Mencari Bahagia

Airhein Journal
Karya Airhein Journal Kategori Motivasi
dipublikasikan 03 Juni 2016
Mencari Bahagia

Hari ini, aku, kamu, kalian, mereka, kita, masih merasakan irama degup jantung yang senada namun tak sama. Rona yang tersirat dalam raut muka dan sungging bibir pun jelas berlainan. Setiap kita punya alasan yang sebenarnya atau sekedar saja. Kebahagiaan seakan menjadi nyata yang semu. Berebut hingga berpeluh namun kosong menjalari. Apakah memang sedemikian rumitnya kebahagiaan? Tersenyum saja, itu lebih melegakan daripada mengejar jawab yang berlomba dengan waktu dan kesempatan.

Sat hari masih 24 jam, 1.440 menit, 86.400 detik, belum berubah. Hanya saja, seakan setiap hari waktu berasa berbeda. Kadang terlalu cepat berlalu, kadang lambat nian bagai siput berjalan di lumpur. Bukan waktu yang berubah-uabah namun rasa dan episode yang terus berganti. Bukan bilangan waktu namun rasa yang mendiami yang senantiasa terus berubah, relatif.  Sama halnya dengan kebahagiaan, relatif. Ukurannya berbeda-beda, bergantung rasa yang dihadirkan.

Aku, mungkin juga kamu, kalian atau mereka, seringkali terjebak pada ukuran, bilangan dan hal lain yang terlihat. Padahal sesuatu yang tak terlihat lebih sering merampok dan melemahkan serta memberikan dampak yang luar biasa. Segalanya bermuara pada rasa yang terlahir dari hati. Ah,...seringkali yang diupayakan sedemikian rupa, ternyata bukan itu yang dibutuhkan. Seringkali sesuatu itu dikejar hingga habis tenaga, namun ternyata bukan itu yang dibutuhkan. Tidak hanya sekali dua kali tetapi sering. Barangkali inilah kesalahan yang mendominasi, hingga kebahagiaan yang dinanti justru berbalik. 

Kebahagiaan lahir dari kelapangan hati. Sederhana yang rumit, mudah tetapi sulit. Banyak yang tak cakap menyikapi, banyak yang terlalu menuntut, memaksa dan sejenisnya. Penerimaan adalah material dalam melapangkan hati. Kebahagiaan akan bersusul kemudian. Menikmati setiap perih dan tawa dengan rasa yang sama. Bagaimana bisa? Itu dua hal yang berbeda bukan?

Sebagaimana kita mendiami bangku sekolah, yang dengan baik memperhatikan dan belajar dialah yang akan dengan mudah menyelesaikan ujian. Sama dengan hidup ini, yang dengan baik memperhatikan setiap kejadian, mengambil hikmah, menerima dengan ikhlas yang sebenarnya, dialah yang akan tetap bisa tertawa meski perihnya hati tiada tandingnya. Siapa yang bisa bangkit setelah terlempar jatuh, dialah yang mampu berjalan kembali.

Kebahagiaan memang diupayakan bukan ditunggu. Kebahagiaan adalah soal rasa. Relatif. Menata hati, meningkatkan keikhlasan dan mengolah rasa adalah keharusan.  Tentu saja mengupayakan yang relatif agar tetap berona bahagia butuh pembelajaran yang serius dan terus menerus. Kalau gagal, belajarlah lebih giat lagi. Gagal, carilah guru dan inspirator yang lebih hebat lagi. Carilah kebahagiaan dengan benar bukan membenarkan segala cara untuk meraih kebahagiaan. Agar tidak sekedar memperoleh kebahagiaan namun menebarkannya kepada sesama. 

Purwokerto, 030616

  • view 161