Catatan Tentang 5 SDM

Aini Latifah
Karya Aini Latifah Kategori Inspiratif
dipublikasikan 20 Juli 2016
Catatan Tentang 5 SDM

Tentang kegilaan dan tingkah konyol kami yang sekarang sibuk dengan dunianya sendiri. Semoga kalian masih mengingatnya ya tidak amnesia. 

                “ Eh gaya apa lagi nih ?” Suara riuh kami begitu mendominasi ruangan. Padahal saat itu kami sudah akan pulang. Acara buka bersama pun sudah usai sejak satu jam yang lalu.

                “Eh merem, merem belum tau,” salah seorang dari kami menimpali. Tawa pecah berderai di wajah kami. Entah sudah berapa kali cekrek-cekrek mencoba mengambil foto terbaik dan akhirnya jadilah foto absurd ini. Dan absurditas moment ini yang justru kini begitu saya rindukan.

                Foto ini di ambil tepat bulan ramadhan dua tahun yang lalu saat acara bukber, buka bersama. Mungkin lebih tepatnya buka berlima, karena dari satu kelas ketika SMP hanya kami berlima yang hadir. Saya pun sebenarnya adalah korban dari tipuan mereka, datang karena terpaksa. Sejak pukul empat sore ada notifikasi line dari sahabat saya Arief Hambali setelah berabad-abad tidak ada komunikasi.

                “Mau ikut buka bersama ga?”

                “Dimana Rief sama siapa?”

                “Anak sekelas SMP, tempat menyusul ayo ikut,” ajaknya. Sementara saya masih menimbang-nimbang.

                “Yakin banyak yang ikutnya?” tanya saya sekali lagi.

                “Banyak kok, nanti Arief sama anak-anak nyamper ke rumah ya”

                Mendapat jawaban yang meyakinkan bahwa banyak anak-anak yang ikut saya pun lantas bersiap-siap. Singkat cerita ala ala sinetron Indonesia tiba-tiba mereka sudah berada tepat di depan rumah saya memanggil-manggil nama saya serentak persis seperti akan mengajak saya berangkat sekolah bersama. Ada Arief, Dani dan Ari, entah sudah berapa tahun saat itu saya baru bertemu mereka lagi. Melihat wajah mereka, bayangan saya tentang masa-masa putih biru 10 tahun yang lalu seolah menguap kembali.

                Dari rumah saya, kami tidak langsung mencari tempat buka bersama. Kami terlebih dahulu menyambangi rumah Luthfi, sahabat saya satu lagi. Beberapa bulan sebelumnya saya sudah pernah bertemu dengannya secara tak sengaja di Stasiun Kota. Saat itu saya sedang menunggu teman saya yang sedang membeli minum. Dari kejauhan saya mencoba menerka, sosok laki-laki yang sedang berjalan lurus ke arah saya sepertinya saya pernah melihat dia sebelumnya.

                Dalam hati riuh bertanya  luthfi bukan ya? Ah bukan kayaknya. Eh tapi mirip luthfi, eh iya deh kayaknya itu  luthfi. Semenjak dinyatakan lulus SMP dan melanjutkan ke SMA yang berbeda kami belum pernah bertemu lagi. Ketika sosoknya begitu dekat dengan tempat saya berdiri, akhirnya tanpa ragu saya pun memanggilnya.

                “Ufeeeeeeee,” begitu sapaan akrab saya pada teman lama yang bernama lengkap Muhammad Luthfi Rahmat ini. Dia pun menoleh ragu.

                Lantas terjadilah pertemuan heboh diantara kami dengan serentetan pertanyaan mengapa bisa bertemu di Stasiun Kota pada saat itu. “Ngapain ada di sini?”, “Kok bisa ya kita ketemu disini?”, ”Ya ampun udah berapa abad kita baru ketemu lagi?” dan serentetan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Namun yang  pasti takdir yang membawa kami bertemu di titik ini. Sehingga karena satu tujuan, kamipun memutuskan untuk pulang naik kereta yang sama.

                Sepanjang perjalanan kami saling bernostalgia mungkin bernostalgila lebih tepatnya, mengenang masa-masa SMP yang begitu menyenangkan. Semasa SMP Luthfi itu patner pulang sekolah bersama. Ada saja hal lucu yang menjadi bahan tertawaan kami bertiga. Saya, Luthfi dan Fiska setiap harinya.

                “Inget ga Fe, orang gila dibawah jembatan layang yang kalau kita berangkat sekolah pagi-pagi sampai kita pulang lagi masih muter muterin tiang? Hahaha.”

                “Hahahahaaha iya inget, inget juga ga pas ada yang dapet kompor gas dari kuis siapa berani?” tanya ufe lagi.

                “Hahahaha asem...ah sebel sebel sebel kalo inget itu hahaha”

                “Toa sekolah tempat nongkrong kita apa kabar Fe masih ada ga ya? haha” kenang saya mengalihkan pembicaraan.

