Sebuket Mawar

Aini Latifah
Karya Aini Latifah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Mei 2016
Sebuket Mawar

Tentang sebuket mawar yang hampir dibuang, menunggu calon pemiliknya yang tak kunjung datang di penghujung petang.

 

  Lima tahun yang lalu kita disibukkan dengan saling mencari informasi dan latihan soal-soal SNMPTN. Semenjak Dimas memutuskan kuliah di luar kota, kunjungannya ke rumahku untuk meminjam soal-soal latihan SNMPTN menjadi kunjungannya yang terakhir. Sejak saat itu, tidak pernah ada pertemuan-pertemuan lagi. Mungkin sesekali hanya bertegur sapa melalui sosial media saja. Itu pun masih dapat dihitung dengan jari, intensitas kita untuk bertemu menjadi jarag terjadi bahkan sudah tidak pernah sama sekali.

 

Aku dan Dimas sibuk dengan dunia baru, teman-teman baru, lingkungan baru juga sibuk dengan segala hiruk pikuk dunia perkuliahan, sehingga untuk sekedar bertemu pun tak ada waktu. Dimas sudah jarang sekali pulang. Kalau pun tiba waktu liburan Dimas lebih sering berlibur bersama-sama temannya. Semester demi semester pun terlewati dengan baik. Aku pun mengetahui segala hal tentang dirinya hanya melalui akun sosial media miliknya.  Hingga pada akhirnya  tahun-demi tahun berlalu, aku yang lebih dulu menyelesaikan program diploma tigaku.

 

Ketika pada satu kesempatan secara tidak sengaja kita bertegur sapa di jejaring sosial line,  Dimas menyapaku lebih dulu waktu itu. Obrolan pun mengalir. Mulai bertanya kabar satu sama lain serta menanyakan  kesibukan masing-masing.

 

“Sudah bab berapa skripsimu Dim?” aku menunggu jawabannya sambil memandang layar ponsel. Dimas membalasnya cepat. 

 

“Alhmdulillah hanya tinggal menunggu jadwal sidang, mohon doanya ya An, semoga lancar” jawabnya penuh harap. Aku pun hanya menjawabnya dengan beberapa emoticon smile serta mengamininya dalam hati.

 

Sejak hari itu seperti biasa kembali tak ada kabar, Dimas menghilang, kita kembali disibukkan dengan urusan masing-masing. Aku tak pernah berani menyapa lebih dulu karena pikirku Dimas pasti sedang disibukkan dengan proses penyusunan skripsi yang cukup membuatnya lelah bahkan hampir menyerah. Ya aku pernah merasakan ada di posisi itu.

 

Sudah pukul 23.55 WIB, mata ini seakan sulit sekali untuk terpejam. Kuraih sebuah buku ‘Ratapan Kerinduan Rumi’ dari rak buku sebelah tempat tidurku. Hanya baru membaca beberapa halaman ponselku bergetar yang menandakan satu pesan BBM masuk.

“Di-mas Hen-dra-wan,” kueja namanya perlahan dengan sebersit  tanya menggantung ada apa Dimas menghubungiku larut malam.

“Embillllllll…” hanya memanggil disertai “PING!!!” beberapa kali. Memiliki pipi chubby membuatnya memanggilku dengan sapaan embil, si pipi gembil.

“Iyaaaaa ada apa?” jawabku datar.

“Embilll…aku lulus dong sidangnya. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar makasih ya doanya datang ya ke acara wisuda tanggal 26 April 2015,” Aku tersenyum membaca pesannya, membayangkan wajah sumringahnya ada di hadapanku sekarang.

“Alhamdulillah ikut senang, selamat ya Dim. Cieee akhirnya sebentar lagi ada yang pakai toga hehe,” ledekku usil.

“Iya An, Alhamdulillah datang ya lima tahun loh kita gak ketemu.” Lima tahun? Selama itu? Sesaat , ingatan seolah berputar, pulang kembali ke belakang.

“Insya Allah ya Dim kalau gak ada halangan aku pasti datang,”

***

 

26 April 2015,

Begitu banyak orang berlalu lalang dengan rona kebahagian terpancar mewarnai wajah wisudawan dan wisudawati dengan masing-masing didampingi rombongan keluarganya. Dengan derap langkah tergesa aku memasuki pintu utama. Saat itu acara wisuda yang berlangsung masih sesi pertama, sementara Dimas tergabung di kelompok wisuda sesi kedua. Akupun merogoh tas mungilku, mengambil telepon genggam untuk mengabarinya.

