Matematika Allah vs Matematika manusia

Aini Latifah
Karya Aini Latifah Kategori Enterpreneurship
dipublikasikan 18 Mei 2016
Matematika Allah vs Matematika manusia

Kisah saya ini bermula ketika semasa kuliah saya memang sudah memulai bisnis handcraft kecil-kecilan, saya menjual beragam handcraft milik kakak saya seperti bros, phone case, tas, bandana, dan ikat rambut yang berbahan dasar dari benang rajut. Pada saat itu saya hanya sebatas membantu mempromosikan saja pada teman sekelas dan teman kuliah lainnya.

Alhamdulilah, pesanan tidak pernah sepi. Melihat pesanan begitu banyak, suatu hari saya puningin belajar merajut agar bisa sedikit meringankan pekerjaan kakak saya. Tapi ternyata merajut itu tidak semudah yang saya bayangkan, sangat sulit karena pola-polanya yang sangat rumit.

Saya hanya berhasil membuat sebuah tali panjang yang menurut kakak saya merupakan teknik dasar dalam seni merajut, tahapan polanya sangat banyak sekali. Tali panjang yang saya buatpun bentuknya sangat tidak karuan dan sangat tidak rapi. Alhasil saya pun menyerah, kakak saya pun hanya berujar “Payah, belum apa-apa sudah nyerah”. Saya merasa tidak punya bakat dalam seni merajut. Hasil merajut saya sangat jauh dari kata rapi. Mungkin jika ada lomba merajut saya lah orang yang pertama kali tereliminasi.

Suatu hari di sekolah taman kanak-kanak yang terletak tidak jauh dari rumah saya diadakan bazar aneka produk dalam rangka menyambut tahun baru islam. Saya dan kakak saya pun memutuskan untuk berpartisipasi dalam acara tersebut dengan mempromosikan produk handcraft kami. Untuk lebih meramaikan produk kami saya searching di internet bros berbahan dasar kain flanel yang cara membuatnya mudah. Dan saya menemukan bros flanel dengan bentuk lolipop yang tidak memerlukan proses menjahit terlalu rumit dalam membuatnya. Dengan bangga saya pun berhasil membuat 10 buah.

Ketika acara bazar berlangsung alhamdulillah handcraft rajut kakak saya terjual cukup banyak meski masih tersisa beberapa. Namun ironis sekali tak ada seorang pun yang membeli bros lolipop saya. Perasaan sedih, kecewa, putus asa campur aduk saat itu. Batin saya, “Pokoknya saya tidak akan membuat apa-apa lagi mungkin saya memang tidak berbakat”. Ketika saat perjalanan pulang menaiki angkutan umum, saya berhadapan dengan seorang anak SD berparas ayu dengan balutan jilbab putih yang dikenakannya. Saya mengambil satu buah bros lolipop berwarna merah yang tidak terjual tadi dan memberikannya pada anak tersebut. Mulanya anak perempuan itu malu-malu mengambilnya dan berusaha menolak dengan halus namun setelah saya yakinkan berkali-kali, “Ayo ambil, ini buat adek”. Akhirnya anak perempuan itupun mengambilnya seraya tersenyum dengan mengucapkan, “Terima kasih”.

Keesokan harinya, sepulang sekolah tiba-tiba keponakan saya menghampiri saya dan bertanya bisa atau tidak membuat bros flanel berbentuk eskrim, saya pun hanya menjawab akan mencobanya terlebih dahulu. Setelah membuat satu contoh, keponakan saya menunjukkan pada teman-temannya. Secara mengejutkan teman-temannya memesan sekitar 40 bros eskrim warna merah dan hijau tua yang disesuaikan dengan warna seragam sekolah. Sungguh rezeki yang tidak pernah disangka-sangka sebelumnya.

Dan usaha handcraft rajut dan flanel ini berjalan hingga kini akan memasuki tahun kelima, yang mulanya saya tidak bisa menjahit dan hanya bisa membuat 2 macam bros saja alhamdulilah sekarang saya sudah bisa membuat 50 macam bros yang berbeda. Ajaibnya, semua hal ini bermula setelah saya memberi 1 buah bros pada seorang anak SD. Pesanan-pesanan lainnya pun berdatangan. Mulai dari pesanan teman, keluarga, sampai suvenir pernikahan. Sungguh, bukan bermaksud sombong, mungkin sudah lebih dari 4000 bros flanel yang pernah saya buat sampai sekarang. Memang kunci dari sebuah ujian yang Allah berikan itu adalah kesabaran, karena kesabaran selalu sanggup manaklukkan apapun. Ya, apapun. Dan tentunya dengan usaha dan doa yang tanpa mengenal kata putus asa.

Sungguh luar biasanya perhitungan matematika Allah, Ketika kita melakukan pengurangan justru Allah membalasnya dengan penjumlahan, Ketika kita melakukan pembagian justru Allah membalasnya dengan perkalian. Matematikanya Allah dengan matematikanya manusia itu jelas berbeda dan sungguh sedemikian hebatnya. Dan saya benar-benar sudah membuktikannya. Jika dalam matematika manusia 10 dikurangi 1 itu sama dengan 9. Tapi dalam matematikanya Allah 10 dikurangi 1 itu sama dengan 1000 bahkan lebih. Subhanallah...