Tiga Puluh Hari Terbaik

Tiga Puluh Hari Terbaik

Aini Latifah
Karya Aini Latifah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 April 2016
Tiga Puluh Hari Terbaik

Ada sepasang suami istri. Mereka sudah menikah lebih dari 10 tahun. Namun dalam perjalanan pernikahannya pasangan ini cendrung jarang berkomunikasi karena disibukkan dengan urusan masing-masing. Manisnya madu di awal pernikahan sudah jarang sekali mereka rasakan. Sang suami bekerja dari pagi hingga sore hari bahkan tidak jarang hingga malam hari. Sementara sang istri berprofesi sebagai ibu rumah tangga biAsa yang kesehariannya mengurus segala keperluan rumah tangga dan anak-anak. Hingga pada akhirnya sang suami jatuh cinta pada perempuan lain, patner kerjanya. Perempuan yang lebih sering ia temui setiap hari daripada istrinya sendiri.

 

Sang istri tak pernah sedikitpun menaruh curiga pada sang suami. Menganggap bahwa suaminya memang sedang dirundung banyak sekali pekerjaan yang memaksanya mengalihkan perhatian yang seharusnya untuk keluarga justru lebih banyak dihabiskan di tempat kerja.

 

‘Patner Bisnis’ sang suami pun terus mendesak agar menceraikan istrinya dan melegalkan hubungan yang seharusnya tidak pernah ada ini. Akhirnya, sesaat setelah pulang kerja pengakuan mengejutkan sang suami itu meluncur begitu saja tanpa sedikit pun rasa bersalah pada sang istri. Sang istri tetap berusaha tenang mendengarkan, walaupun di hatinya pasti ada luka yang menganga sangat dalam. Hati perempuan mana yang akan baik-baik saja jika mendengar penuturan bahwa suami yang selama ini hidup bertahun-tahun  dalam satu atap dengannya justru ingin membangun biduk rumah tangga baru dengan perempuan lain?

 

Tidak ada penolakan ketika suaminya mengajukan gugatan cerai, sang istri berusaha tegar. namun hanya ada sebuah syarat yang ia ajukan.

 

“Dari mulai besok sampai satu bulan ke depan, setiap pagi gendong aku dari tempat tidur menuju meja makan. Dan gendong aku kembali dari meja makan menuju teras depan. Serta bawakan aku bunga setiap hari. Selepas hari ke 30 itu kau berhak  menjatuhkan talak padaku dan saat kau sudah menjatuhkan talak padaku maka aku sudah tidak lagi menjadi istrimu.”

 

“Hanya itu? Syarat yang sangat mudah. Baiklah akan saya lakukan” ujar sang suami.

 

Hari pertama ketika mencoba melakukan syarat dari sang istri, keduanya nampak canggung sekali seperti bukan pasangan suami istri. Karena kebersamaan seperti ini memang sudah sangat jarang sekali terjadi bahkan cendrung tidak pernah sama sekali dalam kurun waktu beberapa tahun ini.

 

Kedua buah hatinya pun terheran-heran dengan tingkah laku kedua orangtuanya. Sebab sesuai kesepakatan kedua buah hatinya tidak boleh mengetahui sebab syarat tersebut diajukan, khawatir akan membuat anak-anaknya bersedih. Yang terujar dari mereka hanyalah, “Papa dan Mama begitu romantis” ujar si bungsu dengan senyum yang sangat manis. Raut kebahagiaan tanpak jelas sekali. Hal itu terus dilakukan setiap hari, sang suami tidak pernah ingkar janji. Setiap pulang kerja ia pun tidak pernah lupa membawakan sebuket bunga cantik berwarna warni. Jika mulanya syarat yang diajukan sang istri seolah menjadi beban namun dari hari ke hari hal itu pun seolah menjadi ringan untuk dilakukan.

 

29 hari sudah terlewati dan dijalani dengan baik, namun seolah ada rasa berat hati yang terus membuat dada sang suami tampak sesak. Membuat kantuk sulit sekali untuk menyergap. Bukannya seharusnya ia merasa bahagia? Setelah besok ia tidak perlu lagi repot-repot menggendong sang istri dari tempat tidur hingga meja makan dan menggendongnya kembali menuju teras depan? Sepulang kerja pun tidak perlu mampir terlebih dahulu ke toko bunga yang selama ini hanya membuang-buang uangnya saja?

