Tak Ada Doa Yang Sia-Sia

Aini Latifah
Karya Aini Latifah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 April 2016
Tak Ada Doa Yang Sia-Sia

Angin bertiup kencang, daun-daun pohon mangga terbang terlepas dari rantingnya terhempas ke tanah. Mungkin sebentar lagi hujan akan berhamburan membasahi sudut kota, jalanan, halaman, pepohonan, dan rerumputan. Beberapa lampu beranda rumah warga mulai dimatikan. Wira merapatkan jaketnya mencoba menghalau dingin, lalu memilih duduk di beranda rumahnya ditemani segelas cappuccino yang asapnya masih mengepul-ngepul di udara. Wira terpekur sendirian, pandangannya kosong menatap langit malam tanpa dihiasi ribuan formasi bintang seperti hatinya yang kini sedang gamang.

Ditempat lain, Alia seorang mahasiswa semester akhir ini masih berkutat di depan laptop kesayangannya yang dengan sengaja membiarkan jendela tua kamarnya terbuka. Suara kemerisik angin yang menamparnya lembut membuat malamnya semakin syahdu. Jemarinya seolah lincah menari-nari diatas tuts tuts keyboard. Kali ini, Alia tidak sedang menyelesaikan skripsinya namun ia sedang menyelesaikan sebuah artikel tentang ayah yang akan ia share di media kompasiana miliknya.

Alia memang senang menulis sejak duduk di bangku sekolah dasar, namun minatnya ini kerap kali timbul dan tenggelam. terlebih hobbinya ini bermula karena Alia memang senang membaca karya orang lain.

Alia meng-upload artikelnya di media kompasiana dengan harapan akan ada banyak orang yang membaca dan mengambil pelajaran dari artikel yang ditulisnya. Hanya dalam hitungan menit sebuah komentar muncul di tautan yang ia share melalui akun facebook, ?Terus berikan yang terbaik untuk Ayah, agar beliau dapat tersenyum bangga smelihat anak bungsunya?. Alia terlihat aneh membacanya. Bagaimana tidak yang memberi komentar adalah asisten dosen lab, pria keturunan chiness bernama Wira Gunawan yang dalam kesehariannya seringkali memandang Alia dengan tatapan sinis.

Dengan cepat Alia membalas komentar Wira, sekedar ucapan terima kasih karena telah berkesan membaca tulisannya. Bagi Alia bertegur sapa si dunia maya dengan Wira adalah barang langka.

Namun dari hari ke hari komentar di tautan tersebut pun berlanjut, dari mulai komentar Wira mengenai tulisan Alia, bertanya kabar satu sama lain, skripsi, hingga sampai membahas persoalan yang tidak penting sekalipun.

***

Selang beberapa hari setelah komentar facebook keduanya berpapasan secara tidak sengaja di lobi kampus. Sorot mata keduanya bertemu.

?Hei Kak Wira, kemana aja kok gak pernah keliatan di kampus?? sesaat langkah Wira terhenti kedua lengannya sibuk mebawa beberapa berkas dan tas.

?Biasa jadwal padat Alia hehe? Wira memang tipikal orang yang tak pernah banyak bicara.

?Oh iya semester ini masih jadi asdos gak Kak?? tanya Alia sambil memilin-milin ujung jilbanya.

??Alia, maaf ngobrolnya lain kali ya saya lagi buru-buru? Wira melempar senyum? yang kemudian dibalas cepat oleh Alia dengan anggukan kepala. Ada beragam tanya dibenak Alia melihat tingkah Wira yang terlihat aneh, dahi Alia berkerut dengan sorot mata yang kebingungan. Wira adalah kakak tingkat Alia yang sekaligus merangkap sebagai asisten dosen. Sudah 4 semester ini Alia di bimbing oleh Wira apabila praktikum membuat program. Di kampus, Wira memang lebih sering terlihat di lab sebagai asisten dosen ketimbang sebagai mahasiswa pada umumnya. Jadi, tak heran jika ia bersikap dingin seperti barusan.

