Perahu Rindu

Aini Latifah
Karya Aini Latifah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 September 2016
Perahu Rindu

Satu tahun silam sudah Fia seorang gadis kecil berusia 6 tahun harus kehilangan kedua orangtuanya, serta adik lelaki satu-satunya secara bersamaan dalam kecelakaan yang terjadi ketika ia akan mudik lebaran ke kampung halaman. Ketika kecelakaan itu terjadi, hanya Fia yang dapat diselamatkan sementara ayah, ibu beserta Tiar harus meregang nyawa di tempat kejadian. Sehingga membuat rasa trauma itu begitu lekat dalam ingatannya. Namun, semangatnya untuk sekolah yang sampai kini membuat ia bertahan melanjutkan hidupnya. Sepeninggal ayah, ibu beserta adik laki-lakinya Fia tinggal bersama kakek dan neneknya itupun hanya dalam hitungan bulan. Khawatir tidak mendapatkan pendidikan yang layak, akhirnya Fia dititipkan di sebuah panti asuhan oleh kakek dan neneknya dengan harapan Fia dapat terus bersekolah dan meraih cita-citanya.

Kini Fia menjadi anak bungsu di antara 30 anak yatim piatu lainnya. Saat ini Fia duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar. Gadis kecil berhidung mungil ini sangat gemar menggambar. Ia lebih sering menghabiskan waktunya di taman depan panti untuk menggambar ketimbang bermain dengan teman seusianya.

Saat semburat jingga menggelayuti langit petang, suasana taman yang berada di depan panti asuhan memang selalu ramai oleh pengunjung karena memang tempatnya terkesan nyaman dan bersih. Banyak di antara pengunjung yang datang bersama sanak keluarga tercinta. Wajah Fia tampak mendung ketika melihat seorang anak perempuan seusianya sedang bergelayut manja dipelukan ayahnya, merengek meminta dibelikan eskrim. Bayangan wajah tampan ayahnya seakan kembali hadir menyapanya. Sementara dari kejauhan, Ibu Rahma yang menjadi pimpinan yayasan yatim piatu Darussalam berjalan ke arah Fia. Ibu Rahma tahu benar tentang apa yang ada dalam benak Fia, sehingga ia berinisiatif untuk menghampirinya.

“Fia kok sendirian saja disini? Enggak ikut bermain petak umpet sama yang lain?” Ibu Rahma menunjuk sekumpulan anak yang sedang berlarian. Sorot mata bening Fia menatap Ibu Rahma lekat.

“Bu, Ayah, Ibu sama Tiar sekarang ada dimana sih? Kok mereka ninggalin Fia sendiri di sini?” buliran bening yang sedari tadi tertahan pun kini jatuh perlahan menodai gambarnya. Sambil mengusap rambut panjangnya, Ibu Rahma memberi penjelasan.

“Mereka sudah ada di surga sayang. Kalau di sini Fia enggak nakal, insya allah Fia akan berkumpul kembali dengan semuanya di sana. Di sini Fia enggak sendiri kok, kan ada Ibu, Mbak Tia, Kak Anjar dan teman-teman Fia yang lain?” Ibu Rahma menggenggam jemari mungil Fia erat, seolah meyakinkannya bahwa Fia saat ini tidak sendiri. Fia kembali menatap seorang anak perempuan yang sedang bercengkrama dengan kedua orangtuanya, seakan  larut dalam angan romantisme bermanja dengan ibu dan ayahnya yang semakin dirindukannya  Fia memeluk Ibu Rahma erat,  membiarkan air matanya diluapkan ke udara.

“Sekarang Fia ikut Ibu ke masjid yuk, kita salat ashar berjamaah berdoa untuk ayah, ibu dan Tiar,” ajak ibu Rahma. Fia mengangguk cepat diiringi dengan senyum lugunya.

            Usai menjalankan salat ashar berjamaah, Pak Gunawan yang merupakan imam tetap di Masjid Darussalam memberikan sebuah kajian mengenai janji Allah terhadap orang mukmin.

 “Hadirin sekalian yang semoga dirahmati Allah, ketahuilah bahwa janji Allah kepada orang mukmin itu tidak pernah ingkar selama kita mematuhi semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Seperti firman Allah dalam Al-quran surat At-Taubah ayat 72 :

Allah menjanjikan kepada orang mukmin baik laki-laki dan perempuan (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan (mendapat) tempat yang paling baik di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah lebih besar itulah kemenangan yang agung.”

