Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 25 Januari 2018   16:38 WIB
Menuju di Atas Awan

‘’ MENUJU DI ATAS AWAN (PENDAKIAN ILE BOLENG) ’’

AISYAH SULAIMAN

 

Adonara adalah sebuah kepulauan surga yang terampung dengan hijau aroma bunga yang sejuk.mata langit yang cemburu dengan suasana indah pulau adonara .Awan kadang kalah tak bisa menahan rindu lalu menepih di bibir setiap puncak gunung-gunung,tapi awan lebih memilih berlabu di puncak bibir manis yang tertinggi di adonara,yang diberi nama para leluhur ialah puncak ile boleng.Sebuah gunung yang bervenomena bunga-bunga,pepohonan dan iringan tarian kupu-kupu yang indah mengibaskan sayap-sayap takdirnya.Dan bagaimana orang bisa menahan pandangan matanya,setiap yang menatap pasti akan jatuh cinta padanya.Sebagai seorang pecinta kita merasakan ada yang istimewa ketika kita mencapai sebuah puncak yang tertinggi,keistimewannya adalah merasakan diri kita seperti berlabu memeluk awan yang turun kadang kalah membelai tubuh kita dengan tangan asmara kehangatannya.Di gunung ile boleng juga terdapat bunga abadi atau yang biasa disebut bunga edelweis,bunga yang mengatakan dirinya bersahabat baik dengan para pendaki.Dan salah satu bagian penting dari ‘orgasme ‘ seorang pendaki gunung adalah,  ketika ia di atas ketinggian puncak, dibalut hawa dingin dan terpaan angin, ia dapat menyaksikan eidelweis yang bergoyang di ujung tangkainya, begitulah cara orang beradab menikmati eidelweis. Mendaki gunung adalah kegiatan yang positif dan bermanfaat. Dunia pendakian saat ini mulai ramai digemari kalangan muda diberbagai daerah, tidak terkecuali di Adonara yang punya satu-satunya gunung dikenal sebagai ile Boleng atau gunung Boleng. Dan para pendakian adalah anak-anak muda dari berbagai daerah di pulau Adonara.

 Dari titik start Di Desa Muda, pendakian akan dikoordinir oleh Ramhan, rahman adalah salah satu pemuda dari desa setempat. Mereka menyiapkan tenda, bendera, dan  tiang untuk pengibaran. Untuk peserta pendakian, masing-masing menyiapkan alat penerangan, bekal, dan pelindung tubuh dari suhu dingin. Warga setempat selaku tuan rumah sekaligus pemandu pun ikut kebagian tugas menyiapkan tambahan barang berupa alat potong yang mungkin sesekali dibutuhkan. Sementara itu, tongkat untuk pendakian dapat dipungut saja oleh peserta di sepanjang perjalanan nanti. Balai Desa tempat kami berkumpul malam itu mendadak ramai. Ketika saya tiba, sebagian peserta telah bersiap-siap di sana dengan perlengkapan masing-masing. Mereka datang dengan kendaraan roda dua dan sebagiannya dengan roda empat. Pendakian rencananya akan dimulai tepat jam 22.00, berlangsung malam hari. Kami memang telah diminta untuk datang sebelum jam tersebut. Aktivitas di malam hari ternyata lebih diinginkan oleh peserta. Dengan adanya suhu dingin, kami bisa mencegah peningkatan panas tubuh berlebih yang mengganggu kenyamanan. Selain itu, juga untuk menghindari kelelahan jika harus melakukan kegiatan itu selama dua belas jam pada siang hari. Dengan perkiraan bahwa kami tiba di puncak pada dini hari, kami dapat menyaksikan sunrise. Lewat pukul sepuluh, acara pembukaan dimulai. Cukup telat dari jadwal seharusnya. Ina Nela yang didaulat sebagai MC pun memandu acara. Mula-mula, suasana jadi cair dengan mengajak peserta memperkenalkan diri. Karena peserta semuanya tampak asing! Di tempat itu, saya hanya pernah mengenal tiga peserta pengambilan presensi. Dalam daftar hadir, tercatat tiga puluh lima peserta yang siap berangkat.

