Untuk Rodhi, Tetaplah Membumi dan Teruslah Menginspirasi

Aini Latifah
Karya Aini Latifah Kategori Inspiratif
dipublikasikan 01 Juni 2016
Untuk Rodhi,  Tetaplah Membumi dan Teruslah Menginspirasi

Sejak jauh-jauh hari sebelumnya Rodhi, begitu sapaan akrabnya sudah berkali-kali meminta saya datang ke acaranya. Namun sayang, saya selalu berhalangan hadir sehingga tidak pernah sempat datang. Hari itu, sabtu tanggal 02 April 2016 ia mengisi acara hari anak autis sedunia yang bertempat di Mall Karawang Central Plaza bersama anak-anak ABK IAmanda.

Hari itu sepulang kerja saya langsung pergi ke tempat acara sekalipun acaranya sudah hampir usai. Saya dan teman saya Tami berdiri di depan restoran A&W disamping panggung utama menunggunya. Tiba-tiba sosoknya muncul dari belakang mengejutkan saya. Pertama kali saya bertemu sosoknya pembawaan dia sangat riang, tawa selalu berderai dari wajahnya. Ia tampak senang dan terlihat seperti tak ada beban. Pembawaannya sangat ceria, ramah. Bahkan ia sama sekali tidak merasa malu walau dia berbeda dengan yang lainnya. Padahal banyak pasang mata yang memandangnya dengan tatapan yang sulit diterjemahkan, mungkin iba atau bahkan bangga melihat semangatnya. Rodhi tampak sudah bersahabat sekali dengan kursi rodanya ia begitu mahir mengatur lajunya sendiri tanpa meminta bantuan orang lain untuk mendorongnya. Saya dibuat kagum dengan semangat dan kemandiriannya.

 Kami justru belum pernah saling bertatap muka sebelumnya, perkenalan awal kami bisa dibilang sangat singkat itu pun hanya melalui sosial media. Akan tetapi persahabatan kita seperti sudah terjalin sejak lama.  Lucu, sebelumnya Rodhi mengira saya penulis terkenal karena pada saat itu saya menggunakan foto profil facebook bersebelahan dengan Pak Cik Andrea Hirata. Tiba-tiba dia menginbox saya bertanya banyak hal, bagaimana caranya jika ingin menemui Andrea Hirata sebab ternyata Rodhi juga begitu mengagumi sosok Andrea Hirata. Padahal pertemuan saya dengan Andrea Hirata pun terjadi tanpa rencana. Sehingga saya pun hanya menjawab sekenanya.

Rodhi terus bertanya bagaimana jika ingin bertemu Pak Cik Andrea Hirata, sebab ia ingin menyerahkan lukisan sketsa wajah Pak Cik secara langsung. Saya pun mencoba menanyakannya namun sayang Pak Cik sedang tidak berada di Indonesia sepanjang tahun ini karena disibukkan dengan dunia literasi.

Saya pun mencoba mengunjungi profil facebooknya. Wah, teryata pemilik akun sosial media bernama Art Rodhi ini adalah seorang seniman. Ia adalah seorang pelukis naturalis, karyanya sudah banyak sekali. Lukisan-lukisannya begitu indah, tampak jelas seperti aslinya bahkan ia membuatnya dengan  jauh lebih indah. Saya merasa takjub dibuatnya. Namun ada hal yang membuat hati saya tersentuh, ternyata Rodhi ini adalah seorang penyandang disabilitas, ruang geraknya terbatas. Ia melakukan aktivitasnya dengan bantuan sebuah kursi roda serta sosok ibu hebat yang begitu setia mendampinginya.

Entah kenapa saat itu saya begitu tertarik dengan sosok ibu paruh baya yang selalu ada di mana pun Rodhi mengisi acara. Saya yang mempunyai  pribadi dengan kadar keingintahuan yang sangat tinggi pun mencoba memberanikan diri bertanya banyak hal mengenai sosok Rodhi, tentunya dengan hati-hati karena khawatir menyinggung perasaannya.  Tapi dengan ramah Rodhi menyambut keingintahuan saya.

Rodhi banyak sekali bercerita pada saya mengapa saat ini dia menggunakan kursi roda. Ternyata hal itu bermula ketika ia mengalami kecelakaan lalu lintas pada saat ia duduk di bangku kelas 3 SMP belasan tahun yang lalu, saat itu ia membonceng tantenya dan tiba-tiba dari arah yang berlawanan motor yang sedang ia kendarai dihantam truk, tubuhnya terpental. Kondisi yang harus Rodhi jalani memang tidak mudah saat ia divonis lumpuh dan tidak bisa berjalan kembali. Sejak saat itu pula Rodhi putus sekolah dan ia pun memilih mengucilkan diri dari lingkungan sekitar, ia tidak pernah mau ditemui bahkan saat ada tetangga, saudara dan teman-teman sekolah yang hanya  sekedar ingin menjenguknya.  Saat itu ia sempat terpuruk, marah, kecewa dan menganggap Tuhan itu tidak adil pada dirinya. 5 tahun Rodhi mengurung diri  di kamar tanpa aktivitas menyesali hal buruk yang sudah terjadi. Andai hari itu bisa diulang kembali mungkin ia akan lebih berhati-hati. Namun Ibunya, tidak pernah sedetik pun mengabaikan apalagi meninggalkannya. Rodhi sungguh beruntung memiliki sosok ibu hebat yang begitu setia mendampinginya dengan selaksa kasih sayang tanpa jeda. Pada akhirnya Rodhi pun harus berbesar hati menerima keadaan ini.