***

Serasa baru kemarin Alia gagal mengikuti tes SNMPTN, namun sekarang ia sudah sampai di titik akhir masa-masa kuliahnya. Ya sekalipun ia pada mulanya merasa enggan untuk kuliah di jurusan Tekhnik informatika, namun lambat laun ia mulai terbiasa menjalaninya. Alia juga masih sesekali menulis apabila ada waktu luang. Ia selalu ingat ucapan sahabatnya, bahwa untuk menjadi seorang penulis itu tidak harus berlatar belakang pendidikan sastra indonesia. Hanya bermodal yakin ia mencoba menyeimbangkan antara kuliah dan tetap menulis, hal yang sangat disukainya sejak duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar.

Sementara di tempat yang berbeda lagi-lagi Wira tampak larut dalam lamunannya. Ada hal serius yang sedang dipikirkannya.Wira memang telah terbebas dari bayang-bayang sidang skripsinya karena Wira sudah diwisuda sejak 5 bulan yang lalu dengan hasil yang sangat memuaskan sebagai lulusan terbaik dengan nilai IPK yang hampir sempurna. Namun, masalah baru muncul ia merasa dilema memikirkan langkah apa yang harus ia ambil setelah lulus kuliah, meneruskan? ke jenjang S2 atau membantu perekonomian keluarga dengan bekerja. Hingga Wira mengalami dilema yang cukup akut.

***

Tanpa sengaja setelah dua minggu berlalu keduanya bertemu kembali di sebuah lesehan sunda dekat kampus karena sudah jamnya makan siang. Namun kali ini ada yang berbeda, semenjak saling berkomentar di facebook Alia dan Wira terlihat lebih akrab dari biasanya keduanya pun memutuskan untuk makan di meja yang sama dan terlibat dalam obrolan panjang dari hujan gerimis, hujan deras sampai hujan reda mereka masih larut dalam cerita dan gelak tawa.

?Alia maaf ya waktu itu saya buru-buru soalnya waktu itu saya mau tes instruktur tapi akhirnya saya gagal juga, terus kalo ga salah kamu nanya tapi belum saya jawab ya, saya sudah gak jadi asdos lagi kontrak saya sudah habis. hehe...? Wira menyeruput jus mangga dihadapannya sementara Alia terlihat langsung tersedak.

?Lho gimana ceritanya Kak, kok bisa gagal sih terus kenapa gak diperpanjang jadi asdosnya Kak?? raut wajah ?penasaran Alia tak bisa disembunyikan.

?Masa kerja saya udah habis, jadi pasti asistennya bukan saya. Siapapun yang ngajar sama aja, yang penting patokan semangat belajarnya di diri sendiri bukan di yang ngajarnya ya hehe?

?Idih Kak Wira geer banget deh hehe? Alia tertawa sambil menutup mulutnya dengan kedua lengannya,

? Oh iya artikel kamu yang judulnya ?Tentang Ayah? bagus. Kamu suka nulis ternyata sejak kapan?? tak lama makanan yang dipesan keduanya sudah datang.

??Makasih Mbak,? ujar keduanya serentak.

??Dari kelas 6 SD Kak tapi sempat pasang surut, lagian itu sih sebenernya cuma iseng aja eh malah jadi keterusan? jawab Alia tersenyum.

?Good... good..., terus berkarya sesuai minat dan keinginanmu terlepas dari apapun studi yang ditempuh, kamu harus yakin pasti bisa tapi jangan lupa juga kerjain tugas akhinya ya hehe? tutur Wira bijak. Alia mengacungkan jempolnya seraya tersenyum kemudian kembali melanjutkan makan siangnya.

?Tenang Kak gak usah galau gitu. Gagal jadi instruktur tapi masih ada lowongan kok buat bantu skripsi aku hehe,? canda Alia.

?Wooo maunya, galau sih enggak cuma masih kecewa aja padahal saya sangat berharap disitu, tapi saya harus menerimanya dengan lapang dada, pasti masih ada rencana yang lebih baik buat saya? ujar wira sambil memainkan sebuah sedotan yang berada didalam gelas jus mangganya.