Selanjutnya, Ama Muhammad Ali Kadar alias Ama Marko diberi kesempatan untuk menyampaikan gambaran secara kronologis tentang kegiatan pendakian ini. Menurut penyampaiannya, pendakian akan berlangsung selama lima jam. Perinciannya, dari balai desa ke pos pertama hingga kedua berlangsung selama dua jam. Selanjutnya dari pos kedua ke pos ketiga hingga tapal kuda akan berlangsung pula dengan waktu yang sama. Terakhir, dari tapal kuda ke puncak berlangsung selama satu jam. Pengibaran bendera akan kami lakukan ketika tiba di puncak. Perkiraan tersebut diambil dengan memperhitungkan kecepatan pendakian yang paling lambat, karena dalam kelompok pendaki terdapat sejumlah pemudi. Ada sejumlah pertanyaan yang diajukan, antara lain tentang larangan-larangan yang mesti ditaati peserta dalam pendakian ini. Disampaikan bahwa peserta tidak boleh membawa air dari puncak. Peserta pun tidak diperbolehkan meninggalkan sampah dari sisa-sisa kegiatan masing-masing, sekalian diingatkan berhati-hati terhadap aktivitas yang menggunakan api. Memang, sering terjadi kebakaran di lokasi pendakian ini.Dari peserta pun diberi kesempatan berbicara. salah satu peserta dari pendakian mengatakan bahwa karena kecepatan pendakian masing-masing berbeda, mesti ada koordinasi supaya peserta yang paling belakang dan yang di depan jangan sampai terpisah. Acara dilanjutkan dengan sambutan dari bapak Kepala Desa Muda. Menurut bapak Kepala Desa semua pendaki pada malam itu datang dan berkumpul di wilayah desa mereka.

 Oleh karena itu, mereka mau tidak mau harus menerima kedatangan kami sebagai tamu. Ia pun memberikan gambaran bahwa peserta akan menemui ngarai, jurang, dan lereng, jadi tak mudah untuk melewatinya. Harapannya, semua orang mengutamakan keselamatan para pemuda juga diingatkan untuk tidak mengganggu ketenangan warga yang sedang tenang beristirahat pada malam hari. Pada saat kepulangan pada esok hari akan berlangsung paket acara tujuh belasan di tempat lain, maka warga tidak berada di tempat saat para pemuda ini tiba dari puncak. Untuk menemani para tamu di Desanya. Bapak Kepala Desa juga menyertakan satu orang sebagai pemandu, yaitu Ama Mige Raya. Tepat jam 11.00, acara pembukaan usai. Peserta pun meninggalkan balai desa dalam barisan panjang. Dan mereka pun susun barisan rapi dan siap untuk perjalanan  menuju di atas gunung ile Boleng dan menyaksikan pemandangan dari atas gunung dan terbitnya sang fajar  dari ufuk timur dan pemandangan yang lainnya diatas gunung tersebut, dan mereka pun menyiapkan barang yang sudah disediakan oleh mereka dan untuk keperluan lainnya.

“ sepanjang pendakian terlalu tinggi buat kami daki di terik siang…..

      terlalu dalam buat kami turuni di malam gelap’’…...

begitu potongan syair sebuah lagu dari korps infantri dengan nada mars. Lagu yang juga dimodifikasi oleh anak-anak pramuka dan dinyanyikan para pelajar sekolah. Tapi pendakian kini bertentangan dengan isi lagu. Pendakian kami lakukan di malam hari. Meski berlangsung malam, kami tak lantas melewatkan begitu saja pemandangan sepanjang perjalanan. Teramati bahwa dari perkampungan hingga pos pertama terdapat kebun penduduk. Kebun ditanami kelapa, jambu mente, ubi kayu, dan lainnya dengan didominasi oleh pohon kelapa. Dari perkampungan menuju ke arah gunung, telah dibuat jalan tani dari semen selebar kendaraan truk sebagai akses menuju ke perkebunan. Jalan yang selalu menanjak itu jaraknya sekitar satu kilometer. Tiba di pos pertama, kami berhenti sesuai ajakan pemandu. Di situ pengambilan presensi terjadi untuk yang kedua kalinya. Ini dilakukan karena telah ada tambahan peserta sepanjang perjalanan dari balai desa, yaitu peserta yang beristirahat di rumah-rumah penduduk setempat. Total peserta kini terhitung sebanyak empat puluh enam orang. Lima di antaranya adalah para pemudi. Di perjalanan selanjutnya, peserta terdepan pun harus menunggu supaya peserta paling belakang bisa menyusul supaya kelompok tak saling terpecah. Barisan terakhir ini termasuk pula para pemudi yang tak bisa bergerak cepat. Dengan lesehan di bawah pohon kelapa, kami cukup lama menunggu dengan sabar hingga peserta yang paling belakang tiba.

