Hiduplah Seperti Tukang Parkir

Aini Latifah
Karya Aini Latifah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 April 2016
Hiduplah Seperti Tukang Parkir

? Pa... lusa kan Gia ulang tahun, Gia mau kado smartphone baru boleh ya Pa?? pinta Gia memohon di sela-sela makan malam.

?

?Ah kamu yang kemarin kan masih bagus, masih baru juga. Kenapa harus beli lagi?? Papa sedikit tidak setuju.

?

?Ayolah Pa, Papa baik deh. Temen-temen yang lain juga handphone-nya pada ganti, masa Papa tega ngebiarin anak kesayangannya bengong gitu ngeliatin temen-temennya pake android?? rengek Gia sekali lagi.

?

?Hem iya iya tapi Papa enggak janji ya dan dengan syarat kamu harus belajar lebih giat lagi,? ujar Pak Arya sambil mengucak rambutnya, Gia tampak sumringah.? Gia adalah putri? tunggal Pak Arya dan Ibu Dewi yang merupakan keluarga berada sehingga tak aneh jika apa yang Gia minta hampir semua dikabulkan oleh kedua orangtuanya.

***

Meski tak ada kue tart yang berhiaskan angka hari jadinya pagi itu, tanpa ia sadari saat ia baru saja terbangun dari tidurnya, sebuah kado mungil? terlihat di atas meja belajarnya. Gia senang bukan kepalang karena keinginannya untuk mempunyai smartphone terbaru akhirnya dikabulkan oleh papanya. Tak lupa, sebagai ucapan terimakasih sebelum berangkat sekolah terlebih dahulu Gia menghampiri kedua orangtuanya, mencium dan memeluknya dan dibalas dengan doa sederhana dari orangtua di hari ulang tahun putri kesayangannya.

?

? ????????? Hari ini terpaksa Gia harus berangkat sekolah dengan kendaraan umum karena supir pribadinya mendadak sakit. Sudah hampir setengah jam Gia mematung di ujung jalan rumahnya, sementara hari ini adalah hari Senin. Seperti biasa di sekolah diadakan upacara bendera, namun sudah hampir jam tujuh tepat tak ada satupun angkutan umum yang lewat, batinnya menggerutu kesal. Sudah pasti hari ini ia akan menjadi pemulung dadakan membersihkan sampah yang berserakan di? lapangan upacara.

?

??????? ?Ini angkot pada kemana sih? Masa iya aku harus jalan kaki ke sekolah, nyampenya kapan?? gerutunya sambil membeliak melihat arloji yang melingkar di lengannya.? Akhirnya dengan sorot mata berbinar? ia? melihat sebuah mobil bercat biru muda itu melaju ke arahnya.

?

???????? Suasana di dalam angkot sangat sesak dan pengap, Gia duduk memojok dekat dengan kaca jendela mobil.? Sementara kebanyakan penumpangnya adalah pria. Hanya ada seorang ibu muda yang menggendong anak perempuannya yang masih bayi. Di tengah perjalanan, ponsel baru ?Gia berdering, pertanda ada satu pesan masuk, sejurus kemudian ia merogoh tasnya. Kemudian dibacanya pesan tersebut,

?

Wina

12/03/2013 07.10

?Gi, kamu dimana? Upacaranya udah mulai nih...

*End*

?

????????? Dengan cepat ?Gia membalasnya. Tapi Gia ceroboh meletakkan ponselnya di atas tasnya, dan ia lupa tidak memasukkannya kembali. Tiba-tiba salah satu dari penumpang pria berambut cepak itu menunjukkan wajah seperti kesakitan memegangi telapak kakinya.

?

????????? ?Aduh, duh keram...? ujarnya mengerang kesakitan.

?

????????? ?Kenapa mas? Coba diluruskan kakinya, biar lebih relaks,? saran si ibu muda. Lelaki itu memegangi lutut Gia begitu erat sambil menjerit kesakitan.

?

????????? ?Seisi angkot panik karena khawatir akan terjadi apa-apa pada pria tersebut. Kebetulan, pria itu duduk tepat saling berhadapan dengan Gia. Seorang bapak tua berkumis tipis di sebelahnya menyuruh Gia membuka kaca jendela mobil karena suasana yang sangat pengap. Gia pun membalikkan badan membuka kaca jendela. Seperti terkena hipnotis Gia langsung menurut saja tanpa menghiraukan apapun yang ada di sekelilingnya. Sekolah Gia pun hampir saja terlewat karena kepanikan yang terjadi di dalam angkot.