Meski dalam benaknya Fia masih bertanya-tanya tentang seperti apa itu surga, ia mendengarkan kajian dari Pak Gunawan dengan sangat antusias. Seperti yang dikatakan banyak orang, katanya surga itu indah dan Fia meyakini kedua orangtua dan adiknya sudah berada di sana karena mereka semua adalah orang baik.

***

Seperti biasa, setiap hari Senin Naura harus berangkat ke kampus lebih awal karena ada praktikum mata kuliah Pak Tian. Usai merapikan tempat tidur, tak sengaja dari balik jendela tatapannya menangkap siluet gadis berambut panjang termenung di depan sebuah danau yang terletak tepat di depan yayasan yatim piatu Darussalam yang bersebelahan dengan rumah kos Naura. Ya, gadis kecil itu bernama Luthfia Rahma yang lebih akrab disapa Fia.  Tak lama kemudian, ia pun menghampirinya.

“Pagi Fia...Kok pagi-pagi sekali sudah ada di sini?” Fia menoleh mengangkat wajahnya. Keduanya memang saling mengenal sudah cukup lama, meskipun disela kesibukannya sebagai mahasiswa Naura sering ikut mengajar anak-anak yatim piatu mengaji.

“Pagi juga Kak Naura,” senyumnya mengembang. Fia tampak asyik bermain dengan lipatan kertas yang ia bentuk seperti perahu.

“Perahu kertas sebanyak ini untuk apa?” tanya Naura heran.

“Hem...” Fia memandang Naura lekat. Menunduk, diam. Kemudian ia kembali mengangkat wajahnya.

“Fia cuma mau kasih tahu Ibu, kalau kemarin nilai ulangan Matematika Fia dapet 10 Kak,” ujarnya begitu semangat. Naura mendengus pelan sambil berpikir sejenak. Bagaimana bisa, bukankah kedua orangtua Fia sudah meninggal dunia? Ia masih penasaran dengan apa yang akan dilakukan gadis kecil ini.

Dari sekian banyak perahu kertas yang Fia buat, dalam setiap perahunya ada untaian kata yang tentunya mempunyai makna. Jemari mungilnya menari-nari menuliskan kata demi kata yang ingin ia ceritakan pada ibunya. Naura mengambil salah satu perahu kertas yang Fia buat, dibacanya tulisan sederhana yang tertera di dalamnya  Fia sayang Ibu. Pada perahu berikutnya, Fia kangen  digendong ayah. Begitu pun pada perahu-perahu lainnya Fia menuliskan kerinduannya untuk bertemu keluarganya. Naura hanya dapat memandang senyuman Fia iba. Dalam hatinya lirih, anak yang seharusnya masih membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya, justru malah harus memikul beban hidupnya sendirian. Setelah perahu-perahu kertas itu selesai dibuatnya, Fia menghanyutkan perahu-perahu itu ke danau secara bersamaan dengan mengalasi bagian bawahnya dengan daun besar agar perahu-perahu kertasnya tidak tenggelam. Perahu-perahu itu mengalir mengikuti arah air. Sorot matanya berbinar, senyumnya merekah bak bunga mawar yang sedang mekar. Naura pun masih terheran-heran dengan apa yang dilakukan oleh Fia.

“Kenapa perahu-perahunya dihanyutkan ke danau?” tanya Naura masih dengan raut wajah bingung.

“Kata Ibu Rahma, Ayah, Ibu sama Tiar ada di surga Kak. Terus waktu Fia mengaji kemarin Pak Gunawan bilang kalau di surga itu ada sungai-sungai yang mengalir di bawahnya. Air danau ini pasti sampai ke sungai yang ada di surga kan Kak?” pijar mata polosnya memandang Naura, berharap Naura berkata iya. Sementara Naura justru semakin iba memandangnya.

“Hem...iya sayang. Pasti sampai kok?” cepat-cepat Naura menyeka bulir bening yang terbendung di pelupuk matanya.

“Ya Tuhan, Fia masih terlalu kecil untuk menanggung beban seberat ini,” jerit Naura dalam hati.

