Sebaik-baik Teman Adalah Buku

Aini Latifah
Karya Aini Latifah Kategori Inspiratif
dipublikasikan 06 Agustus 2016
Sebaik-baik Teman Adalah Buku

Kecintaan saya terhadap dunia membaca bermula ketika saat saya duduk di bangku sekolah pertama, saat itu ayah saya membuka kios media cetak di depan rumah. Saya menjaganya secara bergantian. Setiap pulang sekolah giliran saya yang menjaganya, sambil menunggu saya pun membaca dengan lahap baik koran harian, tabloid mingguan hingga majalah bulanan yang membahas banyak hal baik yang mencakup berita dalam negeri maupun berita luar negeri. Dari mulai berita selebritis, bisnis, carut marut politik tanah air, kisah inspirasi, beragam masakan, cerpen, berita olahraga, kisah-kisah dan pengetahuan religi bahkan saya sudah hafal detail-detail setiap koran. Misal saya suka membaca editorial Majalah Indonesia, Dialog Jumat dan Khazanah koran republika, Berita-berita update di koran Tempo, cerpen-cerpen dan opini koran Kompas, Cerpen-cerpen story, tabloid Wanita Indonesia dan masih banyak lagi yang lainnya.

Hal itu berlangsung selama hampir 5 tahun, namun sayang perkembangan arus teknologi internet yang begitu dahsyat, pesat dan cepat membuat banyak orang beralih ke media online ketimbang media cetak. Selain mudah, murah beragam berita pun tersaji dengan lebih cepat. Singkat cerita akhirnya saya pun terpaksa menutup kios saya. Namun hal tersebut tidak serta merta menghentikan kegemaran saya membaca. Justru malah menghantarkan saya pada satu kegemaran baru, yakni menulis. Semakin banyak saya membaca, semakin banyak saya mendapat kosakata baru yang sangat membantu saya dalam proses menulis. Bahkan tidak pernah terlintas dalam benak saya, saya yang mulanya hanya seorang pembaca karya-karya orang lain justru kini hati saya seolah tergerak untuk menginspirasi orang lain. Meskipun belum banyak hal yang saya tulis karena saya pun masih dalam tahap proses belajar, belajar dan belajar.

Ketika banyak orang berpendapat buku sebagai sumber ilmu maka saya jadi mendapat satu pemahaman baru, bahwa sejatinya ilmu itu bukan untuk disimpan, melainkan untuk dibagikan. Dan bagi seorang penulis kegiatan membaca dan menulis adalah dua kegiatan yang tidak dapat terpisahkan. Sebab, bukankah kita tidak bisa memberi jika kita tidak punya apa-apa untuk diberikan? Maka, ia harus memiliki sesuatu untuk dibagikan. Nah, melalui proses membaca itulah seorang penulis memiliki banyak pengetahuan untuk dibagikan. Bahkan ujar Bunda Asma Nadia, “Kuliahnya seorang penulis adalah membaca dan menulis. Dan menulis adalah cara lain untuk membuka rekening tabungan amal hingga tetap mengalir walaupun usia sudah terhenti.”

Buku Sejarah Hidup Muhammad karya Muhammad Husain Haekal dengan penerjemah Ali Audah, bahkan berusia lebih tua dari usia saya, buku ini pertama kali terbit pada tahun 1972, cetakan kedua tahun 1974, dan yang ayah saya punya  merupakan buku cetakan ketiga yang terbit tahun1979. Betapa sebuah buku itu akan selalu bisa bermanfaat tanpa henti, sekalipun usia penulisnya sudah terhenti. Lintas zaman, lintas generasi. Membaca buku tidak hanya membuat saya mempunyai kegemaran baru, bahkan lebih dari itu. Buku memberikan saya begitu banyak pelajaran-pelajaran berharga. Pengetahuan lintas zaman, lintas negara maka tak perlu asing mendengar istilah “Buku adalah jendela dunia” dan membaca adalah kuncinya.

Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saja, ”Iqra’, bacalah”. Mungkin jika kita telaah secara mendalam hal itu merupakan satu perintah menuntut ilmu yang sering kita sebut sumbernya adalah buku. Selain wawasan kian bertambah, buku selalu menjadi teman terbaik kemanapun saya pergi serta menjadi obat galau yang paling efektif. Bahkan saya selalu kalap apabila pergi ke toko buku, rasanya ingin memboyong semua buku ke rumah.

Ibnu Aljauzy seorang sahabat nabi, begitu hausnya ia menelaah buku, beliau berkata, “Jika saya katakan saya telah membaca 20.000 jilid buku, maka sebenarnya jumlahnya lebih banyak dari itu, pun demikian aku tetap mencari. Dan jika aku mendapatkan buku yang belum pernah kubaca, seakan-akan aku menemukan harta karun yang melimpah.” Sungguh luar biasa kecintaanya terhadap buku bagi seorang pencari ilmu.

Mungkin jika kebanyakan teman seusia saya pada saat itu lebih memilih berkumpul dengan teman untuk hangout di mall, belanja, justeru saya begitu asyik tenggelam dalam tumpukan buku sehingga membaca bukan lagi beban yang dipaksakan bahkan menjadi hiburan yang penuh kenikmatan dengan selaksa faedah yang bisa dirasakan. Membaca menjadi hal yang sangat-sangat menyenangkan bahkan hal itu saya rasakan hingga sekarang.

Memang sudah selazimnya sebuah buku memberikan manfaat untuk setiap insan yang membacanya. Misalnya saja, saya begitu termotivasi ketika membaca buku ON karya Bapak Jamil Azzaini, banyak sekali hal yang dapat saya petik dari buku ini untuk ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari. Saya juga begitu terenyuh ketika membaca buku Ayah karya Bapak Irfan Hamka, tentang kisah hidup seorang Buya Hamka dari mulai masa muda, dewasa, menjadi ulama, sastrawan, politisi, kepala rumah tangga sampai ajal menjemputnya yang membuat saya begitu berbangga akan sosoknya. Serta begitu banyak buku-buku yang mencerahkan pola pikir saya.

Sayangnya seiring perkembangan zaman, kebiasaan membaca buku ini semakin langka kita dapatkan. Selain dunia hari ini dimanjakan oleh kemahiran tekhnologi, suguhan sosial media dengan berbagai apikasi pun membuat budaya membaca kian terkikis. Sehingga ingin sekali suatu hari nanti saya bisa mempunyai rumah baca yang terbuka bagi siapa saja sehingga tak ada kendala bagi anak-anak bangsa membuka jendela, menatap indahnya dunia dengan membaca.

Buku selalu membuat saya menemukan pemahaman-pemahaman baru yang selama ini tidak saya tahu. Jika para pecinta rokok selalu mengisi sakunya dengan rokok, maka kita akan mendapatkan seorang pecinta ilmu dengan buku yang menyertainya kemanapun ia pergi karena baginya sebaik baik-baik teman adalah buku, sehingga selagi masih bisa bersanding dengan buku maka tak ada istilah kesepian untuk para pencari ilmu.



  • safitri melati
    safitri melati
    1 tahun yang lalu.
    bukankah kita tidak bisa memberi jika kita tidak punya apa-apa untuk diberikan? Maka, ia harus memiliki sesuatu untuk dibagikan..

    melalui proses membaca itulah seorang penulis memiliki banyak pengetahuan untuk dibagikan..

    terimakasih untuk inspirasi nya, suka dengan kata-katanya, jadi ingin lebih banyak-banyak membaca..

    Good luck

  • Aini Latifah
    Aini Latifah
    1 tahun yang lalu.
    Iya terimakasih ya mas dani sudah berkenan membaca

  • Aini Latifah
    Aini Latifah
    1 tahun yang lalu.
    Iya terimakasih ya mas dani sudah berkenan membaca

  • Dani Kaizen
    Dani Kaizen
    1 tahun yang lalu.
    @Aini Latifah, sangat setuju dengan kata2 ini => "Sebaik-baik teman adalah buku"
    .
    .
    *Salam #VirusMembaca dan #VirusMenulis :-)