??Dulu, waktu aku dinyatakan gagal di universitas negeri aku sempet marah sama Tuhan, menganggapnya tidak adil. Aku yang mati-matian berjuang harus pulang sore tiap hari bahkan malam hari tak kunjung diterima di PTN? tapi temen-temenku yang terkesan biasa justru lebih mudah masuk di universitas yang mereka mau?

?Tapi...tau gak Kak orang yang sedang berdoa itu ibarat seorang pengamen lho, konteksnya sama sama meminta diiringi usaha, tapi gak semua pengamen mendapatkan imbalan yang serupa?

?Maksudnya?? Wira tampak bingung dengan penuturan Alia barusan. Dan entah kebetulan atau apa siang itu tak jauh dari meja Alia dan Wira ada tiga orang pengamen yang berada di lesehan sunda tersebut sehingga dengan mudah Alia menganalogikan serta menjelaskan apa yang tadi diutarakannya.

?Lihat deh pengamen itu coba Kakak perhatiin baik-baik? Alia menunjuk dua orang pengamen remaja di depan orang yang sedang makan siang. Wira memperhatikan pengamen itu dengan seksama sementara Alia kembali melanjutkan pembicaraannya.

?Karena mereka asal-asalan nyanyinya terus ga jelas intonasi nadanya, tanpa lebih dulu menunggu lagu yang dinyanyikannya selesai buru-buru sepasang kekasih itu memberinya uang sekadarnya saja supaya mereka cepat pergi sebelum gendang telinga mereka pecah. Lain halnya dengan pengamen bersuara merdu dan menyanyi dengan santai yang berada di meja sana tuh Kak.? Alia menunjuk seorang pengamen bertubuh tinggi dengan gitar coklat yang dibawanya.

?Tuh Kak liat deh mbak-mbak itu tampak menikmati alunan musik dan indahnya syair lagu yang dibawakannya. Merdu, syahdu...bahkan ketika lagu yang dibawakan pengamen itu selesai Mbak tersebut seperti ingin mendengarnya lagi dan lagi.?

?Terus hubungannya apa??ujar Wira kembali bertanya.

?Sama halnya dengan orang berdoa Kak, kalo orang yang berdoa itu tergesa-gesa, gak sabar nunggunya tapi dengan usaha yang biasa-biasa aja kemudian ingin doanya segera dikabulkan, dengan cepat Tuhan akan mengabulkan doanya namun dengan hasil yang biasa-biasa pula. Seperti pengamen dengan suara asal-asalan tadi yang mendapat imbalan sekadarnya saja. Lain halnya dengan orang yang senantiasa berdoa disertai usaha dan kesabaran dalam menunggu doanya. Sekalipun Tuhan begitu lama mengabulkan doanya itu bukan berarti Tuhan menolak atau bahkan tidak mendengar doa kita, hanya saja Tuhan sedang mengabulkan doa doa kita yang lainnya. Dan satu lagi itu artinya Tuhan senang mendengar rintihan doa kita Kak, lalu kesabaran kita akan diganti dengan imbalan di atas rata-rata juga. Sama halnya seperti pengamen kedua tadi sekalipun Mbak-Mbaknya lama memberikannya uang tapi ia menikmati prosesnya dalam artian menyanyi ia diberi uang yang lebih besar ketimbang dengan pengamen pertama?

?Waaaah iya iya pinter juga kamu ya hehe? Wira baru sadar atas apa yang dituturkan oleh Alia.

?Dari dulu kali ka hehe?

?Perasaan enggak deh, pis...hehe? Wira menyunggingkan senyum khasnya meledek Alia.

?Hush jangan suka pake perasaan, jargon favoritnya Kak Wira kalo program aku error di lab sambil ngeloyor pergi hahaha? dengan cepat Alia meledek Wira.