                “Oh iya itu sudut favorit kita ketawa-tawa, becanda ngetawain apa aja, ah kangen ya? Entah udah berapa kali kejeduk disitu tuh haha,” ternyata luthfi masih mengingatnya ia tidak amnesia :D ...kami tertawa terpingkal ketika kembali mengenangnya.

                Hal yang paling membuat saya tertawa geli adalah ketika menanyakan perihal skripsi yang sedang ia garap, lucu sekali tapi tenang Fe tidak akan saya ceritakan disini hahaha. Ah Ufeee rasanya mau tertawa sepuas hari itu lagi, sayangnya dalam hidup ini tidak pernah mengenal kata mundur. Saat itu Luthfi adalah seorang mahasiswa tingkat akhir Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti. Jika penumpang yang lainnya tertidur lelap di dalam kereta lain halnya dengan kami, sepanjang perjalanan tak membuat kami berhenti tertawa menceritakan apa saja semasa kami masih duduk di bangku SMP. Batin saya, ternyata tak ada yang berubah dari sifatnya dia masih Ufe yang sama masih gila dan belum sembuh juga, sahabat saya seperti bertahun-tahun sebelumnya.

                Kembali ke cerita semula tentang buka berlima, sesampainya di rumah luthfi saya tercengang melihat pemandangan yang tampak sepi.

                “Katanya yang ikut banyak Rief apa pada belum datang?”

                “Orang cuma seginian doang,” jawab Dani

                “Ih tadi katanya banyakan,” protes saya.

                Sementara di depan saya empat sekawan itu saling berbisik dengan tatapan mengarah pada saya dan berujar “dari SMP gampang banget kena tipu hahaaa”.  Dan lagi-lagi hal ini membangkitkan kebali ingatan mereka  tentang lelucon gila kuis siapa berani. Haha.

                Jadi begini ceritanya, dulu zaman kami sekolah SMP itu sedang booming sekali kuis siapa berani yang dipandu Helmi Yahya dan Alia Rohali. Seingat saya,  acara kuis tersebut tidak disiarkan secara langsung, kemudian ada yang menghubungi ke nomor telepon rumah saya megatasnamakan dari kuis siapa berani. Jika saya bisa menjawab pertanyaan yang diajukan maka saya berhak mendapatkan hadiah kompor gas. Dari semua pertanyaan yang diajukan saya berhasil menjawab maka saya pun berhak atas hadiah yang di dapat. Saya yang saat itu masih anak SMP yang lugu percaya saja, dan tampak senang sekali hahaha. Katanya hadiah akan dikirimkan ke alamat yang saya berikan.

                Keesokan harinya di sekolah. Anak berempat ini tampak senyum senyum berseri dan bahagia sekali melihat saya. “Cieee ada yang menang kompor gas dari kuis siapa berani,” ledek Luthfi. Seketika saya menoleh.Batin saya kok mereka tahu?

                Mereka tampak tertawa terbahak-bahak. Ah ternyata yang mengaku-ngaku dari kuis siapa berani adalah empat sekawan ini. Bodohnya, sungguh saya sama sekali tidak mengenali suara luthfi. Dan sampai sekarang pun saya masih menjadi korban tindak kejailan mereka. Bodoh, bodoh,bodoh jika mengingat hal itu hahaha.

                Sesampainya di sebuah restoran sunda...saya masih memasang wajah bad mood karena hanya saya perempuan seorang diri.

                “Berlima gini udah kaya personil 5 CM?” ujar Luthfi. Siapa yang tidak tahu film 5 CM yang di adaptasi dari sebuah novel best seller karya Donny Dirghantoro tentang kisah persahabatan antara 4 orang laki-laki dan 1 orang perempuan yang begitu mengagumkan. Tiba-tiba ada yang menyela,entah siapa saya lupa.

                “Kita sih bukan 5 CM tapi 5 SDM?”

                “Apaan 5 SDM?”

                “5 Sendok Makan, karena terbentuknya kan berlima  pas kita lagi makan...” hahaaa ada ada saja pikir saya dan yang lainnya.

                Usai makan dan shalat maghrib kami tak langsung pulang, kami masih asyik berbincang-bincang. Karena kesempatan bisa bertemu dan berkumpul seperti ini terbilang sangat jarang.

                “Eh si Putri apa kabar ya?” tanya saya membuka pembicaraan.

                “Putri yang mana sih?” ujar yang lainnya bingung.

                “Itu ih Putri orang Batak yang rambutnya panjang yang sering kalian rukyah hahaha,” ujar saya seolah tak kuat menahan tawa. Ketika yang lain juga mulai mengingat sosoknya kembali kami pun saling melempar tawa mengenang sosok Putri. Dulu, jika Putri di kelas tertawa memang sulit untuk diberhentikan, sehigga bisa dijadikan bahan guyonan untuk menjadi pasien rukyah karena pikir mereka ada hantu kuntilanak yang bersarang  merasuki jiwanya sehingga diperlukan metode rukyah untuk mengusirnya hahahaa...

                “Lain cerita lagi, kalo Fajar Setiadi kalian masih inget juga kan?” tanya saya lagi.

