Suara Hati yang Terabaikan

Ainhy Edelweiss
Karya Ainhy Edelweiss Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 07 September 2016
Suara Hati yang Terabaikan

Aku sebenarnya tertarik dengan dunia kepenulisan. Sejak kecil, saat SD dahulu, aku bahkan menulis semua mata pelajaran sampai semester depan malah. Hmm...  itu terlalu rajin apa gimana sih. hehehe

Aku menyebut diriku sebagai gadis yang memiliki cita-cita yang tinggi. Ingin jadi penulis dan kuliah di luar negeri. Terbilang waw kata ibuku. Waktu datang silih berganti, musim hujan, lalu musim kemarau. Tak banyak yang bisa kulakukan selain menuliskan semua perasaanku di dalam buku diaryku. Sesekali aku membuat cerpen yang menurutku masih abal-abal.

Mimpi untuk menjadi penulis itu perlahan memudar, diganti dengan mimpi-mimpi yang lain. Aku tak tahu apakah aku pantas menyebutnya sebagai sebuah mimpi. Sebab ia datang melalui logika berfikirku. Bukan pada hasratku yang menggebu-gebu.

Bersama sahabatku, kami melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi di ibu kota tempatku tinggal. Mimpi yang lahir ari logikaku itulah yang menggiringku mendaftar di kampus itu. Sangat berbeda dengan mimpiku dulu. Penulis. Tak ada pelajaran untuk seni apalagi sastra. Tak ada yang pernah menyinggung duniaku, dunia kepenulisan, dunia dimana seseorang bisa menulis seolah-olah melukis.

Dan mimpi yang lahir dari hasratku itu bukan lagi memudar. Tapi punah dalam lingkaran duniaku. Aku bergelut dengan dunia baruku. Melakukan rutinitas yang berulang-ulang setiap harinya. Kampus-kos, kos-kampus. Begitu seterusnya. Aku tak pernah lagi tampil eksis di kalangan teman-temanku atau dunia kampus baruku. Aku betul-betul menutup diri. Entah lingkungan yang membentukku sedemikian rupa ataukah tak ada lagi hasrat menggebu-gebu dalam diriku.

Tiga tahu telah berlalu. Tak ada yang berubah. Kau tahu, aku merasa hidupku sangat tak berarti. Tak ada pencapaian yang kuraih selama tiga tahun terakhir. Saat melihat diriku di depan cermin, aku baru menyadari satu hal. Aku telah berjalan seperti skeleton. Seperti jasad tanpa ruh.

Hingga tiba, dimana aku merasa jatuh di jurang yang paling dasar. Jatuh ke dalam terpelosok. Gelap. Pekat. Aku sendirian.

Hanya satu yang tersisa. Suara hatiku. Ia memanggil namaku dengan lembut. Semula aku mengabaikannya. Suara itu... suara yang selama ini kuabaikan. Suara yang bersama mimpi-mimpiku dulu kukunci rapat-rapat.

Suara itu berbisik pelan, terasa hangat. Ia yang tanpa kumintai pendapat, menyiramiku dengan petuah-petuah yang sering aku simak dulu. Aku seolah berbicara dengan  diriku sendiri.

"Bangkitlah... bangkitlah... dirimu jauh lebih kuat dari yang kau bayangkan. Jika kau ingiin memusnahkan mimpi-mimpimu, pastikan kau pergi musnah bersamanya. Tapi tidak. Jangan sia-siakan dirimu yang mustahil ikut punah bersama mimpi-mimpimu. Tak ada pilihan lain selain bangkit!"

Aku menyeka ujung mataku yang basah. Menimbang-nimbang setiap kata yang diucapkan suara itu. Suara yang muncul dari dasar hatiku. Suara yang selama ini aku buang jauh-jauh dalam diriku. Justru suara yang masih berbelas kasih menolongku.

 

  • view 378