Sesampainya di pos pertama peserta pendakian gunung ile Boleng harus mematuhi aba-aba dari ketua atau koordini untuk mematuhi peraturan,dan pada saat sampe di pos pertama peserta wajib untuk menyiram atau menabur garam pada tempat kesekeliling yg terdapat di pos pertama dan peserta juga dilarang membuang air kecil pada sembarangan tempat agar menjaga tempat tersebut tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,karena pada tempat pos pertama adalah tempat anker, dan dialog antara peserta untuk melakukan atau menyiram dan menabur garam yudium,

’’ nene belek mio panah molo kame dore no,o kame mai pendakian gunung nite, kame ma’a ribut hala no’o kame kaco hala karena eka nwi eka grara no,o kame meke di sembarang hala karena kame moir ekka nwi nene bele rae no,o dan kame moi nene bele jaga kame ana cucu mio dan kame werehak sia ditempat nwi supaya nene panah molo kame di woho,nene bele jaga kame ana cucu mio, salah satu peserta pendakian hana mari tite harus taat no’o aku yang rae koda karena nwe termasuk keselamatan tite wahang kae jadi ake koda no’o bantah kalau ketua hana aku henna’’. Yang artinya. ’’ nenek moyang kami jalan duluan kami ikut dari belakang karena kami ada pendakian gunung ile boleng ini nenek, kami tidak akan buat ribut dan kami juga tidak buat kaco karena kamki tau tempat ini adalah tempat kanker, dan kami juga tidak buang air kecil disembarangan tempat karena kami tau tempat ini ada nenek moyang kita ada yang menghuni disini, dan kami juga tau nenek moyang ada jaga kami anak cucunya dari berbagai kampung, dan kami juga menabur garam ditempat ini supaya tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan, nenek moyang kami jalan duluan kami ikut dibelakang salah satu dari peserta pendakian mengatakan bahwa semua peserta harus ikut tata aturan yang yang di atur oleh ketua koordinator, karena itu salah satu keselamatan buat kita semua jadi tidak ada seorang pun bantah peraturan yang di buat koordinator pendakiannya ”.

 Sejak pos kedua, tanaman kelapa tak lagi dijumpai. Begitu pula, jalan semen hanya berhenti beberapa jauh sebelum pos pertama, dilanjutkan dengan jalan setapak dengan semak-semak di tepiannya. Diselimuti gelapnya malam, terlihat dalam barisan dari belakang hingga jauh di depan  sana berkas-berkas cahaya lampu senter menemani langkah para pendaki menaiki tanjakan demi tanjakan. Barisan memanjang seperti ular, tetapi maju dengan lambat. Peserta tak bisa berjalan berjajar sebab jalan setapak ini tak cukup lebar. Di sebagian perjalanan, langkah kaki pun harus dibantu tongkat. Dalam perjalanan di pos kedua ini rintangan yang begitu berat dihadapi oleh peserta pendakian,dan peserta pendakian dilarang untuk membuat gaduh dan tidak melontarkan kata-kata kotor atau maki sesama jenis karena di pos kedua ini sangat trategis jalannya hanya mengikuti jalan setapak dan tidak melihat tanaman dari warga yang bertempat tinggal di sekitar pegunungan tersebut, jikalau seoarng peserta pendakian melontarkan kata-kata kotor dari mulutnya, maka dia akan mendapat hukuman yang terjadi pada dirinya. Contohnya jika peserta tersebut tidak sengaja dan dia melontarkan kalimat anjing atau bangsat dan sejenis kalimat maki lainnya maka dari itu dia akan digigit oleh binatang disekitar tempat pos dua dan dia juga mendapatkan hukuman dari koordinir karena sudah sepakat awal peserta tidak boleh melontarkan kata-kata kotor. Kenapa  pos kedua ini tidak bisa melontarkan kata-kata kotor karena bisa menyebabkan peserta salah satu dari barisan tersebut menjadi tumbal atau jatuh di jurang, kalau tidak ada yang pulang dari pendakian gunung ile boleng dia jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Maka dari itu orang pendakian gunung ile boleng harus mematuhi syarat-syarat yang di tujukan.

