Keputusan di Ujung Senja

Airhein Journal
Karya Airhein Journal Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Juni 2016
Keputusan di Ujung Senja

Sepi memanggilku untuk bertahan. Meniadakan seru, kemudian tenggelam dalam dunia tak bertuan. Kanan, kiri, depan, belakang semua seperti sama. Samar. Ombak kehidupan terus menyeret diamku. Melawan mungkin bisa jadi pilihan, setidaknya memperjuangkan untuk bertahan. Pasrah juga bisa menjadi pilihan. Ikut dan kemudian tenggelam atau menari indah di antara liukan ombak. Tak ada yang tahu akhir sebelum mengawali dan menjalani. 

"Nunggu siapa mba?" suara laki-laki terdengar nyaring memecah hening yang kuciptakan. Agak tergagap, seperti terbangun dari mimpi.

"Emmm....ngga nunggu siapa-siapa. Nunggu balesan pesan dari teman." jawabku.

"Oh...mau bareng?" tawarnya. 

"Tidak mas, terimakasih. Saya jalan mbecak saja,"

"Baiklah, duluan ya mba! Segera pulang mba, sebelum hujan turun," ucap lelaki itu. Aku mengangguk. Ia pun pergi dengan meninggalkan jejak klakson sebagai pengganti ijin mendahului. 

Mendung memang sudah berarak-arak. Sebentar lagi mungkin akan turun hujan, seperti prediksi lelaki itu. Mungkin juga tidak. Segala yang belum terjadi memang masih kemungkinan. Bisa saja berganti, berubah atau tetap sama. 

Aku bangkit. Melangkahkan kaki untuk pulang. Pesan yang aku tunggu belum juga memberi tanda. Bagaimana mungkin yang belum datang mampu memberikan tanda. Ia bukan Tuhan yang mampu memberi sinyal sebagai pertimbangan. Manusia memang suka aneh, atau memang aneh? Pikiranku mulai meracau, ini tanda bahwa butuh aktualisasi yang tepat agar tak tersesat.

"Zee, maaf! Aku pulang, ketemu di rumah saja ya!" begitu pesan yang ku kirimkan padanya. Seseorang yang aku tunggu hari ini.

Ku simpan ponsel di tas punggung. Aku berbegas mencari becak. Satu-satunya angkutan umum yang masih setia hingga hari hampir purna. Setia mengantar hingga gang-gang sempit. Terkadang ada rasa tak nyaman, serasa tidak adil atau seperti semena-mena. Bagaimana tidak, aku bisa duduk santai sambil menikmati semilir angin dan lalu-lalang manusia beserta aktivitasnya serta senja yang begitu menawan, sementara tukang becak harus beradu dengan nafasnya, mengayuh becak agar terus berjalan. Ah,...tapi becak menjual jasa bukan? itu bisik sisi hatiku yang lain. Di antara menjamurnya motor dan mobil, becak seakan menjadi terasing. Bisa jadi nantinya malah menjadi angkutan unik dengan tarif mahal, tak ada yang tahu bukan? Lihat saja saat ini, wisata alam lebih digemari bahkan rela antri demi inginnya merasakan menyusuri gua dengan duduk di atas ban karet di ats air yang geraknya harus diseret.

"Becak, neng?" tanya bapak-bapak sambil menghentikan becaknya di depanku. Ah...pikiranku mengembara lagi.

"Iya pak, ke Jalan Akasia Gang VI," jawabku kemudian.

Aku ambil lagi ponselku. Penasaran. Lebih tepatnya gelisah. Belum ada pesan masuk. Perempuan, selau begitu. Eanggan, tetapi masih saja bertahan. 

"Kamu percaya aku kan? Tepat dua tahun yang akan datang aku akan ke tempat ini. Memenuhi janjiku. Membawa ijasah dan membawamu ke negeri matahari terbit. Kamu bisa memulai mimpimu dan aku memulai karirku. Kita akan hidup bahagia. Kamu tunggu aku."

Kala itu aku percaya, bahwa selalu ada kisah bahagia sebagai ujung penantian. Barangkali itu hanya ada di roman. Hingga bilangan tahun pun bertambah. Aku pun masih percaya. Siapa yang hebat, aku atau kamu? 

"Nay, maaf! Belum bisa penuhi janjiku. Aku masih meminta, tunggu aku!" 

Dua tahun telah berlipat. Aku masih menantimu. Siapa menurutmu yang tak cerdas? Bukan atas dasar rasa yang sedemian hebatnya seperti para ABG, bukan karena itu aku memutuskan untuk menunggu. Namun aku sudah terlanjur percaya bahwa bahagiaku adalah kamu. Tapi pantaskah disebut bahagia bahwa kemungkinan itu masih akan terus berulang? Bukankah laki-laki yang baik akan meminta dengan cara yang baik? Tidak membiarkan perempuan menunggu? Lalu, apa namanya jika bukan rasa?

"Nay, aku akan datang. Tunggu tanggal 13 bulan depan."

Senja sudah mulai turun, mendung yang tadi berarak telah pergi. Hujan mungkin tidak akan turun. Mungkin. Seperti kamu, yang mungkin takkan akan pernah datang. 

"Neng, rumah nomor berapa?" tanya bapak tukang becak.

"Nomor 9 pak."

Tepat adzan maghrib berkumandhang aku sampai rumah. Pintu rumah terbuka. Sayup terdengar suara bapak sedang bercakap. Jantungku berpacu lebih kencang. Hatiku was-was sekaligus berharap. Itu kamu.

Ku ucap salam. Bapak menyuruhku duduk sebentar. Aku mengikutinya. 

"Nay, ini laki-laki yang bapak ceritakan kemarin. Dia sudah sejak tadi nunggu kamu, bapak kira kamu pulang seperti biasanya. Setelah maghrib dia ada agenda lain, jadi butuh jawaban kamu sekarang." ucap bapak hati-hati.

Aku diam sejenak. Tak berani menatap lelaki dihadapanku. Dengan menyebut namaNYA, aku harus memtuskan. Semoga ini jalan terang dikemudian hari.

"Nay, ikut keputusan bapak dan ibu." hanya kalimat itu. Tak butuh basa-basi. Biarkan manusia yang paling berhak atasku yang memutuskan. Aku percaya pilihan mereka. Aku tak mau lagi bergelut dengan kemungkinan yang masih abu-abu. Aku beringsut pergi ke dalam, segera bersih diri dan memenuhi panggilanNYA. 

Hingga menjelang hari bersejarah dalam hidupku, kamu juga belum datang. Kabar pun tak ada. Kalau aku memutuskan menunggumu, mau sampai kapan? 

Purwokerto, 21062016

 

 

 

  • view 142