangat mudah dan dapat di lakukan di mana saja, kapan saja. Saya menyebutnya 'memetik bunga hikmah', karena pak Hernowo Hasim sudah tersohor dengan teori 'mengikat makna' nya.

Sejatinya, dunia ini bagai padang bunga. Hikmah-hikmah tersebut dapat kita petik setiap hari. Contohnya hikmah dari kutipan Fahd Pahdepie.
"Suara dan pendapat orang banyak itu tidak selalu benar, meski minoritas sering disalahkan" Katanya. Gara-gara kalimat 'sakti' ini, saya belajar bagaimana mendapatkan kembali kepercayaan diri saya. Sangat menginspirasi. Wah, saya mau deh pilih pak Fahd jadi gubernur DKI!

#ehsalahkubikal

Maksudnya, saya amat setuju dengan pendapat pak Fahd sampai-sampai saya ingin semua orang mendukung pendapat ini juga. Namun, tentu saja mustahil karena masing-masing individu punya standar tersendiri. Ketika seseorang bilang 'kamu harus kompeten' belum tentu maknanya sama dengan lawan bicaranya yang ternyata mengartikan hal tersebut sebagai 'selesaikan tugas/pekerjaan dariku tanpa sediki pun protes, ya'.

Standar norma, adat, dan hukum tentu berbeda di setiap negara. Gestur tangan berbentuk huruf 'O' merupakan hal erlarang di beberapa negara meski di Indonesia bukan hal yang penting. Standar efektifitas? Ah, itu sih jelas beda. Bahkan sistem pendidikan banyak negara, salah satunya Indonesia, pun menyalahi keaneka ragaman satwa standar gaya belajar dan kompetensi masing-masing siswa.

Kalau sistem pembelajaran masih menganut cara 'semua hewan harus bisa manjat pohon' seperti yang digambarkan oleh Einstein pada kutipannya, maka generasi bangsa hanya akan jadi robot-robot 'berseragam' tanpa tujuan jelas. Jika kita memandang buruk seseorang tanpa mengetahui seleuk beluk dirinya terlebih dahulu dan menilai bahwa orang itu tidak kompeten sama saja layaknya melihat kacang dari kulitnya. Well, people are unpredictable. Anda tak dapat meneliti dan mengecap seseorang tidak memenuhi standar sebelum Anda benar-benar mengenalnya (well, unless you are Sherlock Holmes lol).

Manusia dapat berubah layaknya sampah yang di daur ulang. Maka tidak baik jika Anda sembarangan menilai orang walau peraturan 5 menit paling kritis saat pertemuan pertama itu ada.  Jangan mengira dan menebak, lah. Banyak prasangka itu justru banyak 'makan ati'. Siapa yang tahu bahwa dia yang Anda remehkan justru jadi orang yang paling harus Anda hormati di masa depan nanti?

 Tatkala mata kita sudah tertutup dan terkurung dalam satu kubikal sudut pandang, maka yang akan terjadi hanyalah kehancuran identitas dan integrasi. Ketika hati sudah terkunci, bibir sudah terkulai, jiwa enggan mengikuti panggilan nurani,.... maka yang terjadi adalah kematian jati diri. Isi kepala Anda yang mulanya dipenuhi taburan bintang-bintang mimpi, kini redup lantaran tidak berani beda dari mayoritas.

Fahd is different.

He has his own ways

But he doesn't ashamed to be different.

Be like Fahd.

 

  • view 83