Selamat Ulang Tahun Pak Cik Andrea Hirata

Aini Latifah
Karya Aini Latifah Kategori Inspiratif
dipublikasikan 24 Oktober 2016
Selamat Ulang Tahun Pak Cik Andrea Hirata

Masih lekat dalam ingatan saya ketika pertama kali bertemu dengan Pak Cik Andrea hirata satu tahun silam. Segala sesuatunya itu memang sudah Allah rancang dengan sangat baik.  Hingga akhirnya ketika saya yang biasanya hanya bisa membaca karya-karyanya hari itu saya bisa bertemu langsung dan berbincang beberapa hal. 

Semuanya bermula dari buku terbaru Pak Cik pada saat itu yang berjudul "Ayah". Sebelum buku "Ayah" terbit saya sudah jauh jauh hari mengikuti PO buku yang bertandatangan khusus di sebuah penerbit besar. 

Namun  ketika buku sudah sampai  di rumah, saya tidak melihat tanda tangan Pak Cik dihalaman depan.  Saya buka semua halaman mungkin pikir saya terlewat.  Dan setelah di cek berkali-kali memang buku itu tidak bertanda tangan. 

Saya pun mengajukan komplain kenapa tidak sesuai kesepakatan awal "Yang mengikuti PO mendapat buku yang sudah ditandatangani". Akhirnya salah seorang perwakilan dari penerbit  meminta maaf pada saya dan meminta saya untuk mengembalikan buku tersebut dan akan diganti dengan buku baru yang bertandatangan.  Saya pun mencoba berlapang dada untuk memaafkan dan menerima buku yang ada.  Pikir saya yang penting isi dari bukunya bukan tanda tangannya. Masalah ini pun saya anggap sudah selesai tanpa saya harus repot-repot mengembalikan buku yang ada karena ingin segera membacanya. 

Banyak sekali hikmah yang saya petik dari buku "Ayah" dengan cerita maju-mundur yang sulit sekali untuk di tebak. Walaupun harus berakhir dengan sad ending. Pengorbananan serta kesabaran seorang Sobari sangat patut untuk kita tiru.  Sosok sahabat seperti Ukun dan Tamat juga layak diacungkan jempol. Serta masih banyak kisah kisah menarik lainnya. 

Buku Ayah itu terbit ketika akhit bulan Mei kalau tidak salah.  Kemudian saya melihat sebuah info di grup Laskar Andreanis.  Tentang Upgrading Your  Writing Skill,  dan tiket untuk mengikuti acara tersebut adalah dengan mengirimkan sebuah karya tulis.  Saya pun mencoba mengirimkan salah satu karya tulis saya. 

Pada saat itu saya sedang mengikuti pelatihan wirausaha baru jawa barat di Rindam Siliwangi Bandung selama 6 hari. Tiba-tiba tepat di hari terakhir pelatihan saya dikabari dan diminta datang untuk mengikuti acara Upgrading Writing Skill bersama Andrea Hirata. Sontak saya sangat senang membaca pesan dari admin grup laskar andreanis. Tapi di satu sisi tubuh saya seperti sulit diajak kompromi karena begitu lelahnya mengikuti pelatihan wirausaha jabar. Saya pulang dari Bandung pukul dua siang dan tiba di rumah sudah maghrib.  

Saya pun bimbang antara datang atau tidak.  Akhirnya saya pun memberanikan diri untuk datang menghadiri acara tersebut dengan ditemani saudara saya karena kesempatan memang tidak pernah datang dua kali. 

Saya tiba di plaza senayan sekitar pukul 11 dan harus menunggu sekitar 2 jam menanti Pak Cik datang. Rasanya begitu lelah dan ingin segera rebah tapi sebisa mungkin saya tahan dan mencoba terlihat baik-baik saja.

