Hening

Ainhy Edelweiss
Karya Ainhy Edelweiss Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 September 2016
Hening

Di ruangan ini, aku menumpahkan segala rasa yang kupendam dalam diriku. Kamar berukuran 3x4 hanya kuhiasi seadanya. Tak perlu repot-repot mendekorasi kamar ini, asal aku merasa nyaman. Toh aku juga akan meninggalkannya tahun depan. Itu baru rencana. Aku hanya mengontrak tempat ini. Tak banyak yang bisa kuceritakan. Hanya ada aku, kamar ini, dan suara bising di luar sana.

Sepertinya sudah lama aku menutup diri. Membatasi diriku untuk bergaul dengan orang baru. Yang kukenal hanya beberapa penghuni rumah ini. Ada Ida, Ulfa, dan Ita. Masih ada empat orang lain sebenarnya, tapi aku urung menyebutkannya. Sebab, mereka itu penghuni baru di sini dan aku belum mengenal siapa mereka.

Apa yang bisa kuceritakan? Seketika aku merasa hening. Beberapa dari mereka pulang kampung. Dan aku? yah seperti tahun-tahun sebelumya, aku urungkan niat untuk pulang kampung. Buat apa? tak ada gunanya.

Dalam keheningan, aku hanya bisa terperangkap pada potongan-potongan masa lalu. Terbayang wajah manis ibu dan ayahku. Adikku sepertinya tidak cengeng lagi seperti tiga tahun yang lalu.Sekarang, dia sudah remaja. Sebentar lagi dia akan memasuki fase dewasa. Yang menurutku fase ini sangat rumit. Ada banyak komplikasi di dalamnya. Tak perlu kuceritakan itu apa. Aku lagi nggak mood membahasnya. Aku hanya bisa memerhatikan adikku dari jauh. Dunia maya. Dan sepertinya dia baik-baik saja.

Terbayang pula wajah almarhum nenekku, seperti apa dia di alam sana? aku harap dia baik-baik saja. Semoga doa-doa yang kukirimkan sampai padaNya.

Ada satu hal yang aku benci dari keheningan. Ia mengundang air mataku turut menciptakan keheningan lain. Kau tahu saat seperti inilah aku merasa cengeng. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan untuk mengusir keheningan adalah menulis. Yah menulis. Saat ini pun aku sedang dalam keheningan. Dan aku sedang menulis.

Aku tak tahu arah tulisanku ini kemana, aku hanya ingin menulis. Mengusir keheningan itu dengan suara ketikan di laptopku. Juga kilau layar di depan mataku. Kau tahu, saat menulis, aku seolah-olah mendapat teman yang bisa diajak berbicara. Seperti bayangan? entahlah. Aku hanya merasa seperti itu.

Hari ini kuhabiskan waktu untuk membaca satu buku. Buku itu ditulis oleh penulis yang berasal dari daerahku. Aku sebenarnya sangat bangga jika melihat penulisnya dari daerahku. Mungkin aku sedikit fanatik daerah. Tapi tidak menutup diriku untuk mengagumi penulis dari luar. Seperti Andrea Hirata.

Siapa yang nggak kenal penulis ini. Mendengar nama penulis laskar pelangi, ada kesan tersendiri buatku. Lagi dan lagi, aku terperangkap dalam keheningan.

Tiga tahun telah berlalu. Namun, namanya masih kuingat detail di ingatanku. Raut mukanya, cara tersenyumnya, suara detakan langkahnya saat menuju kelas, dan kisah-kisah yang dia tuturkan, masih kusimpan rapi dalam ingatanku. Jika Andrea Hirata memiliki seorang guru seperti Bu Mus, maka aku pun memiliki seorang guru bernama Pak W****.

Menyebut nama beliau, menyisakan getaran rindu padanya. Rindu seorang murid pada gurunya. Seorang anak pada ayahnya. Akan kuceritakan kisah ini pada bagian lain, entah kapan.

Sepertinya, aku sudah bisa bernafas lega meskipun sedikit. Aku berhasil mengusir keheningan dengan suara ketikanku. Mungkin saat ia kembali, aku akan menulis lagi. Apa yang harus kukatakan? bersyukur pada keheningan atau membencinya?

 

  • view 162