Setelah hari itu, Naura menjadi sering menemani Fia bermain perahu kertas di danau. Apapun yang terjadi di setiap harinya, Fia tak pernah lupa menuliskannya pada perahu-perahu kertas yang ia hanyutkan di danau entah tentang berita gembira maupun berita duka.

***

Sore itu, Naura menyambangi Fia ke panti. Bermaksud ingin mengajaknya bermain di tepi danau seperti biasanya. Namun, saat Naura menanyakan keberadaan Fia kepada Ibu Rahma, sejak sepulang sekolah siang tadi Fia tidak mau keluar kamar. Ibu Rahma pun kebingungan lalu meminta Naura  membujuk Fia agar mau keluar kamar karena seharian ini Fia belum makan.

.           “Fia...kita main ke danau lagi yuk sayang? Nanti Kak Naura traktir eskrim, hem sama burger deh,” Naura terus membujuk Fia dibalik pintu kayu yang sedari tadi diketuknya namun Fia tak kunjung keluar kamar.

Setelah hampir satu jam menunggu, akhirnya gagang pintu yang sejak tadi cendrung diam tiba-tiba bergerak menunjukkan reaksi bahwa Fia akan segera membukanya. Naura, Ibu Rahma dan Anjar yang sedari tadi duduk menunggu pun seketika beranjak. Dari balik pintu menyeringai lekukan senyum lugu Fia, namun ada yang berbeda. Wajahnya tampak sembab seperti habis menangis. Fia berlari ke pelukan Ibu Rahma dengan membawa setumpuk perahu kertas yang berada dipelukannya sambil menangis. Ibu Rahma, Naura, dan Anjar saling berpandangan.

“Kenapa sih Bu, Fia enggak punya Ayah dan Ibu kayak temen-temen Fia? Kata Kak Naura Allah itu Maha Baik tapi kalo Allah baik kenapa Allah ambil semuanya? ” tanyanya polos. Saat di sekolah tadi, Ibu guru Fia meminta anak-anak didiknya untuk menggambar tentang sebuah keluarga. Sehingga kembali membangkitkan kenangan Fia akan sosok ayah, ibu dan adik yang selama ini begitu dirindukannya.

            “Hem sayang, ada saatnya nanti Fia akan berkumpul kembali dengan mereka semuanya tapi dengan syarat Fia enggak boleh cengeng?” Ibu Rahma tampak setengah berdiri mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Fia. Cepat cepat Fia menyeka air matanya dengan kerudung bermotif bunga yang sedang dikenakannya.

“Sekarang Fia makan dulu ya? Habis itu Fia boleh bermain perahu di danau bersama Kak Naura.” Gadis kecil itu tersenyum sambil mengangguk-ngangguk.  Fia masih terlalu kecil untuk menjalani hidup segetir ini, ia masih sangat lugu untuk mengerti makna dari kematian dan kehilangan.

***

Siang yang sangat cerah, matahari seolah sedang berbahagia. Fia pulang sekolah bersama anak-anak panti yang lainnya dengan berjalan kaki karena jarak dari sekolah ke panti asuhan pun hanya seratus meter. Di depan deret pertokoan, Fia dan yang lainnya melepas lelah sejenak sambil membeli es kelapa muda. Hingga rasa haus pun hilang seketika saat dingin menjalari tenggorokkannya.

Ketika Fia beranjak dari duduknya karena bermaksud hendak pulang, tiba-tiba Fia menyipitkan matanya memandang Zahra, Raka dan Bunga.

“Kamu kenapa Dek? Pusing?” tanya Zahra cemas sambil setengah menopang tubuhnya yang hampir terjatuh.

“Enggak. Tadi waktu  Fia melihat Kak Zahra, Kak Raka dan Kak Bunga tiba-tiba gelap.”

“Ayo, lebih baik kita cepat pulang. Nanti Fia minum obat terus tidur,” Zahra menggamit lengan Fia sebelah kiri sementara Bunga mengamit lengan Fia sebelah kanan, sementara Raka mengikutinya  dari belakang.

Setelah mandi sore, seperti biasa Ibu Rahma yang menyisir rambut Fia dengan rapi kemudian dihiasi dua buah jepit berwarna merah muda. Namun ia tercengang ketika mendapati rambut Fia mengalami kerontokan hebat, ia terdiam sejenak. Sepulang sekolah tadi juga Fia mengeluhkan sering sakit kepala dan pandangannya mengabur. Batinnya seakan menerka bahwa ada sesuatu yang janggal terjadi pada Fia.