Setelah berkeliling memilah buku di toko buku plaza senayan akhirnya Pak Cik datang. Pak Cik melempar senyum pada kami yang sudah sejak lama mengantri.  Beliau mengenakan kemeja hitam bercorak dengan topi khasnya yang tidak pernah ketinggalan. 

Ah senang sekali bisa bertemu langsung.  Bertahun-tahun membaca karya karyanya, menonton filmnya,  dan menyaksikannya muncul di layar kaca saat itu saya berdiri tepat di sampingnya. 

Beliau begitu ramah berkali-kali melempar senyum. Saya pun meminta tanda tangan beliau di buku Ayah yang saya bawa.  Setelahnya kami berfoto bersama.

Mungkin inilah hikmah dari buku Ayah milik saya yang tidak bertanda tangan tempo lalu.  Ternyata buku ini memang meminta penulis aslinya langsung menandatanganinya tepat disamping saya.

Selain membubuhkan tanda tangan di buku Ayah milik saya beliau juga sedikit bercerita saat itu beliau masih bolak balik Belitung-Jakarta.  Dan pesan beliau yang masih saya ingat sampai sekarang ketika sedikit berbincang,  "Yang ada di tanganmu itu bukan buku tapi jamu,  jamu yang ketika kamu reguk akan membuat kamu lebih semangat lagi dalam menulis". Beliau tersenyum dan saya pun tersenyum sambil merekam jelas apa yang beliau katakan. 

Setelah sesi tanda tangan buku Ayah selesai kami para peserta Upgrading Your Writing Skill diberi pengarahan dan sharing tentang menulis.  Banyak sekali ilmu-ilmu yang beliau bagikan kepada kami. 

"Menulis itu harus mempunyai komitmen"

"Menulislah, kalau tidak menulis ada yang kurang, thats we call it as a passion"

"Menulis itu harus mandiri"

"Menulis itu harus mempunyai mental mimpi." 

"Menulis itu harus percaya pada diri sendiri"

"Menulis itu karya seni"

"Dan menulis itu your identity."

"Kalau ada yang mengajarkan kau cara cara menulis, jangan percaya. Termasuk padaku."

Pakcik menutup kelas menulis sore itu dengan meminta kami melanjutkan tulisan kami sampai 100 halaman.  Sayangnya pada pertemuan kelas menulis yang kedua saya tidak bisa datang.  Kabarnya, Pakcik meminta kami melanjutkan tulisan kami hingga 250 halaman,  namun sayangnya lagi  setelah hari itu tidak pernah ada kelas menulis bersama Pakcik lagi.  Mungkin seperti dalam surat yang Pakcik tujukan untuk Laskar Andreanis bahwa sepanjang tahun 2016 ini Pakcik memang akan lebih sering berada di luar negeri ketimbang di Indonesia. 

Terimakasih Pak Cik sudah membagikan ilmunya pada kami.  Itulah kesan pertama kalinya saya bertemu dengan Pakcik.  Dan hari ini tepat tanggal 24 Oktober 2016  adalah hari ulang tahun Pakcik.  Sekalipun Pakcik tidak membaca tulisan saya ini semoga doa doa yang saya panjatkan ini akan sampai dan Allah kabulkan.  "Semoga Pakcik diberikan nikmat sehat,  nikmat iman.  Dimudahkan segala urusan, dilancarkan semua pekerjaan, selalu semangat berkarya menebar banyak kebaikan,  bahagia selalu tentunya,  akan ada lebih banyak lagi karya Pakcik yang diterjemahkan ke dalam bahasa asing,  semoga Pakcik tahun depan bisa lebih sering berada di Indonesia dan bisa sharing tentang kepenulisan lagi. 

Sekali lagi terima kasih sudah menginspirasi,  semoga Allah Yang Maha Baik mempertemukan kita kembali seperti dalam pertemuan yang tidak pernah saya sangka-sangka ini. 

Salam Rindu Selalu untuk Pakcik, 

Aini. 

 

Lukisan karya :

Facebook : Art Rodhi

  • view 248