?Hahaha habis kamu terlalu berperasaan sih buat meriksa errornya. Ditinggalin tuh supaya kamu usaha nyari dulu, kalau 'disuapin' melulu gak akan bisa hehe.?

?Waktu saya gak lolos jadi instruktur, sekitar satu bulan lebih saya terus bertanya pada Tuhan, kenapa saya ga lolos, padahal tujuan saya adalah untuk memuliakan-Nya.? Alia tampak serius sekali mendengarkan cerita Wira.

?Saya meminta pendapat dari teman-teman, guru-guru? juga pendeta.
Kalau? mereka jadi saya, apa yang mereka pilih. Kuliah tapi membebani keluarga untuk masalah biaya atau bekerja tapi meninggalkan hasrat dan semengat untuk terus belajar. Jawaban beragam mereka berikan pada saya, tapi bodohnya saya lupa ajukan pertanyaan itu pada Tuhan lewat doa. Saya bertanya pada-Nya lewat doa, Tuhan boleh gak saya lihat setitik saja rancangan yang Engkau mau lewat hidupku. Pada akhirnya Tuhan menyampaikan jawaban-Nya pada saya melalui saat teduh? doa, pembacaan & perenungan Alkitab, jawaban yang saya dapat? ?Wira... apapun yang kamu pilih, pilihan itu ditujukan untuk memuliakan Tuhan di atas segalanya, jangan membebani orang lain (kamu harus kerja) dan? tidak boleh mengubur impianmu sendiri (kamu harus kuliah) serta lakukan semua itu dengan penuh tanggung jawab?

Ada decak kagum yang menyelinap dihati Alia mendengar penuturan Wira, begitu luar biasanya sebuah doa. Hari itu Alia dan Wira sama sama sharing tentang doa dan mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Bahwa doa itu adalah senjata yang paling ampuh dalam setiap urusan apapun.

Sampai pada akhirnya tibalah waktu di mana Alia menjalani sidang tugas akhir, hari itu tanpa ia kira sebelumnya ia mendapat kabar bahwa buku kumpulan cerpennya terbit. Hal itu sekaligus membuktikan keajaiban doanya, dulu ia bersikukuh untuk kuliah di jurusan sastra tapi hari itu Tuhan membuktikan bahwa manajemen informatika tidak sedikitpun menghambatnya untuk terus aktif menggeluti dunia sastra. Berita yang tak kalah membuat Alia gembira adalah Wira sudah bekerja di sebuah perusahaan tanpa mengubur impiannya untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, akhirnya ia bisa menyeimbangkan waktunya antara kerja dan kuliah.

Dua bulan setelah sharing tentang doa itu mereka memutuskan untuk kembali bertemu karena ingin berbagi kebahagian masih di tempat yang sama di sebuah lesehan yang kental dengan nuansa pedesaan.

?Cieeee yang udah kerja traktir dong hehe.? Goda Alia menyambut kedatangan Wira.

?Ciee cieee yang buku kumpulan cerpennya udah terbit traktir juga doong hahaha? balas Wira usil.

?Hahaha yaudah kalo gitu bayar sendiri sendiri aja deh sama aja kan??

Rona bahagia terpancar dari wajah keduanya, dengan tatapan menerawang kosong ke arah air mancur kolam ikan yang berada disampingnya Alia berujar dalam hati,

?Hemm sekalipun kita mempunyai keyakinan yang berbeda, tapi kita mempunyai pemahaman yang serupa tentang doa. Ya, bahwa tak ada doa yang sia-sia sekalipun Tuhan begitu lama menjawabNya,? lengkung pelangi terbalik menyeringai di wajah Alia dan Wira.

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

  • view 234

  • Aini Latifah
    Aini Latifah
    1 tahun yang lalu.
    hanya ada analogi sederhana mas dinan...hehe kalo ada masukan boleh. salam ya utuk Wira

    • Lihat 4 Respon

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Mm... Berdoa seperti ngamen y??? Boleh juga...
    Ceritanya mengalir... Rajin berkarya ya, pesan Wira