Surat yang tak pernah sampai

Ainun Nafhah
Karya Ainun Nafhah Kategori Lainnya
dipublikasikan 22 September 2016
Surat yang tak pernah sampai

 

 14 Juni, saat hari sudah menjelang tengah malam, ku ambil pena lalu menulis sesuatu ....

Aku tidak tau harus memulainya dari mana, karena aku juga tidak pernah tau kapan perasaan ini muncul. Yang ku ingat hanya wajah di pagi itu, wajah asing yang tiba-tiba muncul di hadapanku. Saat itu takdir telah menemukan aku dengan seseorang yang aku rindukan sekarang.

Aku masih ingat wajah itu, meski kini sudah terlihat pudar di telan waktu.

Berarawal dari ketidak sengajaan saat aku dan kau bertemu, hari terus berganti, dan entah berapa lama waktu yang aku habiskan hingga sampai pada satu titik dimana aku mengagumimu. Biar ku perjelas, saat itu kelas kita cukup jauh hanya untuk saling bertemu, tapi sejak awal pertemuan itu, sekolah seakan selalu di penuhi wajahmu. Hampir setiap hari aku melihatmu, entah itu di kantin, saat upacara dan pas pulang sekolah. Bagiku ini suatu hal yang langka dan aneh, hari-hariku di sekolah seakan tak pernah absen untuk bertemu denganmu. Kau pikir aku merencanakan ini sebelumnya? Tidak, aku bahkan tak pernah memintanya. Tapi takdir tau, siapa yang akan bertemu, dan siapa yang mulai merasakan jatuh cinta. Iya, dan itu aku.

Tidak secepat surat ini di buat, perasaan ini tidak tumbuh dengan mudahnya. Karena saat itu hatiku sedang di miliki oleh seseorang, kau tak perlu tau lah siapa dia. Bisa di bilang, kisah asmaraku biasa-biasa saja, tak ada yang menarik, bagiku itu hanya kisah cinta yang terlalu biasa. Sampai pada hari dimana patah hati menjadi temaku saat itu, tapi aku bukan orang yang terlalu melow dengan keadaan, hati boleh sakit, tapi senyum tak boleh mati, ya.. kira-kira begitulah.  Kau tidak perlu mendengar terlalu banyak tentang hal tidak penting ini. kini aku memutuskan untuk berhenti dari hubungan sekelas “pacaran” yang membuat aku muak. Yang pasti aku tak ingin kembali ke masa itu.

Kau mungkin tak percaya, dan menganggap cerita ini mengada-ada. tapi ditengah hari-hari frustasiku itu, wajahmu kembali hadir. Kau muncul di depanku dengan mata itu, tak seberapa indah, namun memikat. Cara jalan dan penampilanmu yang  sederhana membuat membuat keunikan sendiri di mataku. Dengan tubuh tinggi tegap, wajah yang bisa dibilang biasa saja, dan satu hal yang membuat kamu itu spesial, yaitu sifat CUEK yang kamu bawa. Kamu itu aneh, gila, humoris dan apa adanya. Kau merubahku menjadi sesuatu yang berbeda, berbeda dalam artian yang positif. Perasaan nyaman yang tak di buat-buat saat melihatmu membuat aku merasa terhibur, kau selalu menghadirkan senyum di bibirku, iya setiap hari. Aku mencoba untuk membuka hati padamu, tapi yang terjadi, aku tak berani. Aku ceritakan resah di hati pada temanku, dan entah mengapa cerita itu sangat cepat  tersebar. Aku tak tau apakah cerita itu sampai ke telingamu. Maaf aku tidak bisa mendeskripsikanmu dengan baik. Mungkin kata “sederhana” saja sudah cukup menggambarkan semua.

Hampir setiap hari selama 3 tahun aku selalu menunggu kau datang, setiap pagi. Duduk melamun seperti orang kesurupan, bertanya-tanya apakah kau masuk sekolah apa tidak, lalu tiba-tiba imajinasi aneh muncul di kepalaku dimana kau akan mengucapkan selamat pagi dan tersenyum manis di hadapanku yang sebenarnya imajinasi itu tak akan pernah terjadi. Lalu tiba-tiba sosok yang di tunggu datang, seperti biasa, kau selalu datang agak siang, berjalan santai menuju kelas dengan wajah cuek yang selalu mempesona, yeahhh, wajah cuek itu membuat goresan indah di hati lalu berakhir dengan senyum bahagia. Kau tau, wajah dan senyummu itu selalu menyelamatkan hari-hari burukku. Sepulang sekolah pun aku masih sempat melirik sepedamu, aku sangat mengenalinya, sepeda yang berwarna dominan putih dan di selingi warna biru hitam. clasic, bertambah satu lagi kekagumanku

Tiga tahun adalah waktu yang sangat lama. Tanpa senyum dan wajah itu, Ini tidak akan menjadi hal yang mudah. Banyak orang yang tau akan masalah ini dan mereka bilang “LUPAKAN”, lalu dalam hati memberontak, kalian pikir itu mudah. Terkadang aku benci dengan diriku sendiri, kenap aku bisa se sayang ini pada sosok yang bahkan bicara denganku saja tidak pernah, kenapa aku bisa cemburu pada DIA yang tidak pernah peduli. Seperti kata orang, cinta tak bisa di paksa. Iya, aku tak bisa membuatmu jatuh cinta padaku, begitu juga dengan aku yang tak bisa berhenti jatuh cinta padamu.

Entah terhitung berapa bulan aku tak bertemu denganmu, rasanya sangat janggal hari-rariku tanpa sosok itu. Mungkin ini adalah sebuah pembiasaan bagiku. Kini, aku hanya bisa menerka-nerka sedang apa kau saat ini, bahagiakah kau di sana atau kau sedang merindukan seseorang. Tapi dimanapun kau berada, aku harap kau tengah bersama orang-orang yang bisa membuatmu bahagia. Aku harap kita bisa bertemu lagi, untuk satu kali saja. Sebagai ucapan selamat tinggal mungkin, aku tak mau menyebutnya sebagai pengobat rindu, karena setiap bertemu denganmu, rinduku bukan terobati, tapi semakin parah setiap hari.

Mungkin cinta ini takkan pernah tersampaikan, seperti halnya surat ini yang tak akan pernah sampai ke tanganmu.

Ahh.. sepertinya aku terlalu banyak bercerita. Sekali lagi aku tegaskan, aku tak pernah meminta perasaan ini hadir, aku tak pernah meminta rasa sayang ini tumbuh begitu dalam, tidak pernah!. Aku sudah menyerah, tapi hatiku tetap bertahan. Memang ini bukan kuasaku untuk menolak, rasa ini muncul karena pemberian sang pencipta alam semesta. Tapi aku bisa memilih,  dan pilihanku adalah

 

DIAM..

 

 

  • view 263