 

“Kamu dimana?” belum sempat pesan BBM terkirim kuurungkan niatku untuk memberi tahunya. Ah mungkin Dimas masih sibuk dengan keluarga dan teman - temannya. Nanti saja jika acara wisuda sudah usai, pikirku. Aku menunggu di area rest room. Mengusir jenuh aku pun secara tak sengaja membuat status BBM bahwa aku sedang berada di tempat yang sama dengannya. Ah bodoh !. Seketika tanpa menunggu lebih lama,

 

“PING!!! “

“Kamu dimana?”

“Di lobi  utama Dim, acaranya masih lama?” akupun balik bertanya.

“Mungkin selesai sekitar jam 4, tunggu ya nanti aku kesana” Balas Dimas cepat.

 

Sambil menunggu acara wisudanya Dimas usai aku pun keluar gedung memilah bunga yang akan kuberikan pada Dimas sebagai ucapan selamat atas gelar sarjana yang telah diraihnya. Sebuket bunga mawar merah cantik sudah berpindah tangan padaku.

 

Tak lama berselang, aku melihat beberapa wisudawan dan wisudawati dengan mengenakan warna samir dan toga yang berbeda-beda sudah keluar dari ruang prosesi wisuda, tapi aku masih belum melihat Dimas. Sambil membawa sebuket mawar aku mencari-cari sosok Dimas memandang dengan jeli ke setiap sudut ruangan.

 

“Kamu pakai toga warna apa? Aku cari-cari kamu kok enggak ada Dim?” sambil menunggu balasan dari Dimas pandanganku masih menyapu ke segala arah. Ponselku kembali bergetar,

“Aku pakai toga warna biru muda. Kamu dimana, pakai baju warna apa? Nanti aku yang kesana. Atau engga kamu tunggu di tempat aku ambil buku angkatan tau kan?”

            “Aku pakai dress hitam Dim, Ya sudah iya.” balasku singkat. 

 

         Aku berjalan ke tempat yang Dimas maksud. Aku melihat kanan kiri beberapa wisudawan  sedang tampak asyik berfoto keluarga, bercengkrama dengan teman-teman dan keluarganya. Sementara aku masih sibuk menunggu Dimas untuk bertemu. Hampir setengah jam aku mematung berdiri menunggu dimas datang dengan perasaan cemas. Sementara pesan BBM-ku tak kunjung ia baca. Sehingga aku memutuskan untuk kembali ke tempat semula aku menunggunya.

 

“PING !!!”

“Kamu dimana, aku ke tempat mengambil buku angkatan kok kamu engga ada?”tanya Dimas.

“Aku nunggu kamu di tempat itu hampir setengah jam tapi kamu juga ga ada jadi aku balik lagi ke rest room” akupun membalas pesan BBM Dimas dengan wajah kecewa sambil menerka-nerka mungkin Dimas sibuk berfoto dengan keluarganya, teman-temannya atau bahkan pacarnya sementara aku hanya teman lama, sosok yang tidak penting bahkan sudah asing buatnya.

 

“Iya maaf ya An…aku tadi nyari Papa sama Mama dimana ini juga masih belum ketemu. Tunggu ya”

Masih dengan segenap perasaan ingin bertemu dan sekedar mengucapkan ‘selamat’ aku masih bersabar untuk menunggu.

“Kamu dimana sih Dim? Ini udah sore loh, mau hujan  aku mau pulang?”

“PING!!!”

“PING!!!”

“PING!!!”

Berkali-kali menatap layar ponsel tapi tak ada pesan masuk bahkan Pesan BBM-ku sebelumnya masih belum Dimas baca.

“Kamu tuh di rest room lantai mana?”

“Lantai dasar Dim, kamu dimana sih? Hp aku udahlow batrenya tinggal 26%.”

 

“Ya ampun…aku di rest room lantai dua. Pantesan aku keliling nyari kamu engga ada, sekarang kamu dimana?”

“Aku di rest room yang deket pintu lurusan tempat parkir, 10 menit kamu engga datang aku pulang.” jawabku dengan nada sedikit kesal karena ibuat menunggunya terlalu lama.

