Gemuruh Rindu di Malam sebelum Idul Adha

Gemuruh Rindu di Malam sebelum Idul Adha

Ainhy Edelweiss
Karya Ainhy Edelweiss Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 September 2016
Gemuruh Rindu di Malam sebelum Idul Adha

Aku menepi di beranda rumah lantai dua tempat dimana aku tinggal selama kuliah. Sudah tiga tahun aku meninggalkan kampung halaman yang corak dengan ketabahan dan gotong royong para tetangga. Aku duduk termangu menopang dagu melihat bintang-bintang di langit.

Sayangnya tak kulihat banyak bintang di langit. Aku lupa ini baru pukul 07.30 pm. Rumah kontrakanku tak jauh dari kampus, hanya bersebelahan itu pun terpisah oleh  satu dinding kokoh dan tinggi. Tak sampai tiga menit aku tiba di kelas. Selama kuliah, semuanya berjalan lancar. Hanya satu yang kurang. Rindu untuk pulang.

Gemuruh suara gendang dan takbiran membuat nadiku berdenyir. Terbayang sosok Ayah yang biasanya bersibuk-sibuk dengan ibu menyiapkan segala makanan untuk penjamuan tamu saat hari raya, pun tak lupa mereka sisihkan untuk para tetangga terdekat. Biasanya aku hanya membantu ibu sesekali di dapur.

Bayangan akan mereka timbul begitu saja ketika mendengar suara takbir menggema di rumah kontrakanku. Sedang apa mereka di sana? aku ingin pulang. Sayangnya, tak ada rumah lagi bagiku untuk pulang. Jadi untuk apa pulang jika tak ada rumah lagi untuk pulang? Ayah ibu? sedang apa mereka di rantauan? Adikku? aku betul-betul kagum pada adikku yang masih sanggup merayakan idul adha sendiri. Apa mungkin dia sama seperti aku? bergumam di beranda rumah, dan terdiam karena rindu menyuluh hatiku begitu dalam? entahlah.

Aku beristigfar beberapa kali. Terkadang aku kalut saat mendapati situasi yang seperti ini. Merayakan momen-momen penting tanpa hadir di tengah-tengah keluarga. Apalagi saat melihat temna-teman yang pada sibuk mudik di kampung masing-masing. Sungguh, aku sangat iri dengan mereka.

Mengapa aku sendiri di sini? aku juga ingin mencium tangan kedua orangtuaku setelah shalat idul adha, akupun juga ingin mencicipi masakan ibu di dapur, merasakan aroma dan asapnya mengepul di dapur. Aku juga ingin membantu ayah menyiapkan segala keperluan hari raya, mungkin membantunya mengambil kelapa di kebun, atau membantunya menganyam ketupat.

Tapi semua hanyalah bayang masa lalu. Mengingatnya hanya akan menambah peluh rindu di hatiku.

Sekali lagi aku melihat bintang-bintang di langit, mencari-cari satu bintang yang sendirian. Aku melihat satu bintang di ujung sana, ia sendirian. Terpisah bersama bintang-bintang lain. Tapi, hey lihat. Ada juga bintang-bintang lain yang sendirian, mereka terpisah jarak. Mugkinkah itu sama seperti diriku? Tak hanya aku yang mengalami, mungkin ada orang lain di luar sana yang juga menelan getirnya rindu di malam sebelum idul adha. Atau mungkin juga ada yang lebih parah.

Kamu benar. Aku tak sendiri. Tak seharusnya aku bertopang dagu di beranda rumah ini. Aku memang rindu dengan mereka. Rindu karena suara takbir mengingatkanku pada suasana kampung halaman, senyuman ayah-ibu, dan kebandelan adikku.

Aku segera bangkit dari tempat dudukku di beranda rumah. Bukan saatnya bertopang dagu lama-lama. Malam ini biarlah suara gemuruh takbir menyulut rinduku pada mereka. Saatnya ikut bertakbir. Biarlah dalam takbir suara rinduku menyelip di antara takbir-takbir malam sebelum hari raya idul adha. Agar mereka tahu, bahwa aku juga rindu.

Namaku Alyssa. Karena melanjutkan sekolahku di ibu kota, aku terpaksa meninggalkan kampung halaman. Sudah tiga tahun aku di sini. Itu berarti sudah enam kali perayaan idul fitri dan idul adha kurayakan tanpa mereka di sisiku.Aku juga tak bisa pulang.  Ayah-ibuku sama dengan diriku. Mereka ada di tanah orang nun jauh di sana. Bedanya mereka berpeluh keringat di sana karena kerja, dan di sini, aku pun berpeluh keringat karena berfikir. Setidaknya pada saat aku betul-betul belajar.

Selamat hari raya idul adha, mama papa. I love you. Maafkan anakmu ini.

 

 

 

  • view 407