            Lagi-lagi Fia menghabiskan sorenya dengan membuat perahu kertas di tepi danau. Menuliskan apa yang ingin ia sampaikan pada orang tua dan adiknya. Kali ini ia bercerita tentang sosok Ibu Rahma, Kak Naura dan Anjar serta puluhan anak yatim piatu lainnya yang menjadi keluarga baru yang begitu menyayanginya.

            Daun-daun kering pun berguguran, berhembus bersama angin. Beberapa burung kecil bertengger di ranting pohon jati berdaun rindang yang kini menaunginya. Saat mentari akan pulang ke peraduannya pun Fia masih tak beranjak dari duduknya. Tak lama berselang Naura mengajaknya pulang untuk bersiap-siap salat berjamaah di masjid.

“Sebentar ya Kak, ini perahu yang terakhir.”

“Sini biar Kak Naura yang menghanyutkannya ya?” Sepintas Naura membaca tulisan dalam perahu tersebut Tuhan, Fia boleh kan nyusul Ibu, Ayah dan Tiar ke surga? Kemudian Naura memandang Fia, binar mata tanpa dosa itu pun seakan menyiratkan kerinduan yang sangat mendalam. Lantunan adzan maghrib pun berkumandang, dituntunnya gadis kecil berusia 6 tahun itu menuju masjid untuk shalat berjamaah.

***

Sudah hampir satu minggu sudah Fia absen tidak masuk kelas, ia jatuh sakit. Tubuhnya seringkali demam dan merasakan sakit kepala yang luar biasa, Ibu Rahma pun hanya membawa Fia ke puskesmas terdekat karena menganggapnya hanya sakit biasa. Namun Fia tak kunjung sembuh, sehingga Ibu Rahma dan Tia pun memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit karena khawatir jika terjadi sesuatu pada Fia. Usai memeriksa Fia raut wajah dokter muda itu berubah menjadi kusut. Terlihat ada sesuatu yang tampak serius terjadi pada Fia dan menyarankan agar Fia menjalani rawat inap.

 “Sebelumnya apa pernah putri Ibu mengalami benturan yang sangat hebat?” Ibu Rahma berpikir keras mencoba mengingat.

“Hem sepengetahuan saya sih tidak Dok. Tapi Fia pernah mengalami kecelakaan satu tahun silam. Ia adalah satu-satunya korban selamat di antara keluarganya. Ayah, Ibu dan adiknya meninggal dunia di tempat” tutur Ibu Rahma menjelaskan.

“Sepertinya, terjadi benturan hebat ketika kecelakaan itu terjadi. Benturan inilah yang menyebabkan trauma pada jaringan otak, sehingga bisa jadi penyebab tumbuhnya jaringan abnormal dalam otak yang kemudian berkembang menjadi kanker otak. Kini kanker yang bersarang di otak putri Ibu sudah memasuki stadium 4.”

Ibu Rahma begitu shock mendengar penuturan dari dokter, dadanya terasa sesak karena sedih yang merambati hatinya. Kecurigaannya yang selama ini ditampiknya kini menjadi nyata. Sejak malam itu, Fia menghabiskan hari-harinya dibalik dinding rumah sakit. Di sebuah ruangan berukuran 2 x 3 meter Fia terbaring lemah tak berdaya.

***

Dua minggu sudah berlalu, namun tak ada perkembangan yang menunjukkan Fia akan sembuh justru dari hari ke hari kondisinya semakin memburuk. Selang oksigen tampak masuk kedalam hidung mungilnya untuk membantunya bernafas, sementara disisi kiri pembaringannya belaian selang infus terjuntai. Setiap harinya, secara bergantian anak-anak panti menemani Fia di rumah sakit, tidak terkecuali Naura yang sudah menganggap Fia seperti adik kandungnya sendiri. Belum juga luka menganga di hati Fia terobati setelah ia harus kehilangan seluruh anggota keluarganya, kini gadis kecil itu kembali dihadapkan dengan kenyataan yang sangat pahit.  Di usianya yang masih sangat belia bertubi-tubi ujian hidup harus ia hadapi sendirian. Beruntungnya, banyak sekali orang yang menyayangi Fia.