Kami  tiba di pos ketiga tepat setelah dua jam perjalanan dari titik start, jauh lebih cepat dari yang diperkirakan. Perhentian di sana kami lakukan selama dua jam. Ini peristirahatan yang terlama dibandingkan dengan di pos lainnya. Pos ketiga adalah sebuah bangunan lumbung. Lokasinya ada di lebih dari pertengahan jarak pada perjalanan menanjak ini. Kami heran karena petani setempat bisa mendaki begitu tinggi dengan membawa bahan bangunan berupa kayu dan seng untuk membangun pondok. Pada perhentian ini, sebagian pemuda pun tampak memanfaatkan kesempatan dengan berbaring. Kami pun untuk pertama kalinya diperkenankan menyantap bekal. Sejumlah orang yang membawa ubi dan pisang pun membakar bawaan mereka dengan kayu yang dikumpulkan, ada camilan yang rasanya seperti rendang, dan ternyata, ada peserta yang beberapa hari sebelumnya baru tiba dari Padang.Setelah perut terisi dan cukup melepas lelah, kami kemudian melanjutkan kembali pendakian. Selepas pos terakhir ini, hanya ada satu jenis pepohonan yang mendominasi. Tumbuhan lainnya hanya belukar dan semak rendah, juga alang-alang. Meski sudah sangat jauh dari pemukiman, ternyata masih kami temui satu bekas kegiatan penggergajian pohon kering di tengah-tengah jalur yang kami lalui ini. Sementara di sebelah kiri kami, sering tampak berkas api membara dengan latar langit gelap. Sesekali api tampak menyala. Tiupan angin memang telah menyebabkan api tersebut makin mudah merambat Kondisi jalan kini pun makin bervariasi. Kadang jalan tampak padat sehingga stabil untuk pijakan kaki. Di etape lainnya, jalan terdiri dari tanah yang tidak stabil, yaitu kerikil yang mudah lepas. Ini  adalah resiko utama, yaitu bisa saja peserta tergelincir. Jadi, yang di depan mesti hati-hati supaya tidak menyebabkan batu menimpa peserta yang di belakang. Para anggota mulai membicarakan tentang Bintang Fajar yang mulai tampak.

‘’ mio tedda moir ta kalau yang terbit dari ufuk timur yang terang bennar no’o rerra  gere hama we, dan ata mio tedda gaga bennar kalau warna ne’e hama no’o matahari no’o mio pasti menarik no’o mio akan hana mari nwe hama di Eropa ’’. artinya:’’ kalian semua lihat kalau yang terbit dari ufuk timur yang warnanya terang sekali dan sama seperti terbitnya matahari, dan coba kalian semua melihat cantik sekali kalau dia warnanya sama dengan dengan matahari dan kalian pasti suka dan kalian akan bilang kalau itu sama ada d Eropa. ’’ 

‘’ moir take kalau seni tawa gere nwete we aku’’.

