Ending Pilkada DKI

Airhein Journal
Karya Airhein Journal Kategori Lainnya
dipublikasikan 05 Mei 2017
Ending Pilkada DKI

Pilkada DKI Jakarta telah menemui ending. Pemimpin baru telah didapat meski belum secara resmi menduduki pemerintahan hingga Oktober mendatang. Ahok harus menerima kenyataan bahwa ia harus mundur dari jabatannya setelah masa tugasnya berakhir. Kecewa itu pasti, namun lapang dada itu keharusan. Tentu kalah dan menang itu adalah keniscayaan. Hal yang harus ada dalam kompetisi. Permasalahannya siapkah untuk berada dalam posisi salah satunya. Kalah dan menang sama-sama berat. Mengemban amanah memimpin DKI Jakarta dengan segala permasalahan bukan pekerjaan berat. Rakyat butuh penyelesaian, harus ada peningkatan yang signifikan dari berbagai sektor.

Pilkada memang telah usai, namun sepertinya suasana masih belum pulih. Pendukung Ahok-Djarot masih mengurai berbagai kalimat tak pantas yang seharusnya tidak dilontarkan sebagai wujud kekecewaan mereka. Kecewa jelas menghuni hati dan pikiran mereka. Tim sukses beserta pendukungnya telah bekerja sedemikian keras untuk pilkada ini. Namun kenyataan yang harus dihadapi jauh dari impian. Sehingga mereka masih belum bisa menerima kekalahan Ahok-Djarot dengan lapang dada.

Kita tentu mengambil hikmah yang luar biasa dari pilkada DKI ini. Bahwa segala skenario yang telah disusun belum tentu sesuai dengan harapan. Pilkada yang sempat diwarnai dengan isu SARA (menurut sebagagian oknum tertentu) masih sangat terasa. Bahkan aksi 55 sebagai wujud protes umat muslim terhadap Majelis Hukum terkait dengan kasus Ahok tetap digelar hari ini. Sebenarnya, kalau kita mau melihat lebih detail kasus Penistaan Agama oleh Ahok, tentu itu tidak ada hubungannya dengan pilkada. Momentnya memang bertepatan dengan pilkada, namun esensi reaksi umat muslim yang kemudian terejawantahkan menjadi aksi bukan pada itu, lebih kepada penghinaan terhadap Al Qur’an. Sehingga kasus Ahok yang berkaitan dengan hal tersebut harus diselesaikan dengan adil meski pilkada telah berlalu.  Inilah yang membuat GNPF tetap menggelar aksi bela Al Qur’an meski pilkada telah usai.

Isu SARA yang mewarnai pilkada DKI bisa akan terus tumbuh bisa juga akan kembali mereda seperti tak terjadi apa-apa. Semua kembali kepada masyarakat dan upaya pemerintah untuk meredam. Sebagai umat beragama yang cerdas tentu mempunyai batas-batas mana yang masih dalam wilayah toleransi atau intoleransi. Negeri ini juga mempunyai hukum yang jelas terkait dengan kebebasan menjalankan agama dan adab yang seharusnya dilakukan, tinggal orang-orang yang memainkan peran di dalamnya. Apakah mereka mampu bertindak adil, tegas dan jujur atau sebaliknya.

Kemenangan pilkada DKI bukan karena isu agama yang beredar. Kemenangan mutlak atas pilihan rakyat. Mereka yang memilih untuk tidak kembali dipimpin Ahok. Jika dikemudian hari di daerah lain menggunakan isu agama untuk kemenangan pilkada, tentu bukan keputusan atau strategi yang tepat.

Negeri ini sepertinya memang tanah yang subur untuk tumbuh dan berkembangnya berbagai isu. Sebagian masyarakat terlalu reaktif terhadap isu yang muncul, padahal bisa jadi isu tersebut sengaja dimunculkan untuk memecah NKRI. Isu makar yang terus marak dikembangkan cukup menakutkan bagi sebagian masyarakat, akan tetapi negeri ini mempunyai pasukan TNI yang siap berperang melawan siapa saja yang akan menggulingkan Pancasila sebagai ideologi atau mengkudeta Presiden. Saya kira, selain TNI masyarakat yang mencintai negeri ini siap untuk membela. Waspada tentu harus, sebagai wujud cinta terhadap negeri ini. Pancasila terlalu kuat untuk digulingkan begitu saja. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya bukan perkara sederhana sebab menyangkut hajat hidup masyarakat Indonesia. Ada sejarah yang begitu heroik hingga terwujud Pancasila sebagai ideologi bangsa. Bukan perjalanan yang mudah dan singkat.

Menjaga negeri ini dari berbagai ancaman menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat. Setiap elemen mempunyai peran dan tangung jawab masing-masing. Banyak celah yang bisa digunakan untuk bisa menghancurkan negeri ini. Terlalu banyak lubang yang bisa digerogoti. Negeri ini membutuhkan orang-orang yang bijak dan cerdas, tanggap dan peduli. Membenahi yang sudah tercemar disana-sini. Memulai dari dekat dan mudah, memperbaiki diri sendiri.

Sebagai masyarakat Indonesia meski bukan warga DKI Jakarta, saya turut bersyukur bahwa ending dari Pilkada ini tidak seperti yang dikhawatirkan, bahkan suhunya lebih memanas dibanding pemilihan Presiden 2014 kemaren. DKI telah memiliki pemimpin baru, ada banyak PR yang harus diselesaikan. Janji-janji harus ditepati. Anies-Sandi adalah manusia yang jauh dari sempurna sama halnya dengan Ahok-Djarot. Keberhasilan pemerintah DKI kelak setelah dipimpin Anies-Sandi tentu bakan hanya menjadi tanggung jawab Anies-Sandi namun seluruh staf pemerintahan dan warga DKI. Apakah mereka akan lebih baik atau lebih buruk? Semua masih dalam Tanya. Jawabannya setelah mereka selesai menjalankan tugas. Bukan hanya pemimpinnya yang berubah, namun pola pikir dan sikap warga juga harus turut berubah. Sebagai warga yang baik tentu harus mendukung setiap program yang membawa dampak perubahan.  

Lalu, kemanakah AHok-Djarot setelah selesai menjalankan tugas? Hanya mereka yang mampu menjawab dan memutuskan. Ada banyak kemungkinan yang bisa dilakukan. Tetap menjadi politisi, terjun dalam dunia bisnis, bergabung dalam perusahaan tertentu atau menikmati hidup bersama keluarga. Ada banyak peluang untuk mereka melihat potensi yang dimiliki oleh Ahok maupun Djarot. Menjadi apapun mereka, kemanapun mereka pergi, mereka tetaplah warga DKI yang tentu saja mendukung setiap program pemerintah DKI yang baru.

Mari kita do’akan bersama, semoga DKI kedepan menjadi lebih baik dalam berbagai aspek. Aamiin.

#SetelahAhok

 

 

  • view 60