Kini, tubuhnya tampak lebih kurus dari sebelumnya. Wajahnya tirus, lingkar matanya menghitam, rambut panjangnya perlahan mulai menipis. Tak ada lagi wajah ceria yang selalu tersenyum manis, yang ada hanya tatapan sendu yang kerapkali meringis menahan sakit. Namun Fia memang gadis kecil yang tegar, ia tidak pernah sekalipun mengeluh. Kebesaran hati dan semangatnya untuk sembuh yang menjadikan Fia kuat  bertahan melawan kanker otak yang bersarang di kepalanya.

Hari itu kondisinya sedang stabil, kesehatannya mulai berangsur pulih. Fia pun sudah bisa diajak bicara. Sambil disuapi bubur ayam tiba-tiba ia bertanya cukup serius.

“Bu, Fia kok enggak sembuh-sembuh ya? Fia kangen sekolah. Terus udah lama...banget Fia enggak kirim perahu rindu buat Ibu. Pasti Ibu sedih.”

“Fia pasti sembuh sayang, Fia harus yakin ya? Ibunya Fia akan sedih kalau Fia sakit.” Ibu Rahma menggenggam jemari Fia. Nuansa kesedihan tampak menghiasi raut wajahnya yang sudah tidak muda lagi. Fia tersenyum kecil dan tampak lahap menyantap bubur ayam yang merupakan menu sarapan yang paling disukainya. Sebelum tidur pun Fia minta dibacakan dongeng terlebih dahulu. Tidak seperti biasanya, malam itu ia begitu manja. Dan jika kondisi Fia terus membaik, besok ia sudah diperbolehkan pulang.

Menjelang subuh, Ibu Rahma hendak membangunkan Naura untuk bersiap shalat ke mushola yang letaknya lumayan jauh dari ruangan dimana Fia menjalani rawat inap. Sejenak Ibu Rahma memandang Fia dan kemudian menghampirinya. Tidurnya tampak pulas. Tapi...deru nafasnya tak lagi terdengar, degup jantungnya terhenti. Selang infusan pun diam tidak berfungsi. Ibu Rahma berteriak memanggil dokter. Sementara Naura panik bukan main, dalam hati ia tak henti-hentinya berdoa berharap deru napasnya dapat kembali teratur seperti semula.

Dokter dan dua orang suster pun berlarian. Ketika dokter meraba pergelangan tangan Fia, ia sudah menduga bahwa Fia memang sudah tiada. Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un, pada-Nya semua makhluk dimuka bumi ini akan kembali. Kini Fia pun sudah sampai pada takdir-Nya. Kematian adalah cara-Nya untuk melepaskan penderitaan Fia selama ini.

***

Selepas kepergian Fia, Naura menjadi lebih sering menyepi di danau. Entah sudah berapa lama ia berdiri sambil terpejam, hatinya diliputi keharuan yang tidak bisa diungkapkannya dengan kata-kata. Dia butuh untuk menetralisirnya sebentar. Jika dulu ia yang menemani Fia membuat perahu rindu, namun sekarang gadis kecil yang selama ini ditemaninya yang Naura kirimi perahu rindu. Ya, batas waktu hidup manusia di dunia ini memang tak ada yang tahu. Banyak pelajaran yang ia dapat dari gadis kecil berhidung mungil ini. Fia yang memperkenalkannya pada perjalanan sebuah perahu kertas yang mungkin kini telah berlabuh di dermaga rindu. Ia belajar keikhlasan dan kesabaran dari sosok gadis kecil yang mungkin jika Naura berada diposisi yang sama dengan Fia, dia tidak akan sekuat dan setegar Fia. Dalam perahu kertas yang dihanyutkannya Naura menuliskan...Kak Naura rindu sekali bermain perahu-perahu kertas ini bersama Fia. Air mata yang sedari ia tahan pun seolah berdesak-desakkan meminta dikeluarkan. Naura ingat, terakhir kali bermain perahu kertas bersama Fia adalah ketika dalam perahunya ia menuliskan pesan... Tuhan, Fia boleh kan nyusul Ibu, Ayah dan Tiar ke surga? Dan pesan itu kini sudah Tuhan kabulkan. Tentunya, Tuhan akan jauh lebih baik menjaga Fia di sana bersama keluarga yang selama ni dirindukannya.

***

#Cerpen ini salah satu dari 4 cerpen saya dalam buku "Kasih Mamak-2013"

 

 

  • view 234