????????? ?Bang, Bang kiri...,? Gia turun dari angkot seperti tak terjadi apa-apa.

?

????????? ??Di sekolah, Gia melaui harinya seperti biasa. Walau hari ini Gia harus mendapat hukuman lari tiga keliling lapangan upacara sambil memunguti sampah-sampah yang berserakan. Saat istirahat tiba, Gia dan teman-teman lainnya makan siang bersama di kantin sekolah. Sambil menunggu pesanan makanan yang belum datang keempatnya tampak larut dalam canda tawa menertawakan kesialan Gia lari mengelilingi lapangan upacara di hari ulang tahunnya .

?

?? ???????? ??Ciee yang hari ini ulang tahun dapet kado spesial apa nih?? tanya Wina.

? ????????? ???Hem walaupun hari ini hari sial banget...tapi lumayan menyenangkan juga dikasih smartphone baru dari Papa.hehe?

??????????? ? ?Waaaah asik, mana mana aku liat dong?? Oki terlihat sangat penasaran.

? ?Yah kayaknya ada di tas deh Ki...nanti aja di kelas ya? Sekarang kita makan dulu aja, aku yang traktir deh hehe? Oki, Wina, dan Fadhila pun memesan makanan yang mereka suka.

?

?????????? Setibanya di kelas Gia panik bukan main karena ponsel barunya yang ia pikir berada dalam tasnya ternyata tidak ada. Ia mengeluarkan seluruh isi tasnya. Namun tak ia temukan juga, Gia mengingat-ngingat kapan terakhir kali ia menggunakan ponsel barunya.

?????? ???

?Ia terdiam sejenak, ?Oh iya, tadi pagi aku? tuh bales smsnya Wina waktu aku lagi di angkot. ?Terus ada orang yang kakinya keram gitu, aku disuruh bapak-bapak tua disampingku buat buka kaca jendela.?

????????

Oki pun menimpali, ?Wah, Gi kamu kayaknya kena hipnotis deh. Akhir-akhir ini lagi marak terjadi, kemaren aja Ibu Sari tetangga aku dihipnotis di angkot. Dompetnya yang hilang.?

????????

?Ya ampun jadi smartphone aku dicuri gitu?? Gia langsung terkulai lemas karena ponsel tersebut adalah ponsel keluaran terbaru yang merupakan kado ulang tahun dari papanya pagi tadi.

***

??????

?? Di dalam angkot? saat perjalanan akan pulang, ?Gia tak henti-hentinya menangis. Beruntungnya, ?keadaan dalam angkot masih sepi karena mobil angkot belum melaju, masih menunggu penumpang lain. Hanya ada Gia dan Mang Ucup, sopir angkot yang sudah menjadi langganan Gia apabila ia naik kendaraan umum. Kali ini, Gia memilih untuk duduk di samping sopir.

?????? ????

? ?Lho Gi, kenapa kok nangis? Diputusin pacarnya ya hayoooo?? tebak Mang Ucup usil. Gia menyeka air matanya yang sedari tadi mengalir deras membasahi tebing pipiya.

?

?Dengan suara berat Gia menjelaskan mengapa ia menangis, ?Handphone Gia hilang Mang, Gia takut pulang ke rumah. Gia takut dimarahin Mama, pasti Mama bilang kalo Gia ceroboh, padahal musibah kan siapa yang tahu? udah gitu handphone itu baru dikasih Papa pagi tadi? Ah..sebel kenapa pake hilang segala sih hp-nya? Gia masih merasa tidak ikhlas atas musibah yang menimpanya hari ini.

????????

??Oh..begitu toh. Hemmm yang sabar ya Gia jangan cemberut gitu dong nanti coba jelaskan dengan baik sama Mamanya, pelan-pelan. Ok?? Gia tak menjawab hanya menatap kosong ke arah jalan.

?

??Gi, kamu lihat tukang parkir itu?? Mang ucup menunjuk tukang parkir yang sedang mengatur mobil-mobil yang berlalu lalang di sebuah bank swasta.? Gia mengangguk pelan.

?