‘’ Tahu apa itu?” satu pertanyaan terlontar dari peserta di barisan dekat kami.“Yah, itu kan lagu. Sampe lera gere…. “ jawab peserta lain, yang memang lahir dan besar di tanah seberang.“ Coba lihat ke depan anda. Ada bintang di sana”, jelasnya. Seperti sambil bawakan kuliah nih hehe, “yang tampak paling terang itu namanya seni tawa gere”, katanya lagi. Sebenarnya, itu bukan bintang beneran. Tampak bersinar paling terang, benda langit itu lebih tepatnya adalah sebuah planet, planet Venus. Sering disebut bintang fajar, di Eropa dipuja sebagai dewi kecantikan. Orang Lamaholot menyebutnya seni tawa gere. Yah, kami tiba di tapal kuda dengan pertanda bahwa kami akan menuju fajar. Suhu terasa makin dingin menggigit. Lalu memasang api dan berdiang. Sementara kami yang lain terus berpacu menuju tapal kuda. Jelang pukul dua dini hari, kami tiba di sana. Pemandu menghentikan perjalanan, karena pendakian setelah itu melewati medan berbahaya. Menurutnya, pendakian yang aman hanya dapat dilakukan apabila ada penerangan yang cukup, yaitu ketika matahari telah terbit. Jadi, peserta pun melepas bawaan masing-masing dan berkumpul. Sebagiannya menyalakan api unggun. Api dinyalakan dengan kayu dan dedaunan kering yang sempat dipungut sepanjang perjalanan tadi. Peserta lain mengisi waktu dengan mengobrol sekeliling api. Yang kelelahan pun memulihkan tenaga dengan berbaring. Agak lama tak berdiang dekat api, dinginnya suhu makin terasa sampai ke dalam tulang. Cairan pelumas sendi barangkali membeku di dalam sana oleh suhu dingin ini. Beruntunglah bagi sebagian peserta yang lengkap mengenakan kaus tangan dan pakaian tebal. Sementara mengobrol, sesekali terdengar bunyi semak terbakar pada jarak dekat. Ternyata asalnya di bawah kami dari arah barat.

Tapal kuda sendiri lokasinya hampir ke dekat puncak. Letaknya sudah persis ditepi kawah, tetapi puncak sendiri masih terletak lebih tinggi lagi. Kawah memang bukan merupakan area tertinggi dari gunung ini. Dari sana, kami boleh bebas melepas pandangan menembus gelap. Ada dua sumber cahaya yang berkelap kelip di hadapan kami. Bintang yang menyala di atas sana, dan lampu dari pemukiman penduduk di bawah. Jika tiba-tiba muncul kabut, maka sejenak hanya kegelapanlah yang ada. Cahaya lampu di bawah kami jadi meredup dan hilang di balik kabut yang menutup. Di kanan kami, jika membelakangi kawah utama, tampak samar-samar pemandangan menyajikan dataran seputar Witihama. Sementara itu, di kiri kami hanya tampak warna kelam. Ketika beranjak siang, ternyata tampak bagian ini tertutup awan, sehingga menghalangi pemandangan ke sana. Saat mulai terang, tampak bebatuan di puncak yang berwarna putih. Batu-batu itu terlihat basah oleh embun pagi. Sayangnya, benda kreasi alam itu kini penuh bekas-bekas vandalisme. ‘Buku tamu’, begitu kami menyebut batu yang penuh warna-warni  tulisan dari cat. Andaikata ‘buku tamu’ itu dilokalisir di suatu tempat, atau lebih kreatif lagi, pendaki boleh menulis kisah perjalanan mereka, yang nantinya bisa dibaca kemudian. Di situ pun banyak terdapat tanaman endemik khas pegunungan, yaitu bunga edelweys. Tumbuhan yang hanya tumbuh di pegunungan ini tak pernah layu bunganya. Sayangnya, tidak ada dokumentasi foto yang kami lakukan untuk tetumbuhan terakhir ini.

Sementara itu, di bawah kami, tampak jelas lapisan awan yang menutupi perkampungan. Letaknya di arah barat. Gugusan awan itu menutup sampai ke Bukit Seburi, sehingga menghalangi pemandangan ke bagian barat Adonara.Kami pun menunggu sunrise.

