Wajarkah bila aku mempunyai perasaan seperti ini?

Ainun Nafhah
Karya Ainun Nafhah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 18 September 2016
Wajarkah bila aku mempunyai perasaan seperti ini?

Ini bukan cerita, Ini bukan puisi, ini juga bukan sebuah kata-kata mutiara

Ini hanyalah sebuah ungkapan hati. Hati yang gelisah akan suatu pilihan.

                Kelas 2 SMA adalah masa yang paling menyenangkan, banyak hal-hal yang tak akan pernah terlupakan, hal –hal yang berbau romantis, permusuhan, dan persahabatan. Semua tercipta pada masa putih abu-abu. Tapi di balik keceriaan itu, ada suatu beban yang menahanku. Beban itu adalah masa depan..

                Teringat masa-masa sekolah dasar dulu, ketika mereka bertanya, apa cita-citamu? Dan dengan polosnya aku menjawab jadi dokter bu. Iya, masa itu. Masa dimana aku tak tau betapa sulit dan beratnya memasuki sekolah kedokteran, yang ada di otakku hanyalah kesenangan.

                Memasuki masa-masa SMP, masa putih biru. Dengan pertanyaan yang sama, apa cita-citamu?, dan jawabanku tetap saja Dokter. Iya, yang ada di otakku saat itu adalah pakaian dan peralatan dokter yang keren, saat dimana aku masih belum tau betapa mahalnya membeli peralatan itu. Memasuki kelas 3 SMP, tiba-tiba, seseorang bertanya lagi, apa cita-citamu?, dan aku menjawab tidak tahu. Kau bisa bayangkan, aku tak punya cita-cita. Yang ada di otakku saat itu, bahwa aku tak mempunyai bakat di bidang apapun. Cihhh.. miris sekali.

                Dan tiba masa putih abu-abu, aku di kenalkan dengan nama jurnalistik, wooww.. kata yang aku ucapkan saat mendengar itu. Membuat artikel, berita, menulis, dan memotret adalah hal yang aku sukai. Dan terciptalah sebuah kalimat cita-citaku ingin menjadi jurnalis. Kelas 1 SMA aku mengatakannya, berjalan 1 tahun, aku di kenalkan lagi dengan yang namanya photographer, dan aku langsung tertarik. Jurnalistik, tak ada lagi di otakku. Mentok pada photographer, dan aku akan melanjutkan sekolah di ISI dengan jalur undangan, dan itulah cita-citaku.

                Dan entah kekuatan takdir seperti apa yang sedang menimpaku, saat aku sudah mantap dengan cita-cita menjadi photographer, sekarang 2016 ini aku belajar dan mendalami Sastra Indonesia di kota Jember. Jika kau mau tau apa yang terjadi saat itu, ceritanya akan panjang. Entahlah, aku seperti mengikuti arus, tetapi jalannya tetap aku kendalikan. Apa yang aku jalani sekarang aku bahagia, dan cita-citaku kini ingin menjadi penulis Novel dan menjadi sutradara.    

Saat aku sudah mantap dengan cita-cita itu, aku mulai di hantui perasaan was-was, perasaan gagal, perasaan takut. Bagaimana jika aku tak bisa meraihnya? Bagaimana jika aku mulai frustasi? Bagaimana, bagaiman, dan bagaimana. Hal negatif selalu menghantuiku, salah satunya yang paling kuat adalah Bagaimana jika aku tak bisa membahagiakan orang tuaku?.

                Ayah, ibu. aku bukan seperti mereka yang cerdas, yang berprestasi, yang mendapat predikat terbaik, yang selalu pulang membawa piala bertuliskan Juara 1. Tidak, aku tidak sama. Jika kalian bertanya apakah aku ingin menjadi seperti mereka? Tentu saja aku mau, aku juga berfikir jika menjadi seperti mereka kalian akan senang. Tapi aku merasa bebanku berat, aku takut akan kerja keras kalian. Aku takut tak bisa membayar semua peluh yang kalian keluarkan hanya untukku, aku takut tak bisa memberikan yang terbaik, aku takut.

                Ayah, ibu. mengertilah, aku di sini berjuang untukmu, berjuang untuk apa yang kau berikan padaku. Di tengah rasa takut yang selalu menghantuiku, aku akan berusaha, akan aku lakukan sebaik mungkin, aku janji. Janji akan membuat kalian tersenyum melihatku memegang toga itu, aku harap kalian masih mampu melihatku berdiri dan sukses, sehingga kau hanya duduk menikmati masa tuamu.

 

Wajarkah bila aku mempunyai perasaan seperti ini?

  • view 223