????????? ?Lihat, di setiap harinya ia menjaga mobil-mobil itu. Dari mulai mobil biasa hingga yang harganya ratusan juta rupiah, dijaganya dengan baik-baik karena ia merasa diberikan amanah oleh pemiliknya. Apa dia merasa sedih jika mobil yang ia jaga dengan baik-baik itu kembali diambil oleh pemiliknya?

?

?????????? ?Kayaknya enggak? jawab Gia singkat.

?

???????? ????Nah oleh karena itu, ambillah pelajaran darinya.? Hiduplah seperti tukang parkir. Ia tak pernah merasa sedih walaupun mobil-mobil mewah yang ia jaga itu diambil kembali oleh pemiliknya. Karena ia tak punya rasa ingin memiliki dan ia menyadari bahwa ia hanya sebatas dititipi. Begitupun kehidupan kita sebagai manusia, apa yang Dia beri suatu saat pasti akan diminta kembali. Syukuri atas apa yang sudah Dia beri dan ikhlaskanlah jika apa yang pernah Dia beri itu pergi. Apa yang kita miliki itu, sejatinya hanya sebatas titipan bukan untuk kita miliki, dan satu lagi hakikat kehilangan yang sebenarnya itu bukan hilang, tapi akan Allah ganti dengan yang lebih baik? ujarnya seraya tersenyum. Sorot mata yang tadi meredup, kini kembali berbinar mendengar petuah bijak dari Mang Ucup.

?

??????????? Gia terkagum-kagum memandang Mang Ucup, seorang sopir angkot saja bisa memaknai hidup dengan bijak kenapa ia sebagai seorang pelajar tidak? Tak lama kemudian mobil angkot pun melaju beriringan bersama hati Gia yang terlihat sedikit lebih tenang.

***

?? ???????? Di ruang tamu selepas salat magrib...

?Papa, Mama...? Gia menghampiri kedua orangtuanya dengan perasaan yang tidak karuan.

?Pasti lagi ada maunya lagi nih Pa...?tebak Mama sok tahu.

?Bukan kok Ma...Gia mau minta maaf sama Papa dan Mama,?

?Kok minta maaf, emang kamu punya salah apa sayang?? tanya Mama.

?Hemm...hemm... ponsel baru yang pagi tadi Papa kasih buat Gia hilang di angkot? Mama tampak kaget tapi Papa bersikap biasa saja.

?

?Kok bisa hilang gitu gimana ceritanya? Mama pun mengintrogasi Gia sudah seperti Polisi, sehingga Gia pun menceritakan kronologi kejadian sedetail mungkin pada Mama.

?Ya sudah diikhlasin aja kalau pun mau dicari mau nyari kemana? lagian handphone yang lama juga masih bisa dipake kan??

?

?Iya sih Pa, yang lama juga masih bagus kok belum rusak. Jadi Mama sama Papa ga marah sama Gia? alhamdulillah. Padahal Gia udah deg-degan banget takut Mama sama Papa marah,? senyum pun berderai di wajahnya. Sementara Mama dan Papa pun ikut tersenyum melihatnya.

?

?Oh iya Ma, hari ini Gia? dapet banyak pelajaran berharga dari Mang Ucup supir angkot langganan Gia. Gia diceramahin panjang lebar deh Ma, Pa.? Gia begitu atusias menceritakannya.

?Pelajaran apa??

?Hiduplah seperti tukang parkir,?

?Maksudnya?? tanya Mama serius.? Gia pun menceritakan kembali tentang pelajaran yang ia dapat hari ini pada sang mama. Mama dan Papanya dibuat terdiam mendengar penuturannya.

? Intinya, syukuri apa yang Tuhan beri dan ikhlaskanlah jika apa yang Tuhan beri itu diambil kembali karena hakikatnya dunia ini adalah pinjaman yang nantinya harus dipertanggungjawabkan, dan Gia yakin yang hilang itu kalau enggak ditemukan kembali akan diganti dengan yang jauh lebih baik lagi, dan setiap kejadian itu ada hikmahnya tersendiri,? ujar Gia dengan senyum yang mengembang.

?

Pak Arya dan Ibu Dewi menatap Gia dengan tatapan bangga, bahwa kini Gia bukan lagi anak kecil yang manja, tetapi Gia adalah gadis manis yang belajar memandang hidup dengan positif dan sedang berproses menjadi dewasa.

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

  • view 230