 

Hari ke 30. Maka sesuai perjanjian “Selepas hari itu, kau berhak menjatuhkan talak padaku maka hari itu aku sudah tidak lagi menjadi istrimu”.  Pagi itu dijalani seperti biasa sang suami menggedong sang istri dari tempat tidur menuju meja makan untuk sarapan. Namun langkah suami terlihat lebih pelan. Sang istri hanya sesekali memandang suaminya kemudian tersenyum. Hari itu sang istri tampak bahagia, tidak ada raut wajah sedih sekalipun ia tahu ini adalah hari terakhir ia digendong oleh suaminya. Sang istri tampak sudah ikhlas kalaupun pada akhirnya Tuhan hanya menakdirkan bahwa jodoh mereka hanya sampai hari ini.

 

Dikantor, sang suami dilanda kebingungan. Betapa ia baru tersadar selama ini ia telah dianugrahi sosok istri yang begitu baik. Syarat yang istrinya berikan membuat ia jatuh cinta kembali untuk yang kedua kali. Ia merasa bersalah bukankah mencintai pasangan itu harusnya setiap hari? Mungkin hanya masalah komunikasi yang membuatnya merasa bosan dan jatuh cinta lagi pada perempuan lain. 

 

Saat itu juga ia langsung menemui 'partner bisnis'nya itu. Tanpa diduga pertemuan mereka yang semula dijadwalkan untuk membicarakan masalah penikahan dan membantu mengurus proses perceraian justru malah terjadi hal yang tak diinginkan si 'patner bisnis'. Sang suami mengemukakan semua alasannya dengan baik. Tentang perjanjian 30 hari itu, meski mulanya tidak bisa menerima keputusan sepihak, namun sang suami memang sudah bersikeras untuk kembali pada sang istri dan memutuskan hubungan terlarang ini. 

 

Sepulang kerja, sang suami memesan buket bunga yang sangat cantik bahkan lebih cantik dari 29 buket bunga sebelumnya. perpaduan mawar pink dan krem warna favorit istrinya. Dengan disertai sebuah tulisan pada kartu ucapan,

 

"Aku akan menggendongmu dan membawakan sebuket bunga untukmu  tidak hanya berakhir sampai hari ini, tapi akan aku lakukan setiap hari sampai maut memisahkan kita nanti"

 

Sang suami membawa sebuket mawar cantik itu dengan perasaan sangat senang. Tak sabar rasanya ia ingin menyampaikan berita bahagia ini pada istrinya. Namun ketika mobilnya mulai melaju pelan di sudut gang. Ia melihat banyak kerumunan orang-orang di depan rumahnya.


Masih dengan beragam tanya dibenaknya, saat ia membuka pintu mobilnya, Anak bungsunya berlari dari balik pintu rumahnya. Memeluknya erat sambil terisak, mencoba berbicara dengan nada terbata-bata.

"Papa....Mama meninggal," sang suami pun hanya diam, Berita bahagia itu urung ia rayakan. Yang tersisa hanya tinggal penyesalan.

 

Ternyata tepat ketika sang suami mengungkapkan pengakuan mengejutkan, sang istri begitu ingin sekali mengadukan hal yang membuat dirinya pun seolah tak mampu memikul beban itu sendirian. ia butuh sandaran, butuh dukungan dan tentunya butuh teman, Namun apa yang sang istri dapatkan? sebuah pengkhianatan. 


Mengapa ia mengajukan syarat yang demikian, sebab dokter mengatakan kanker rahim yang dideritanya sudah sangat parah bahkan kemungkinan ia dapat bertahanpun tidak akan mencapai satu bulan. Selama 1 bulan itu sang istri hanya ingin merasakan manisnya madu di awal pernikahan. Sekaligus ingin menunjukkan bahwa sang suami adalah ayah terbaik untuk anak-anaknya yang begitu perhatian pada keluarga. Sehingga, kalaupun pada akhirnya ia harus benar-benar pergi tidak akan ada kebencian. Sang istri justru menyimpan rapih pengkhianatan yang dilakukan suaminya bahkan tanpa pernah diketahui oleh kedua buah hatinya. "Terimakasih, untuk 30 hari terbaik yang pernah ada," begitu ucapnya lirih  dalam hati meski tidak pernah sempat terucapkan.


Akhirnya buket bunga itu diletakkan tepat di atas pusara sang istri masih disertai dengan sebuah kartu ucapkan bertuliskan, "Aku akan menggendongmu dan membawakan sebuket bunga untukmu  tidak hanya berakhir sampai hari ini, tapi akan aku lakukan setiap hari sampai maut memisahkan kita nanti"

 

"Sayangnya, jodoh kita memang hanya berakhir sampai hari ini."

 

 

*Cerita ini saya baca dari group WA, tidak bermaksud menyadur atau memplagiat karya penulis aslinya. Karena pada saat saya membaca  pun tidak ada keterangan penulis aslinya. Hanya saja saya melihat cerita ini begitu inspiratif dan saya coba menuliskannya kembali dari yang semula hanya dialog biasa menjadi satu cerita utuh yang mudah dibaca. semoga bermanfaat.