“  waktu yang anggota pendakian ri’a ketika matahari mulai kebekko seinci demi inci di hadapan para pendakian, peserta akan merekan momen nwete no’o alat kamera yang rae rete. gohuk foto-foto no’o rae gaya, rae pun diperkenankan bua no’o epaeti yang sisa eswaik we.’’ Yang artinya: Saat yang dinanti-nantikan sebagian besar peserta. Tepat ketika matahari seinci demi seinci muncul di hadapan, peserta merekam momen itu dengan peralatan kamera yang dibawa. Setelah foto-foto dengan aneka pose, kami pun lalu diperkenankan sarapan dengan bekal yang tersisa. Di tapal kuda, total kami berhenti selama sekitar empat jam sejak malam sebelumnya. Pendakian pun mesti kami mulai lagi. Tapal kuda berlokasi di tepi mulut kawah. Jadi, perjalanan kami lanjutkan dengan menyisir tepian kawah ke arah timur, yaitu memutar ke kiri. Awal perjalanan itu dimulai dengan jalur yang menurun. Jalan setapak ini tepat berada di punggung teratas yang genting dari tepian lubang menganga itu. Di kanan kami, kawah besar menghadap langit, sementara di kiri kami ada lereng yang miring hingga ke kaki gunung. Jadi, perjalanan harus kami lakukan dengan hati-hati.Jika anda berteriak, suara pantulannya terdengar sangat jelas di dinding tebing yang keras itu. Selain tersusun dari batuan pejal yang stabil, kawah juga terdiri dari batu-batu yang tampak tidak stabil. Ini tentu menyulitkan siapapun yang menuruni kawah, karena batu itu beresiko mudah runtuh. Dari jauh, medan yang akan kami lalui kelihatan sangat berbahaya. Tetapi ternyata itu hanya karena tipuan mata. Tipuan ini seolah menyurutkan keberanian sebagian peserta untuk lewat di atasnya. Tetapi peserta yang gentar ini muncul lagi keberanian mereka, karena para pemudi tampak mampu melewati tantangan ini. Tebing kawah di sisi berlawanan memang tampak mendirikan bulu kuduk, karena kelihatan hampir tegak lurus hingga ke dasar kawah. Katanya, menyusuri kawah ada tantangannya tersendiri dan tidak semua orang bisa. Sejumlah peserta kabarnya beringsut dengan hati-hati di punggung gunung. Dari sisi anda sendiri, tebing memang tidak tampak menakutkan, karena terkesan rendah saja, tetapi dari sisi yang berlawanan, dinding terjal itu tampak sangat jelas. Dari cerita, beberapa peserta pernah menuruni sampai ke dasar itu.Ternyata di dalam mulut kawah terdapat tanggul pohon yang masih tersisa. Berarti, kawah gunung itu pun pernah menjadi habitat tumbuhan tersebut.

Di punggung pendakian selepas tapal kuda, terdapat medan yang tersulit di jalur ini. Dinding tebing yang dipanjat memang bersatu dengan dinding kawah. Kontur pendakian ini cukup curam, tetapi memudahkan karena terdiri dari bebatuan yang stabil, sehingga pijakan kami mantap dan tak tergelincir. Di lokasi ini, jangan menatap langit saat memanjat, sebab terkadang awan yang tampak melintas bisa menyebabkan pusing karena bebatuan gunung seperti tampak sedang bergeser. Di ujung pendakian tersulit itu, kami temui sebuah lapangan luas. Letaknya sudah makin dekat dengan puncak tertinggi. Tepi lapangan itu pun langsung berbatasan dengan mulut kawah. Kelompok berhenti di sana dan beristirahat. Lalu mengabarkan keberadaan mereka ke penduduk desa di bawah dengan member tanda lewat bendera dan memantulkan cahaya matahari dari cermin. Dari desa-desa di bawah kami, sering tampak kilatan pantulan cahaya yang kami duga sebagai penduduk yang juga menunjukkan posisi mereka. Dari arah barat lapangan, kita bisa melihat desa Sagu yang tampak jelas di bagian utara pulau. Kampung ini ada di tepi pantai dan merupakan kota pelabuhan yang ramai di masa lalu sebelum Waiwerang menggantikannya di bagian timur pulau. Sementara bagian barat sayangnya tertutup awan sehingga Bukit Seburi tampak tak terlihat. Hanya  desa Lite yang terbuka pemandangannya. Desa yang tampak paling besar di bawah sana adalah Witihama, sedangkan kampung terdekat adalah Wato Lolon. Di ujung barat, pulau Flores pun tampak anggun dengan Ile Mandirinya. Laut seperti dekat di bawah kami, karena pemandangan begitu terbuka ke sana. Tampak gunung Lewotolok di pulau lembata di sebelah. Perairan seperti kaca biru di bawah kami, berbatasan dengan langit biru di atas.