 

Perasaanku semakin tak karuan, Dimas tak kunjung datang. Aku menatap kosong sebuah tong sampah di sudut itu. Menatapnya bergantian dengan sebuket mawar yang kupegang. Rasanya sebuket mawar ini ingin kubuang, namun tiba-tiba terbayang wajah sumringah Dimas hal itu pun kuurungkan.

“PING!!!”

“Aku udah lebih dari 3 kali muter-muter parkiran kamu dimana An?”

“Ya Allah, Dim kan aku bilang aku di rest room deket pintu yang arah lurusan parkiran tapi bukan di parkiran,” aku sudah hampir putus asa mungkin ingin segera pulang saja.

“Aduh maaf An…aku salah baca bbm kamu, soalnya aku pusing nyari Papa sama Mama, ini udah ketemu tapi mereka udah ngajak pulang. Aku udah mau ke parkiran, maaf ya An kamu hati-hati.”

Ada perasaan sesak yang menyelimuti rongga dada membaca BBM darinya. Betapa tidak, semuanya terlihat sia-sia. 2 jam aku menunggunya. Aku berjalan ke luar gedung, tapi entah kenapa yang seharusnya aku berjalan lurus menuju parkiran seperti ada ygang membelokkan langkahku untuk menuju pintu utama. Aku masih memilih bertahan di depan pintu utama ditengah ramainya kerumunan orang-orang, seolah ada yang menahan “Jangan pulang, jangan pulang Dimas pasti datang”.

Aku pun menundukkan pandangan, menatap sebuket mawar merah yang hampir berkali-kali ingin kulepas dari genggaman, dan sekarang pun Dimas sudah pulang untuk apa masih kubawa sudah tak ada lagi yang menginginkannya.  

Dari kejauhan aku melihat sesosok pria yang sedang kebingungan, sesekali menatap layar ponselnya. Sepertinya aku mengenalnya. Ya, itu Dimas. Dimas datang, ia belum pulang. Dimas terlihat lebih dewasa dengan balutan baju toga yang dikenakannya.

“Selamat ya Dim,” aku berdiri tepat dihadapannya dengan memberikan sebuket mawar merah, sementara ia masih sibuk dengan telepon genggamnya. Sibuk menghubungiku yang kini sudah tepat berada dihadapannya.

“Hey ya ampun An…makasih ya,” Dimas tampak mencoba menyembunyikan raut wajahnya yang terkejut kemudian mengambil sebuket mawar itu dengan senyum mengembang. Perasaan marah, kecewa, putus asa hilang seketika melebur menjadi rasa haru dan bangga melihatnya mengenakan toga dan berhasil lulus di waktu yang tepat.

“Sama-sama Dim, selamat ya semoga ilmunya bermanfaat. Ya ampun perjuangan banget mau nemuin kamu Dim, padahal aku udah mau pulang itu bunga juga udah mau aku buang karena udah layu nungguin kamu yang ga datang-datang,” kita berdua tertawa menceritakan kekonyolan masing-masing yang saling mencari lebih dari satu jam.

“Aku ga bisa lama ya mau langsung pulang Dim,”

“Eh bentar foto dulu foto dulu ya An buat kenang-kenangan,” Dimas meminta tolong pada seorang ibu muda yang tepat berdiri disamping kami. Kami tersenyum. Lima tahun tak bersua seolah terobati dengan lima menit foto bersama.

“Makasih ya An sudah menyempatkan diri buat datang. Aku  udah putus asa nyariin kamu An. Lucu, kesel, kecewa, putus asa campur aduk deh. Nanti kita ketemu lagi ya insya allah” Dimas tersenyum, lengannya menggamit lenganku.

Mulanya kita berjalan beriringan, bersisian. Sesaat kemudian aku dan Dimas berjalan berlainan arah. Orangtuanya sudah menunggunya di depan sementara aku masih harus menuju parkiran. Ia menoleh masih dengan senyumnya yang mengembang sambil berujar, “hati-hati”.

Mobilnya melaju perlahan, aku masih berdiri memandang laju mobilnya yang semakin menjauh, “Dim, Ada banyak hal-hal baru yang menunggumu di depan, hari ini baru sekedar permulaan bukan akhir dari segalanya, semoga Tuhan senantiasa mempermudah jalanmu untuk lebih banyak lagi menebar kebaikan dan kebermanfaatan,” ujarku pelan ditengah hari yang sudah petang. Dan akhirnya sebuket mawar itupun kamu bawa pulang.