                “Oh iya iya inget emang kenaapa?” tanya Dani. Yang lainnya menyimak antusias menunggu kelanjutan ceritanya. Belum selesai cerita saya sudah tertawa.

                “Waktu dia lagi tiduran di meja kelas, kalian pernah jadiin dia percobaan mandiin mayat tau hahaa pada inget ga?”

                “Ya ampun...hahahaha,”

                 Bahagia itu membuncah dalam bentuk tawa yang berderai bersama di wajah kami berlima.

                Tentu kami berlima pun masih ingat tentang permainan lempar akrobatik di kelas yang tak kan pernah kami lupa, tentang hukuman lari-lari lapangan basket satu kelas karena membuat kelas kotor merayakan ulang tahun Fiska, tentang guru-guru kami yang masing-masing memiliki cerita sendiri. Kelas kami 3D adalah juara umum dalam pentas seni antar kelas. Terutama dalam bidang kabaret, Kelas kami adalah angkatan pertama pencetus ekskul ini, dengan penulis skenario terbaik yakni Luthfi yang ide-idenya luar bisa.  Tema yang di usung pun sangat lucu sekali. Masih jelas terekam dalam memori saya, kami kesebelasan 3D (Saya, Luthfi, Ari, Arief, Dani, Eka, Wulan, Fiska, Rini, Mentari, Irma) mengenakan kostum hantu berjalan dari kelas menuju Aula. Karena juara umum, kabaret kami pun ditampilkan kembali pada saat acara perpisahan sekolah. Ah, ada haru sekaligus bahagia ketika hari perpisahan sekolah tiba. Sebab sejak hari itu kami sudah tidak bisa berjalan beriringan lagi dan harus berjalan sendiri - sendiri untuk meraih mimpi yang lebih tinggi lagi.

                Mungkin masih banyak lagi hal-hal lucu yang luput dari memori kita hari itu. Bagi saya, semua masa-masa sekolah itu selalu  dilalui dengan indah tidak hanya masa SMA saja. Bahkan masa-masa SMP juga begitu saya rindukan karena tak kalah membahagiakan.

                Namun waktu seharian jelas tidak akan pernah cukup untuk menguraikan kembali  3 tahun masa putih biru yang begitu menyenangkan. Sayangnya moment-moment kebersamaan itu sudah tidak bisa kita ulang hanya bisa kita kenang. Dan kini sudah bergeser memasuki moment kedewasaan. Masa di mana kita harus lebih bijaksana dalam mengambil keputusan.

                Kawan, dulu kita saingan dalam beberapa jenis bidang. Saling kejar-kejaran rangking seperti tak mau terkalahkan. Seperti Arief dan Dani yang menguasai pelajaran hitung-hitungan,  Luthfi dan Ari yang menguasai pelajaran Bahasa Inggris, Saya dan Luthfi yang senang membuat cerita dan menyukai pelajaran Bahasa Indonesia pada akhirnya kami yang memiliki kecerdasan di atas rada-rada (Ya, rada-rada. Kadang bener kadang engga)  harus memilih jalan hidup yang berbeda.      

               

                Saat kita masih mengenakan seragam putih biru mungkin kita berpikir akan jadi apa nanti kita di masa depan? Dan hidup ini memang selalu penuh dengan kejutan bahkan kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi walau hanya 1 detik kemudian. Kini ... Luthfi, setelah menyelesaikan S1 Kedokteran kini sibuk menjalani profesinya sebagai Dokter Muda yang saya tahu dari akun sosial medianya ia sering pergi ke luar daerah dalam menjalankan tugasnya, Arief  setelah menyelesaikan pendidikan Diploma Akuntansinya sekarang sibuk bekerja sebagai seorang accounting di sebuah perusahaan dan  ia juga memutuskan untuk melanjutkan studi S1-nya kuliah kembali di Bandung. Dani setelah menyelesaikan pendidikan Diploma Tekhnik Mesin kini sibuk dengan pekerjaannya sebagai mechanical engineering di Krakatau Cilegon,  juga memanfaatkan waktu weekendnya untuk kuliah kembali menyelelesaikan study S1-nya di Bandung. Ari yang telah menyelesaikan kuliahnya di jurusan bahasa inggris, ia pun sibuk dengan menjadi asisten lab bahasa di kampusnya. Namun sayang saya tidak mengetahui secara detail  kabar Ari karena sudah lama sekali kami tidak berkomunikasi. Sementara saya yang tidak pernah  focus untuk menekuni satu bidang dari minat di writer, kuliah jurusan Diploma komputer, passion sebagai crafter  kini bekerja sebagai sekretaris dokter.

                Kawan, selintas harap sederhana dari saya semoga persahabatan ini akan terus terjaga sampai kita tua, tentunya tanpa pernah mengenal istilah kadaluarsa.

                Menuliskan ini semua dengan perasaan bahagia, Sukses untuk kita semua...

                                                                                                                                                                                Aini

 

 

 

 

 

 

 

 

  • view 287