Kekeliruan dalam mengkoordinir aktivitas peserta menyebabkan acara menaikkan bendera jadi tak pasti. Ini terjadi karena kelompok terpecah-pecah dan berjauhan satu sama lain, dan rencana lokasi pengibaran pun tidak dipastikan dengan baik. Sebagian peserta ada di puncak gunung, yaitu titik tertinggi gunung ile Boleng, sebagian lainnya ada di lapangan, bahkan beberapa darinya memilih lebih dulu turun karena kelelahan. Jadi, peristiwa pengibaran hanya diikuti oleh sebagian kecil peserta.Selain kelompok kami, masih ada dua kelompok pendaki lagi. Ada sejumlah peserta yang berangkat dari  Lamabayung dan Lamalaka. Mereka datang dari sisi timur gunung. Untuk yang mendaki dari sana, mereka langsung ke puncak ile Boleng tanpa lewat kawah lagi. Dari cerita para pendaki sebelumnya, jalur pendakian dari timur ini barangkali lebih curam, yaitu bermula dari Lamahelan atas. Di sisi itu, sejumlah perkampungan  tampak berdiri berpasangan. Ada kampung atas dan ada kampung bawah sebagai kampung satelit. Kampung bawah dibangun dekat jalan raya, sementara kampung atas adalah kampung induk. Tampak jelas jalur jalan yang menghubungkan masing-masing kampung ini terlihat dari bagian timur gunung. Kami lalu sempat ke puncak, pas di mana terdapat pilar yang menunjukkan ketinggian gunung. Pada patok dari semen yang dibuat tepat di titik tertinggi, tertulis angka elevasi titik ini. Sebuah kelompok kecil yang merupakan pecahan dari kelompok kami ternyata menuju mata air.Sangat disayangkan bahwa tidak semua kami menuju kawah yang ada mata airnya itu, yang letaknya menurun ke arah timur. Air di puncak itu tampak kehitam-hitaman, kurang jelas apa itu warna mineral atau warna organik. Air itu terasa segar, dan lebih dingin dari air yang kami bawa. Dari puncak, pas kami memutar ke sisi timur, lalu kembali lagi ke barat melingkari kawah menuju kemoti. Kemoti adalah tempat dengan sebuah formasi berbentuk permainan congklak. Memang jadi misteri sendiri kenapa salah satu wujud kebudayaan manusia bisa berada di puncak gunung. Di sisi itu pula terdapat sebuah lubang yang katanya terdapat gas belerang. Letak lubang itu tidak tepat berada di jalur pendakian, sehingga peserta mesti meninggalkan barisan untuk menuju ke sana. Topografi puncak dapat terlihat jelas jika gunung tak tertutup awan dan terlihat dari arah timur, misalnya dari kota Waiwerang. Tapal kuda bisa anda lihat dari lereng kiri. Lembah pertama yang tampak, yaitu ada turunan, di situlah tapal kuda. Setelah tapal kuda, ada tanjakan yang berakhir di titik tertinggi. Setelah itu ada lembah lagi di bagian barat, satu pendakian lagi ke kanannya, dan berakhir di lereng. Kawah terbesar adalah kawah utama yang merupakan hasil bentukan dari letusan terakhir, dan kami tiba kembali di tempat peristirahatan pada malam sebelumnya. Di situ, kami menunggu hingga peserta paling akhir tiba. Sejumlah kelompok kecil lain tampak naik belakangan, yaitu setelah siang. Mereka tiba menjelang tengah hari. Jadi menghitung lama perjalanan mereka jika mereka berangkat selepas jam enam pagi, barangkali perjalanan mereka memakan waktu lima jam. Itulah perhitungan waktu yang serupa dengan yang dipakai ama Marko. Di perjalanan pulang, kelompok kami jadi terpecah-pecah karena kecepatan tempuh yang berbeda-beda. Kabarnya, salah satu kelompok nyasar menuju jalan ke Lamalota. Jadi peserta yang di depan menunjuk jalan dengan memberi tanda di pepohonan dan dedaunan. Kami pun bisa terbantu dengan mengingat melihat jejak serta lokasi yang kami lalui semalam. Di kelompok kami, ada sejumlah peserta yang datang dari Flores daratan. Mereka mengatakan jika ada agenda pendakian Ile Mandiri, mereka siap menjadi tuan rumah. Demikianlah kisah perjalanan kami menuju di atas awan (Pendakian Ile Boleng).

Karya : Aisah Sulaiman