Rodhi mencoba memutar otak, ia tersadar dunia ini saja terus bergerak tidak diam. Justru seharusnya ia bersyukur masih Tuhan beri kesempatan untuk terus melanjutkan hidup melakukan banyak hal baik.  Lantas ia berpikir, hal apa yang bisa ia lakukan di atas kursi roda agar dirinya masih bisa menjadi manusia berguna ditengah keterbatasan yang ada. Sebab bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang bisa bermanfaat untuk sesama?

 

Sejak kecil, Rodhi memang sudah hobbi menggambar bahkan buku catatan sekolahnya pun lebih banyak berisi coretan gambar-gambar ketimbang tulisan berisi pelajaran. Rodhi pun coba-coba membuat sketsa wajah. Ia pun mulai berani membuka diri kembali.

Sketsa wajah pertama yang dibuatnya adalah wajah presiden kita yang ke-6 Bapak Susilo Bambang Yudhoyono atau yang lebih akrab kita sapa Pak SBY. Rodhi pun kembali mengisahkan. Sketsa wajah Pak SBY ini pernah ditawar dengan harga tinggi oleh Ibu Ani Yudhono tapi ia tidak melepasnya. Ketika saya tanya alasannya jawabannya sungguh luar biasa, “Lukisan sketsa wajah ini adalah titik awal dimana saya memulai semuanya dan dan buat saya sejarah itu tak kan pernah ternilai harganya”. Hingga saat ini entah sudah berapa ratus karya sketsa wajah yang sudah dibuatnya.

Rodhi mempublikasikan karyanya di media sosial facebook, ada seorang pegusaha yang membeli lukisannya. Kemudian beliau bertanya, “Hal apa yang selama ini ingin kamu capai?” Rodi menjawab, “Saya ingin berkarya tidak hanya di dalam kamar saja”. Bapak itu sungguh berbaik hati memfasilitasi Rodhi untuk merantau ke Jakarta.

Setelah memutuskan hijrah ke Jakarta, ruang gerak Rodhi dalam berkarya menjadi lebih luas, banyak event yang bisa ia ikuti. Bahkan ia juga sering di undang menjadi motivator atau sekedar membagikan ilmunya dalam bidang melukis. Ya, seperti yang diungkapkan Dee, bahwa karya adalah anak jiwa yang sepatutnya hidup di alam terbuka. Bukan hanya untuk disimpan sendirian saja.

Begitu pun ia mengisahkan cerita lainnya pada saya, Rodhi begitu bahagia sekali ketika ia mendapatkan undangan khusus untuk bertemu Bapak Presiden. Saya lupa saat itu Pak Jokowi mengundangnya dalam rangka apa.  Rodhi pun membuat sketsa wajah Pak Jokowi secara khusus yang akan diberikan langsung pada saat bertemu nanti. Sketsa itu sungguh mirip sekali dengan sosok asli. Namun sayang, hingga saya menuliskan kisah ini Rodhi urung bertemu Pak Jokowi karena pada saat itu ada tugas negara yang harus beliau selesaikan, sekalipun ia merasa kecewa namun bukan Rodhi jika ia harus menyerah dan berputus asa. Hibur saya, pasti ada sesuatu lebih baik yang sedang dipersiapkan-Nya. Percaya saja.

Selang beberapa bulan, Rodhi mengikuti pameran lukisan di kawasan gedung DPR RI. Banyak lukisan yang ia ikut sertakan di pameran tersebut. Dan salah satu lukisan yang ia bawa adalah lukisan Bapak Presiden kita yang ke-7, Pak Jokowi.

            Lukisan sketsa wajah Pak Jokowi yang belum sempat diberikannya secara langsung itu ternyata menarik hati ketua DPR RI, bapak Ade Komarudin sehingga beliau membelinya dengan harga yang sangat tinggi. Saya ikut bahagia sekali mendengarnya. Tiba-tiba saya teringat dengan apa yang diutarakan Pak Cik Andrea Hirata, “ Berkaryalah...Sebab setiap karya pasti akan menemukan nasibnya sendiri”. Dan ini memang benar-benar terbukti. Seringkali kita sebagai manusia hanya bisa mendeskripsi tidak pernah bisa mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi nanti.

            Dan dari lubuk hati terdalam, “Sahabat spesial, terimakasih darimu aku belajar banyak hal. Tentang pelajaran hidup yang tidak pernah saya dapatkan di bangku sekolah ataupun kuliah. Tentang penerimaan, kebermafaatan, keikhlasan, kesabaran, perjuangan, dan totalitas dalam berkarya yang menembus batas. Untuk Rodhi,  Tetaplah membumi,  teruslah menginspirasi. "

 

Aini

 

 

 


  • Irfan Kriyaku.com
    Irfan Kriyaku.com
    1 tahun yang lalu.
    salut..

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    dia yang pernah hadir sebagai narasumber di Kick Andy, kan mbak?

    • Lihat 5 Respon

  • Komentator Ngasal
    Komentator Ngasal
    1 tahun yang lalu.
    #sungkeman untuk Rodhi

  • Fahd Pahdepie
    Fahd Pahdepie
    1 tahun yang lalu.
    What an inspiring story. Sampaikan salam untuk Rodhi.

  • Umie Poerwanti
    Umie Poerwanti
    1 tahun yang lalu.
    So inspiring... _^